Peran CNN dalam Propaganda Serangan Gas Kimia

LiputanIslam.com–Pada Selasa, 4 April tak lama setelah kejadian (kejadian di Khan Sheikhoun diklaim pukul 6:24 pagi atau sekitar pukul 11 WIB) , CNN mulai memberitakannya. Meskipun CNN menyatakan bahwa “berita ini belum terkonfirmasi” website-nya terus mengupdate berita tentang kasus ini rata-rata 10 menit sekali dengan mengandalkan laporan dari “jihadis”.

Pada hari yang sama (4 April), New York Times juga merilis berita yang ditulis dua jurnalis yang mengaku melaporkan dari Beirut. Namun isi beritanya hanya mengandalkan narasumber dari  pihak oposisi dan foto serta video yang diunggah ‘aktivis’ di internet.

Baik CNN, NYT, dan semua media mainstream lainnya, menyuarakan ‘koor’ bahwa pelaku serangan tersebut adalah pihak Assad dan menekan pemerintah AS agar segera melakukan tindakan terhadap Suriah.

Bila video-video yang disebar hari Selasa memperlihatnya jasad-jasad (tewas), mulai Rabu malam, video-video baru bermunculan, yaitu anak-anak yang sesak nafas. Video ini jelas sangat mengerikan dan membangkitkan emosi. Namun, belum menunjukkan siapa pelakunya. Kondisi anak-anak itu adayang  mirip seperti kelinci yang dalam eksperimen yang dilakukan FSA pada 21 December 2012 yang sesak nafas akibat menghirup gas beracun. Dalam video itu, FSA mengancam akan melepas racun itu di mata air Alsinn, sumber air utama di Latakia. PBB menolak permintaan Suriah untuk menyelidiki kasus ini.

Namun ada juga terlihat anak-anak yang sehat namun dijejali masker asal-asalan (tidak terpasang dengan baik). Misalnya terlihat di screen-shot berikut:

Sumber-sumber yang digunakan CNN adalah dari Aleppo Media Center yang didanai oleh CIA, dan intel Perancis dan Inggris.  Ada pula laporan yang mengutip Idlib Media Center, yang memunculkan kejanggalan, bagaimana orang bisa melaporkan dari lokasi yang sedang mengalami serangan senjata kimia secara leluasa (apalagi dengan keterbatasan internet dan listrik).

Sumber utama lain yang digunakan CNN (dan media mainstream lainnya) adalah SOHR, yang didanai oleh negara-negara Eropa, lembaga ini hanya ditangani satu orang dari sebuah apartemen di Inggris.

Berikut ini beberapa screen-shot berita CNN:

tim penolong tidak pakai masker; ada pula yang pakai masker kertas.

Dalam video yang ditayangkan CNN, tidak terlihat ada stetoskop dan ada beberapa orang menggunakan masker kain/kertas, yang tidak bermanfaat bila yang terjadi adalah serangan gas sarin.

Dalam kasus Idlib ini, narasumber adalah White Helmets, sebuah lembaga yang didanai AS dan Inggris, dan didirikan mantan militer Inggris yang terkait dengan Blackwater. CNN pada April 2013 pernah melakukan hal serupa ketika Christiane Amanpour mewawancarai Syrian American Medical Society (SAMS) yang bermarkas di Turki. SAMS memiliki dana tahunan 15 juta Dollar ini  memperlihatkan video yang belum terkonfirmasi, yang disebut sebagai korban senjata kimia. Saat diamati seksama, video itu, memperlihatkan keanehan, mulut korban terlihat menggigit sebuah tuba sehingga di mulutnya muncul busa (lihat foto)

Pada pukul 11:45 UTC, lima jam setelah CNN memulai propagandanya menyerang pemerintah Suriah dan berulang-ulang mengecam Presiden Trump yang semula menolak menggulingkan Assad, Juru Bicara Kepresidenan, Sean Spicer, akhirnya muncul di televisi. Ia membacakan pernyataan yang sudah disiapkan  dengan mengabaikan perlunya investigasi, serta berbagai kejanggalan yang sejak awal sudah bisa terlihat (baca bagian 1), Spicer mengatakan, “Serangan kimia yang terjadi hari ini, yang mengorbankan orang-orang tak berdosa, termasuk perempuan dan anak-anak, sangat terkutuk dan tidak boleh dibiarkan.  Aksi keji dari rezim Bashar al-Assad adalah akibat dari pemerintahan Obama yang lemah.  Presiden Obama mengatakan pada 2012 ia akan menetapkan “garis merah” melawan senjata kimia, namun dia tidak melakukan apa-apa.  AS bersama sekutunya di seluruh dunia mengutuk aksi yang tidak bisa ditoleransi ini.”

Pada 7 April, akhirnya AS mengirimkan 59 misil Tomahawk untuk menyerang Suriah sebagai upaya ‘menghentika kekejaman rezim Assad’.

“Tunduk”-nya Trump membuktikan apa yang pernah ditulis oleh Bahador dalam bukunya “CNN In Action” bahwa CNN dalam berbagai perang yang dilancarkan AS berperan sebagai pengatur agenda. Melalui pemberitaan masif, CNN menekan pemerintah AS untuk segera mengambil keputusan perang tanpa melakukan penyelidikan dengan seksama. Pada 2003, AS juga buru-buru menyerang Irak dengan alasan ada senjata pembunuh massal, dan akhirnya 2011, mereka mengakui bahwa sebenarnya tidak ada senjata tersebut. (dw)

(bersambung ke bagian-3)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL