Korban teror di AleppoLiputanIslam.com — Ketika AS dan sekutunya melancarkan agresi militer atas Suriah, dr. Nabil Antaki bisa saja meninggalkan Aleppo untuk menyelamatkan diri. Namun ia memilih tetap tinggal, untuk melayani penduduk yang masih terkepung di kota itu dengan bekerjasama dengan berbagai badan amal lokal. Namun kali ini, ia tergerak mengungkapkan kesaksian atas kerusakan yang telah disebabkan oleh milisi bersenjata di Suriah.

Kesaksian ini dicatat oleh Silvia Cattori, seorang jurnalis asal Swiss. Diterjemahkan dari Bahasa Perancis oleh Vanessa Beeley.

“Sehubungan dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Aleppo, saya menyatakan dengan jelas bahwa media mainstream telah berbohong dan lalai. Sejak awal perang di Aleppo yang dimulai pada 4 tahun yang lalu, mereka secara konsisten tidak melaporkan semua fakta.

Kami semua di Aleppo merasa muak dengan keberpihakan dan kurangnya objektivitas. Mereka hanya bicara tentang nyawa-nyawa yang hilang di Aleppo timur – yang wilayah ini dikendalikan oleh Jabhat Al Nusra, kelompok teroris yang beraffiliasi dengan Al Qaeda (mereka menyebutnya sebagai “pemberontak moderat”), sebuah gelar yang tidak tidak layak disandang.

Media yang sama tetap diam atas kerugian dan penderitaan yang dialami oleh penduduk di wilayah Aleppo barat, yang hidup di bawah hujan mortir dari faksi-faksi teroris. Media-media ini tidak pernah menyebutkan tentang blokade yang dilakukan teroris, atau pemutusan listrik, kekurangan air, yang disebabkan oleh “pemberontak moderat” yang mereka dukung.

Media ini tidak pernah menyebutkan pengeboman terus menerus yang kami saksikan di Aleppo barat. Setiap hari kami menyaksikan puluhan orang dibunuh.

Apa yang mereka lalaikan? Daerah Aleppo barat dihuni sekitar 75% dari total penduduk Aleppo. Ada sekitar 1,5 juta orang di sini. Bandingkan dengan jumlah Aleppo timur yang dihuni oleh 300.000 ribu penduduk.

Namun media menciptakan narasi yang berbeda. Mereka berusaha meyakinkan bahwa faksi-faksi teroris yang menyerang kami adalah korban. Bahkan yang lebih menjijikkan, media-media mendistorsi slogan “Save Aleppo” yang kami lontarkan. Seolah-olah, “Save Aleppo” adalah seruan kami kepada Assad dan Tentara Suriah untuk menghentikan perlawanan.

Semua itu palsu. Dan harus kami tekankan, bahwa mereka bukan “pasukan Assad”, melainkan adalah tentara nasional Suriah yang membela negaranya.

Media Barat dan Teluk seharusnya menunjukkan sedikit moralnya untuk menyebutkan pembantaian teroris terhadap penduduk. Contohnya, pada shalat Jumat minggu kemarin, salah satu mortir dari teroris menargetkan masjid!

Media-media menuduh bahwa “rezim Assad” mengebom rumah sakit MSF [Medecins sans Frontieres] di Aleppo timur dan membunuh dokter anak. Artinya, bagi media-media mainstream ini, yang menjadi prioritas dan layak diberitakan hanyalah di kota-kota yang dikuasai teroris.

Tiga perempat Aleppo (bagian barat) berada di bawah kendali pemerintah Suriah, dan banyak dokter anak yang memberikan pelayanan dengan mempertaruhkan nyawa – namun mereka tidak pernah diliput oleh media-media ini. Kami menyaksikan keberpihakan yang sama ketika Rumah Sakit Al Kindi, yang merupakan rumah sakit terbesar di Aleppo, dihancurkan oleh teroris sekitar 2-3 tahun lalu. Dan media-media mainstream juga mengabaikan kejahatan ini.

Kami berkecil hati dan muak dengan disinformasi yang terjadi terus menerus.

Nabil Antaki
30 April 2016. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL