LiputanIslam.com–Pada tanggal 4 April 2017 pagi hari, media massa dunia, juga para pengguna medsos, terutama Twitter, menyebarluaskan terjadinya serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun (Idlib, Suriah). Berita ini, disertai berbagai foto dan video yang memperlihatkan anak-anak dan orang dewasa terpapar senjata kimia, telah memprovokasi respon emosional di seluruh dunia. President Donald Trump pun berkomentar bahwa serangan tersebut telah mengubah total pandangannya atas konflik Suriah dan akan mengubah strateginya. Pada 7 April 2017, Trump telah memerintahkan militer AS menembakkan 59 unit misil Tomahawk ke pangkalan militer Suriah di Homs.

Meskipun media Barat dengan segera menuduh Bashar al-Assad sebagai pelaku serangan gas terhadap rakyatnya sendiri, bukti-bukti menunjukkan lokasi serangan bukanlah area penduduk dan bahkan merupakan gudang amunisi dan senjata kimia yang dikuasai milisi pemberontak.

Berikut ini beberapa fotonya:

ini bukan kawasan penduduk, ada bangunan kotak serupa gudang

 

terlihat ada mobil di dalam gua

Selain itu, kejadian ini berlangsung segera setelah kunjungan Senator AS, John McCain, yang sejak awal perang Suriah sudah memberikan dukungan terang-terangan kepada para “jihadis” dan datan diam-diam ke Suriah. Kunjungan McCain –tanpa izin pemerintah Suriah- adalah untuk bertemu dengan kelompok-kelompok  ‘jihadias’. Sementara itu, di Washington, para elit AS tengah memperdebatkan apa yang perlu dilakukan oleh AS dalam konflik Suriah. Serangan ini juga terjadi tak lama sebelum konferensi Uni Eropa di Brussel yang mendiskusikan masalah Suriah.

Berikut ini beberapa kejanggalan dalam kasus ini.

  1. Bukti Khan Sheikhoun Tidak Mendukung Berita Mengenai Serangan Udara Senjata Kimia

Pada 3 April 2017, Feras Karam, seorang “jurnalis” anti-Assad telah menulis di akun twitternya bahwa besok (tanggal 4) dia akan memulai kampanye media meliput serangan udara di pinggiran Hama, termasuk penggunaan senjata kimia. Tidak jelas bagaimana ia bisa tahu kejadian tersebut sebelum terjadi.

Dr. Shajul Islam, seorang dokter asal Inggris yang berada di Khan Sheikhoun, pada 1April 2017, menulis di akun Twitter-nya: ia telah menerima pengiriman masker untuk menghadapi serangan senjata kimia.

Daily Mail pernah melaporkan bahwa pemerintah Inggris telah menemukan kaitan antara Dr. Shajul Islam dengan kasus penculikan dua jurnalis di Suriah, agen keamanan Inggris telah menyatakan bahwa Islam dan saudaranya memiliki kaitan dengan jagal ISIS terkenal bernama “Jihadi John”. Pemerintah Inggris tidak memperpanjang kasus ini, namun dr Shajul sudah dipecat dari daftar dokter Inggris.

Selain itu, video dari kejadian tersebut, yang direkam oleh White Helmets memperlihatkan bahwa cara-cara yang mereka lakukan dalam penyelamatan korban tidak sesuai dengan protokol penyelamatan korban gas sarin (sebagaimana ditulis di Twitter Dr. Shajul Islam, serangan yang terjadi adalah serangan gas sarin). Foto-foto dan video memperlihatkan bahwa White Helmets menangani korban tanpa sarung tangan, hanya menggunakan masker sederhana, sebagian bahkan masker kertas.

Shajul Islam menyebut serangan “gas sarin”

 2. Milisi Pemberontak Diketahui Menyimpan Senjata Kimia

Pemerintah Suriah telah menyerahkan seluruh simpanan senjata kimianya kepada PBB untuk dimusnahkan, kecuali yang tersimpan di gudang di dua lokasi yang dikuasai oleh pemberontak Hal ini dilaporkan Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (badan PBB yang khusus menangani perlucutan senjata kimia).

Senjata kimia yang dilucuti itu seharusnya diserahkan semua kepada militer AS untuk kemudian dimusnahkan. Namun, sebelum sampai ke tangan militer AS, milisi-milisi bersenjata, antara lain ISIS, telah merebutnya dari gudang militer Suriah. Pada 9 Juli 2014, berminggu-minggu setelah perlucutan senjata kimia itu, The Guardian melaporkan bahwa ISIS telah merebut fasilitas senjata kimia di Irak, menguasai lebih dari 2.500 roket yang berisi sarin. Penelitian lain menunjukkan bahwa ISIS kelompok-kelompok pemberontak lain telah menguasai senjata-senjata kimia yang dulu dimiliki Muammar Gaddafi di Libya.  Pada November 2016, The New York Times memberitakan bahwa ISIS telah menggunakan senjata kimia 52 kali di Suriah dan Irak.

kelinci dalam uji coba senjata kimia yang dilakukan teroris

 

ISIS bukanlah satu-satunya milisi yang memiliki sarin senjata kimia lainnya di Suriah. Video yang didapatkan media Inggris, Daily Mail, menunjukkan kelompok pemberontak Libya, yang saat ini berada di Suriah, sedang melakukan uji coba senjata kimia. Pada 2014, PBB mengumumkan bahwa ditemukannya silinder gas sarin di Aleppo. Pada 8 April 2016, Voice of America melaporkan bahwa milisi Jaysh al-Islam menggunakan senjata kimia melawan tentara Kurdi di Aleppo.

3Insiden di Khan Sheikhoun Adalah Bagian dari Perebutan Kekuasaan di AS

Serangan senjata kimia ini juga menunjukkan adanya pertarungan berbagai kekuatan politik di AS, khususnya antara kubu konservatif (kubu mapan yang selama ini mensponsori perang AS di berbagai negara) dan kubu Trump yang baru dibentuk. Sejak masa kampanye dan beberapa saat sebelum serangan senjata kimia, Presiden Trump selalu mengatakan bahwa dia tidak mendukung perubahan rezim di Suriah dan memilih melawan ISIS dan kelompok teror lainnya sebagai prioritas (untuk diperangi).

Para politisi AS  yang selama ini mendapatkan dana dari negara-negara yang diketahui menyuplai milisi bersenjata dengan bahan-bahan pembuatan senjata kimia, telah bertemu dengan faksi-faksi pemberontak yang terkait dengan serangan senjata kimia ini.  Pada 22 February 2017, 2017, CNN melaporkan bahwa McCain melakukan perjalanan rahasia ke utara Suria pekan sebelumnya. McCain melakukan kunjungan itu meskipun sejak akhir 2015, media-media Barat akhirnya mengakui tidak ada lagi pemberontak “moderat” di Suriah (seluruhnya adalah teroris yang berafiliasi dengan Al Qaida atau ISIS).

Pada Januari 2017, anggota parlemen AS Tusli Gabbard kembali dari Suriah untuk mengkonfirmasi laporan tersebut dan menyatakan bahwa AS selama ini mengirimkan senjata kepada kelompok teror seperti al-Nusra, al-Qaida, Ahrar al-Sham, dan ISIS di Suriah. McCain mengklaim bahwa ia bertemu dengan milisi-milisi yang akan melawan ISIS, tetapi The Guardian melaporkan bahwa mereka (yang ditemui McCain) adalah tentara bayaran yang akan bertempur bersama “jihadis” jika bayarannya cocok. Disobedient Media sebelumnya melaporkan bahwa pada 2014, McCain menerima 1 juta Dollar dari Saudi Arabia.  CEO media alternatif, Al-Masdar News, Leith Abou Fadel, baru-baru ini memposting di Twitter-nya (April 2017) menunjukkan karung berisi klorin buatan Saudi ditemukan di Aleppo timur (yang hingga Desember 2016 dikuasai para ‘jihadis’). Klorin adalah bahan pembuat bom kimia.

(bersambung ke bagian 2)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL