Foto: akmal kamil

Foto: akmal kamil

LiputanIslam.com — Sudah berkali-kali postingan yang menyudutkan Syiah dan sudah berkali-kali pula salah satu anggota group ini mengingatkan untuk tidak melakukan hal yang sama. Namun tetap saja terjadi.

Saya ingin sharing pengalaman sedikit. Awal bulan oktober lalu saya menghadiri pameran buku terbesar dunia di Frankfurt, Jerman.

Apa yang spesial? Iran melakukan protes dengan mengosongkan standnya yang sudah dibayar 300 ribu euro setara 5 milyar rupiah. Apa sebab? Sebabnya ialah panitia mengundang Salman Rushdi yang menistakan nabi Muhammad tepat satu minggu sebelum acara tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari. Salman Rushdi adalah penghina nabi sehingga dijatuhi hukuman mati oleh Imam Khumaini. Iran mengklaim penghinaan terhadap nabi Muhammad saw laksana menghina satu milyar lebih umat Islam.

Uang, kelelahan, waktu, dst, tak sebanding dengan kemuliaan Nabi Muhammad saw. Karenanya Iran menunjukkan kepada dunia bahwa Nabi Muhammad memiliki kedudukan paling mulia di sisi Tuhan sehingg tak layak dikotori.

Stand Iran memberikan secara gratis biografi Nabi Muhammad yang ditulis berbahasa Inggris sehingga bisa dibaca oleh siapa pun agar tahu sejarah, teladan, kemuliaan sang nabi. Dengan harapan orang tahu siapa Nabi Muhammad panutan umat Islam sebenarnya.

Kebebasan berbicara dan berekspresi tak boleh digunakan untuk merendahkan martabat manusia lain.

Stand Iran juga memberikan contoh sampul Alquran yang salah satu kalimatnya lebih kurang bahwa Alquran terjaga dan terhindar dari segala perubahaan oleh campur tangan manusia, siapa pun dia.

Saya bertanya pada seorang penjaga yang fasih berbahasa Inggris, Jerman dan tentu Farsi. Pertanyaan saya, “Sebagian saudara saya mengatakan nabi kalian adalah Ali?”

Jawabnya: “Nabi kita sama, Muhammad.”

Dia memberi saya poster bertuliskan I Love Muhammad. Poster ini memang bertumpuk untuk diberikan kepada siapa saja yang melintas.

foto: akmal kamil

foto: akmal kamil

“Bukankah fatwa hukuman pada penghina nabi sudah puluhan tahun lalu?”

“Masih tetap berlaku,” katanya.

“Saya kagum dengan keteguhan kalian berani melawan Barat.”

“Ya sudah 30 tahun kami diembargo barat tapi tetap bertahan,” ujar penjaga stand.

Tampaknya Iran tak hanya menjadi musuh dan kebencian Barat tapi juga Timur.

Dengan kejadian di Frankfurt 17 oktober lalu saya tersadar bahwa saya tidak boleh serta merta menelan informasi dan hasutan dari siapa pun tanpa bertanya pada yang bersangkutan. Kalau Tuhan nya sama, nabinya sama, kitab sucinya sama, kiblatnya sama, apalagi yang mesti saya takutkan.

Wassalam
Basyrah Nasution

Disalin dari akun Facebook Akmal Kamil.

—–

Tambahan redaksi:

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ruhullah Khomeini pada 1988 mengeluarkan fatwa mati terhadap Rushdi, warga negara Inggris penganut Islam dan kini menetap di Amerika Serikat, setelah Ayat-ayat Setan diterbitkan. Khomeini bersama para pemimpin muslim dunia menilai Rushdie telah menggambarkan Nabi Muhammad secara tidak sopan dalam novel keempatnya itu.

Karena fatwa mati itu, Rushdi terpaksa bersembunyi. Pemerintah Inggris kemudian menempatkan dia dalam penjagaan ketat polisi. Beberapa tahun belakangan dia kerap menghadiri acara berkaliber internasional meski kadang suka membatalkan kehadirannya di menit-menit akhir.

Khomeini wafat pada 1989 tapi penggantinya Ayatullah Ali Khamenei pada 2005 menegaskan fatwa mati buat Rushdi itu tetap berlaku.

Sebuah yayasan keagaaman Iran, Khordad Foundation menghargai kepala penghujat Islam itu sebesar 3,3 juta dolar AS (sekira Rp 31 miliar). Jumlah ini meningkat hampir enam kali lipat setelah sebelumnya kepala Salman hanya senilai 500 dolar AS.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL