Sunni Syiah shalat bersama/ radiosilaturahim.com

Sunni Syiah shalat bersama/ radiosilaturahim.com

LiputanIslam.com — Tentunya, memang banyak pihak yang berusaha menggiring opini,  menjauhkan berita dari fakta, menyesatkan informasi atas nama kemurnian agama, dan menyebarkan hoax atas nama sunnah. Itulah yan terjadi di Irak, di Timur Tengah, dan di seluruh dunia. Saban hari, kita dibanjiri informasi yang kusut masai, dan selalu harus diurai.

Adalah Ikhwanul Kiram, kolumnis di Republika Online, yang hari ini turut serta ambil bagian sebagai pihak yang berusaha meyakinkan bahwa Sunni-Syiah bermusuhan, dalam artikelnya yang berjudul “Derita Panjang Muslim Sunni di Irak”. Berikut ini adalah tanggapan Liputan Islam bagian kedua, yang pertama bisa dibaca di sini.

Apakah Hanya Muslim Sunni yang Menderita?

Seringkali disampaikan, bahwa peluru, mesiu, roket, dan semacamnya, adalah senjata pemusnah yang tidak memilki mata. Senjata-senjata tersebut tidak bisa membedakan apakah rumah yang dilaluinya adalah milik Muslim Sunni, Syiah, Kurdi, Druze, Kristen, Yazidi ataupun Alawi. Sehingga ketika terjadi peperangan di suatu wilayah, terlalu naif jika menyatakan hanya kelompok ini yang menjadi korban, sementara kelompok lainnya selamat.

Ataukah Ikhwanul Kiram menyangka, bahwa roket-roket tersebut akan menyapa penduduk dengan pertanyaan seperti  “apa agama Anda”, “apa etnis Anda” terlebih dahulu sebelum meledak? Tentunya tidak demikian. Namun yang pasti, konflik panjang di Irak telah menyebabkan semua penduduk Irak dari berbagai kelompok merasakan penderitaan yang sama.

Catatan Pembantaian Saddam Hussein

Dari catatan Wikipedia yang diolah dari berbagai sumber, pada tahun 1988, rezim Hussein mulai melakukan pembasmian terhadap orang-orang Kurdi yang tinggal di Irak Utara. Hal ini dikenal sebagai Anfal campaign. Ini ditujukan  besar diarahkan pada Syiah Kurdi yang memihak Iran selama Perang Irak-Iran. Serangan mengakibatkan kematian sedikitnya 50.000 (beberapa laporan memperkirakan sebanyak 182.000) orang, banyak dari mereka wanita dan anak-anak.

Sebuah tim peneliti Hak Asasi Manusia, setelah menganalisis delapan belas ton dokumen Irak, pengujian sampel tanah dan melakukan wawancara dengan lebih dari 350 saksi, dinyatakan bahwa serangan terhadap orang-orang Syiah Kurdi merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia, termasuk eksekusi massal dan pemusnahan puluhan ribu warga sipil, meluasnya penggunaan senjata kimia seperti Sarin, gas mustard dan agen saraf yang menewaskan ribuan orang. Rezim Saddam juga memenjarakan sewenang-wenang puluhan ribu wanita, anak-anak, dan orang tua selama berbulan-bulan dalam kondisi kekurangan. Aksi keji Saddam lainnya seperti pemindahan paksa ratusan ribu penduduk desa, dan penghancuran masal hampir dua ribu desa berikut sekolah-sekolah, masjid, lahan pertanian dan pembangkit listrik.

Pada bulan April 1991, setelah Saddam kehilangan kontrol Kuwait dalam Perang Teluk, ia menindak kejam terhadap warga Kurdi di utara dan Syiah di wilayah selatan. Pasukannya melakukan pembantaian besar-besaran dan pelanggaran HAM berat lainnya sebagaimana pelanggaran yang disebutkan diatas. Perkiraan kematian selama rentang waktu dari 20.000 sampai 100.000 untuk etnis Kurdi, dan 60.000 sampai 130.000 untuk Muslim Syiah.

Pada akhir 2003, Saddam Hussein ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Amerika Serikat. Irak melakukan pemilu legistlatif pada tahun 2005, dan sejak itu Irak diwarnai dengan berbagai aksi terorisme seperti bom bunuh diri, yang terjadi setiap saat di kawasan perumahan penduduk, ataupun di jalan-jalan.

Pada tanggal 22 Februari 2006, bom meledak di Masjid Al Askari yang menyebabkan kerusakan besar. Hasan Al-Askari adalah salah salah satu dzuriyat Nabi Saw yang diyakini sebagai salah satu imam bagi mazhab Syiah. Siapa yang menjadi korban dalam ledakan bom tersebut? Mayoritas, kaum Syiah-lah yang ditargetkan, apalagi bagi kelompok teroris Takfiri, Syiah dianggap kafir dan halal darahnya.

Berbagai serangan terstruktur, sistematis dan masif yang dilancarkan oleh kelompok teroris di Irak pasca jatuhnya Saddam, yang menyasar penduduk sipil, sudah berulang kali diberitakan di Liputan Islam, bisa dibaca di sini dan di sini (dan masih banyak artikel lainnya). Negara 1001 malam itu, menjadi negara mencekam yang penuh dengan aroma darah.

Kota Mayoritas Sunni Jatuh,  Ayatullah Sistani Rilis Fatwa Jihad

Ikhwanul Kiram mengabaikan adanya fatwa jihad dari Ayatullah Sistani, salah satu marja Syiah terkemuka yang dirilis saat Mosul jatuh. Seperti diketahui, Mosul adalah salah satu kota terbesar di Irak dengan penduduk mayoritas Sunni. Berikut ini adalah kesaksian dari Syeikh Khaled al-Mala  Ketua Lembaga Jamaah Ulama (Sunni)  Irak.

Syeikh Khaled al-Mala menegaskan bahwa krisis keamanan dan maraknya kekerasan yang melanda Irak dipicu bukan oleh sektarianisme Sunni dan Syiah Irak, melainkan semata-mata akibat adanya ulah kelompok radikal dan teroris yang mengatasnamakan Islam dan sama-sama ditolak oleh kalangan Syiah maupun Sunni di Irak.

Pakar ilmu tafsir kelahiran Basrah, Irak selatan, itu  mengingatkan bahwa para ulama terkemuka Syiah di Irak mengeluarkan fatwa angkat senjata kepada para pengikutnya bukan ketika kaum Syiah menjadi korban keganasan kawanan ekstrimis pemuja kekerasan (kelompok Negara Islam Irak dan Suriah/ISIS) hingga jatuh banyak korban di kalangan Syiah, melainkan justru ketika ada kota Sunni yang jatuh ke tangan kawanan bersenjata yang disebutnya sebagai para penjahat najis tersebut.

“Setengah juta orang Syiah dibantai secara massal, tapi ulama panutan (marji’) Syiah tidak mengeluarkan fatwa jihad, atau fatwa perlawanan, atau fatwa angkat senjata terhadap pihak manapun,” ujarnya dalam sebuah dialog TV al-Mayadeen.

Dia menambahkan, “Majelis-majelis Husainiyyah dan masjid-masjid mereka dihancurkan, makam Imam Ali Hadi dan makam Imam Hasan al-Askari dibom, dan kelompok Negara Islam Irak pimpinan Abu Musa al-Zarqawipun menyatakan bertanggungjawab atas serangan itu, kemudian orang Tunisia dan kelompoknya itu ditangkap atas pemboman makam tersebut, dan pembantaian di Irak terhadap kelompok ini terus berlangsung, tapi para ulama Syiah tidak mengeluarkan pernyataan apapun.”

Dia lantas menjelaskan bahwa ulama terkemuka Syiah (Ayatullah Ali al-Sistani) angkat bicara dan mengeluarkan fatwa jihad justru ketika kota Mosul yang mayoritas penduduknya Sunni jatuh ke tangan ekstrimis bersenjata, dan fatwa itu keluar lebih dengan semangat moral kebangsaan, bukan semangat partisan, sehingga fatwa jihad melawan ISIS itu mendapat sambutan dari semua warga dan suku Syiah maupun Sunni, termasuk di Hadithah, Qaim, Fallujah dan Baghdad.

“Sekarang,” katanya saat menyinggung keganasan ISIS, “kaum wanita Mosul diperkosa, gereja-gereja dihancurkan, para ulama yang menentang perilaku para penjahat najis dan pelaku perusakan di muka bumi itu dibunuhi.”

Rekaman video beserta subtitel bahasa Indonesianya dapat disaksikan di sini:http://www.youtube.com/watch?v=cjaql9A5-m4&feature=youtu.be (ba)

Bersambung ke bagian ketiga.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL