perundingan nuklir iranWina, LiputanIslam.com – Perundingan nuklir Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman yang tergabung dalam P5+1 tampak tetap berjalan alot, sebagaimana diisyaratkan dalam pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Jawad Zarif.

Dalam keterangan kepada situs berita al-Monitor yang dikutip Alalam Jumat (3/7) Zarif mengatakan Amerika Serikat (AS) silakan memilih antara sanksi terhadap Iran dan mencapai kesepakatan nuklir secara komprehensif dengan Iran.

“Iran telah mengambil keputusan strategis melalui interaksi dengan P5+1 untuk mengatasi persoalan nuklir, mengingat pentingnya masalah ini, bukan bagi mereka saja, melainkan juga bagi negara-negara regional dan dunia, dan dari sini Iran mengerahkan segenap upayanya untuk mencapai kesepakatan nuklir,” terangnya.

Dia mengingatkan bahwa “garis merah” yang sudah ditetapkan oleh Pemimpin Revolusi Islam Iran Grand Ayatollah Ali Khamenei sudah menjadi ketetapan Iran sejak awal ketika memasuki perundingan.

Dalam ketentuan itu Khamenei menegaskan Teheran pantang menerima inspeksi terhadap markas-markas militer.

Mengenai pendirian sejawatnya dari AS, John Kerry, Zarif mengatakan bahwa dia menyadari adanya dua pilihan bagi AS tersebut.
Secara terpisah, ungkapan senada juga dilontarkan oleh perunding nuklir Iran Abbas Araghci. Sebagaimana dilansir Alalam, dia mengatakan memang ada rambu-rambu merah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh pihak Barat.

“Sudah kami tegaskan secara gamblang bahwa sebagian persoalan merupakan hal yang prinsipal bagi Iran dan tergolong sebagai garis merah yang jika tidak diindahkan maka kesepakatan tidak akan tercapai,” tuturnya.

Perundingan nuklir Iran terbengkalai antara lain oleh keinginan Barat supaya sanksi terhadap Iran dihapus secara berkala jika beberapa syarat terpenuhi, namun Iran meminta penghapusan dilakukan sekaligus.

Kemudian, Barat juga menghendaki PBB dan IAEA juga memeriksa markas-markas militer. Hal ini juga ditentang keras oleh Teheran.
Perundingan nuklir Iran bertele-tele sejak 2002. Barat mencurigai Iran berusaha membuat bom nuklir, namun Iran selalu membantah dan menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata bertujuan damai. Pemerintah dan rakyat Iran bersumpah akan tetap mempertahankan haknya menjalankan program nuklir tujuan damai. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL