Ghadaffi Berdoa

Ghadaffi Berdoa

LiputanIslam.com –  Tentunya, memang banyak pihak yang berusaha menggiring opini,  menjauhkan berita dari fakta, menyesatkan informasi atas nama kemurnian agama, dan menyebarkan hoax atas nama sunnah. Itulah yan terjadi di Irak, di Timur Tengah, dan di seluruh dunia. Saban hari, kita dibanjiri informasi yang kusut masai, dan selalu harus diurai.

Adalah Ikhwanul Kiram, kolumnis di Republika Online, yang hari ini turut serta ambil bagian sebagai pihak yang berusaha meyakinkan bahwa Sunni-Syiah bermusuhan, dalam artikelnya yang berjudul “Derita Panjang Muslim Sunni di Irak”. Berikut ini adalah tanggapan Liputan Islam bagian ketiga, yang pertama bisa dibaca di sini. Bagian kedua bisa dibaca di sini.

Muammar Ghadaffi telah berpulang, ia gugur saat pasukan NATO memborbadir Libya. Negara yang ditinggalkannya, kini tak lebih dari sebuah negara yang “hampir gagal” lantaran kondisi perekonomian, keamanan dan politiknya tengah kacau balau.

Dulu Arrahmah, bersorak kegirangan saat Ghadaffi jatuh. Dalam artikelnya yang berjudul “Runtuhnya rezim Ghaddafi dan Strategi Al Qaeda Menjebak Amerika” Arrahmah menyebutkan:

“Selama 42 tahun berkuasa, ribuan aktivis dakwah dan jihad dibantai oleh diktaktor toghut sekuler-sosialis yang sangat membenci syariat Islam ini. Bahkan, untuk mengganti penerapan syariat Islam, Ghadaffi menerapkan undang-undang dasar sekuler bernama Al-Kitab Al-Akhdar. Lihatlah kesudahan pemimpin yang anti syariat Islam dan tidak mau menerapkan syariat Islam!”

Namun, kesaksian yang berbeda datang dari Ustadz Arifin Ilham. Dalam pernyataan beliau di jejaring sosial, Ghadaffi justru di mendapatkan kesan-kesan possitif di hatinya.

“Alhamdulillah, sudah 3 kali ke Libya, dan 2 kali shalat berjamaah di lapangan Moratania dan lapangan Tripoli. Shalat berjamaah yang dihadiri 873 ulama seluruh dunia dan rakyat Libya, dengan imam langsung Muammar Ghodaffi, bacaan panjang hampir 100 ayat Al-Baqarah, sebagian besar jamaah menangis. Sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku-suku Afrika, dan dakwah beliau selalu mengingatkan tentang ancaman Zionis & Barat, pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghanistan & Irak. Inilah kesanku pada almarhum, sahabatku fillah.”

Krisis Suriah telah berlangsung selama tiga tahun lebih. Dari catatan PBB, 190.000 jiwa telah melayang selama konflik. Tiga juta penduduk mengungsi di negara-negara tetangga seperti Yordania, Lebanon dan Turki. Berbagai faksi teroris bermunculan, dan berdatangan para petempur dari seluruh negara untuk ‘berjihad’ di Suriah.

Para ulama dan tokoh-tokoh lintas negara yang menyerukan jihad ke Suriah, menggunakan pola yang hampir sama, yaitu untuk melawan pemerintah/ rezim yang dianggap diktator. Namun karena tidak berhasil menggulingkan pemerintah yang sah, perlahan seruan jihad berubah. Kini Assad disebut sebagai Syiah, dan kadang, disebut mengaku sebagai tuhan yang minta disembah. Pemberontakan atas ‘rezim Syiah’ yang sesat, kafir, membantai Sunni, dianggap sebagai sebuah jihad yang mulia, dan karenanya, kaum Muslimin harus mendukung.

Kedua skenario perlawanan terhadap penguasa yang mengatas-namakan jihad terhadap diktator, terhadap thagut, ataupun terhadap Syiah, adalah cara-cara yang lazim digunakan kaum Takfiri untuk menumpahkan darah di negara-negara mayoritas Muslim. Hanya saja, apakah setelah rezim yang diperangi berhasil dijatuhkan (sebagaimana yang terjadi di Libya), lalu syariat Islam bisa ditegakkan dan rakyat hidup lebih sejahtera? Fakta berkata tidak demikian.

Pola analisis yang sama, juga digunakan oleh Ikhwanul Kiram. Dalam uraiannya, ia menyampaikan berbagai derita Muslim Sunni dibawah kepemimpinan seorang Syiah, dan karenanya alasan ini digunakan oleh kelompok Sunni untuk mengangkat senjata melawan pemerintah.

Sayangnya, alibi yang menjadi legitimasi untuk angkat senjata melawan pemerintah yang sah, terbukti telah membawa kehancuran baik di Irak, di Libya, maupun di Suriah. Apalagi, kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) juga mengklaim sebagai Sunni, dan perjuangan mereka juga mengatas-namakan Sunni. Apakah karena pemerintah kejam, lalu dibenarkan untuk mengangkat senjata dan berperang hingga menyebabkan kehancuran? Kenyataannya saat ini, kita justru disuguhi pemandangan mengerikan dari kelompok-kelompok militan yang mengaku sebagai “Mujahidin”, yang tak segan-segan memamerkan penyembelihan di depan kamera. Yang kini terjadi justru sebaliknya, mayoritas warga sipil justru lebih menderita dengan keberadaan kelompok “Mujahidin”, dan mereka memilih mengungsi untuk menyelamatkan diri.

Ulama Sunni dan Syiah di Irak  Tolak Perseteruan Mazhab

Pada bulan Ramadhan 2013, perhimpunan ulama besar Sunni dan Syiah di Irak menyuarakan penolakan mereka terhadap segala bentuk kekerasan dan kerusuhan di dalam tubuh Islam. Mereka menegaskan bahwa betapa besarnya ancaman yang dihadapi Islam saat ini. Barat tengah berusaha mengadu domba kaum Muslimin dan untuk memberikan solusi, ulama Sunni dan Syiah menandatangani Dokumen Baghdad. Yang isinya:

1. Mengharamkan peperangan di antara sesama muslim.
2. Dilarang mengeluarkan hasutan kebencian dalam khotbah/ mimbar agama.
3. Menolak fatwa dari Takfiri.

“Kami sebagai rakyat Irak, baik Syiah maupun Sunni berjanji kepada Allah di bulan Ramadhan ini untuk menolak segenap ekstremisme dari manapun asalnya, kami berjanji akan bergandeng tangan merealisasikan ukhuwah di dalam bernegara, dan saling tolong-menolong.” Video: http://www.youtube.com/watch?v=VuSNsH1TSZo

Ketika ulama-ulama di Irak baik Sunni dan Syiah menyerukan untuk bersatu dan menolak adanya peperangan dan hasutan kebencian antara sesama Muslim, Ikhwanul Kiram di Indonesia masih saja istiqomah dengan pekerjaannya yang mengobarkan isu sekterian. Dokumen Bahgdad ini, bisa dipastikan tidak pernah didengar olehnya.

Namun dengan membaca analisis-analisisnya yang bermuatan propaganda di media sekaliber Republika Online, paling tidak, kita akan mengetahui siapa jati diri dari seorang Ikhwanul Kiram. Sebagaimana petunjuk dari Habib Ali Al-Jufrie, barangsiapa yang berusaha meyakinkan bahwa Sunni-Syiah bermusuhan, maka dia-lah, musuh umat Islam yang sebenarnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL