Twitter dari Para Teroris

LiputanIslam.com–Selain CNN dan media ‘resmi’, para pengguna Twitter pun sangat berperan dalam menggalang opini publik mengenai serangan gas kimia di Idlib. Di antara provokasi Twitter itu dilakukan oleh orang-orang yang justru berlumuran darah perang Suriah.

Ini adalah tweet dari Mohammed Mustafa Alloush, milisi Jaish Al Islam, yang saat itu berada di Turki. Jurnalis Suriah, Maytham Al Askar menyindir Alloush, “Teroris Mohammed Alloush dari kamar hotelnya di Turki mampu mengindetifikasi jenis senjata kimia yang dituduhnya dipakai oleh Tentara Suriah di Idlib.”

Mohammed Alloush adalah anggota milisi Jaish Al Islam. Ia adalah saudara dari Zahran Alloush, yang sebelum tewas adalah pemimpin kelompok teror tersebut. Mereka adalah pelaku pembantaian di kota Adra pada akhir tahun 2013 (tepatnya tanggal 11 Desember).  Mereka awalnya menyerang kantor polisi dan membunuh semua aparat yang ada di dalamnya. Mereka kemudian melanjutkan serangan ke Klinik Umum, dimana mereka memenggal kepala seorang perawat yang dituduh pro-Assad, lalu kepalanya digantung di sebuah pohon di pasar Adra. Kemudian, kepala-kepala terpenggal lainnya ditambahkan di pohon itu.

Bana Al Abed, anak berusia 7 tahun yang diberitakan berada di Turki, juga ikut serta dalam propaganda soal kejadian di Idlib ini. Bana menyebarkan foto-foto dan mencuit, “Wahai dunia, hari ini anak-anak dibunuh dengan senjata kimia di Idlib. Malulah kalian para pembunuh!”

Saat berada di Aleppo timur, Bana menjadi terkenal ke seluruh dunia berkat cuitan di Twitter-nya. Meski kemudian diketahui bahwa orang tua Bana adalah anggota kelompok teroris, media massa mainstream tetap memberitakannya. (Baca: Bana Alabed dan Industri Hoax Suriah)

Lalu, reporter yang berafiliasi dengan milisi pemberontak, Feras Karam, bahkan mentweet 5 jam sebelum kejadian, mengatakan bahwa ‘besok akan melakukan liputan serangan senjata kimia.’

Dokter Hoax dari Idlib

Twitter yang paling populer dalam kasus Idlib adalah milik Dr. Shajul Islam. Beberapa hari sebelum hari kejadian Idlib, ia sudah men-tweet menerima bantuan masker gas, seolah sudah mengetahui bahwa beberapa hari kemudian akan ada kasus senjata kimia.

Lalu, pada hari kejadian, dengan segera ia men-tweet, menyatakan bahwa serangan yang terjadi adalah gas sarin. Padahal, ketika diamati berbagai video yang disebarkan oleh para ‘aktivis’ (alias anggota milisi teror di sana, karena Idlib adalah kota yang dikuasai teroris sejak beberapa tahun terakhir), kondisi korban jauh berbeda dari korban gas sarin di tempat lain (misalnya, korban serangan gas sarin AS yang terjadi di Vietnam, atau korban di Jepang). Dan luar biasa, di tengah kehebohan banjir pasien (seperti diklaim Dr. Shajul), ia masih sempat men-tweet dan menawarkan untuk melakukan wawancara video-call.

Shajul Islam diwawancarai oleh berbagai media internasional, namun media-media itu tidak mengungkapkan kepada pemirsa bahwa Shajul pernah diadili oleh pengadilan di Inggris atas kasus terorisme dan surat izin praktiknya sudah dicabut oleh General Medical Council setelah dilakukan pengadilan tertutup (khusus dokter).

Shajul dituduh terlibat dalam penculikan dua jurnalis yang sedang meliput di Suriah, yaitu John Cantlie (dari Inggris) dan Jeroen Oerlemans (dari Belanda). Namun kasusnya terpaksa ditutup karena kedua jurnalis itu tidak bisa hadir di persidangan untuk bersaksi. Setelah itu, Shajul segera kembali ke Idlib.

Shajul “melaporkan” kondisi di rumah sakit

Kemudian diketahui,  Cantlie telah diculik kembali, kali ini oleh ISIS bersama jurnalis AS, James Foley, sehingga tidak bisa hadir di pengadilan Inggris. Sementara itu, Oerlemans menolak hadir di pengadilan karena khawatir kesaksiannya akan membahayakan nasib Cantlie. Pada Oktober 2016, Oerlemans ditembak mati oleh ISIS di Libya, sementara  Foley dipenggal oleh ISIS (terungkap dalam video yang dirilis ISIS pada 2014). Sedangkan Cantlie belum diketahui kabarnya, kemungkinan masih dalam sekapan ISIS.

Pada  November 2016 ada laporan bahwa lembaga donasi “UK Action for Refugees” telah menggalang dana 50.000 Poundsterling untuk mendanai aktivitas Shajul di Suriah. (dw)

Bersambung ke bagian 4

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL