Foto: kompas

Foto: kompas

LiputanIslam.com — Meskipun pemilihan presiden sudah berlalu setahun lebih, tetapi golongan GALON (gagal move on) masih berjamuran. Mereka, tidak segan-segan menghina dan memfitnah presiden, wakil presiden, dan pejabat pemerintahan lainnya melalui media maupun jejaring sosial. Meskipun Surat Edaran Kapolri tentang hate speech telah memasukkan ‘penyebaran berita bohong’ sebagai salah satu bentuk hate sppech, tetapi berbagai macam hoax tidak juga mereda.

Contohnya berita dari GALON:

Mengutip berita dari Republika Online, Pos Metro merilis berita dengan judul ‘Jokowi Mau Pidato, Obama Pergi Tinggalkan Acara Diikuti yang lain, Batal Deh…’

Pos Metro juga merilis berita lain yang terkait: “Mau Pidato Ditinggalin, Bukti Jokowi Tak Dihargai Dunia Internasional, karena Suka Bohong & Ngeles’.

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Namun laporan berbeda disampaikan oleh media Kompas.com dan Tempo.co.

Kompas.com menyatakan bahwa pidato Jokowi pada KTT Perubahan Iklim di Le Bourget, Paris, Perancis, mengejutkan komunitas mayarakat adat di Tanah Air.

Menurut Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan, mengapresiasi saat Jokowi memasukkan kalimat, “Penanganan perubahan iklim dengan melibatkan masyarakat adat”.

“Ini kejutan bagi kita semua, awalnya saya telah baca teks pidato Presiden yang banyak beredar, tak ada kata melibatkan masyarakat, apalagi masyarakat adat. Namun, saat Presiden pidato, kata itu muncul, ini kejutan sekali,” kata Abdon di Paris, Senin (30/11/2015).

Seperti dilansir Tempo.co, ini adalah pidato lengkap Presiden Jokowi di Paris:

Ketua,
Para Kepala Negara/Pemerintahan yang mulia,

Duka cita kami yang dalam atas aksi teror di Paris tanggal 13 November 2015, yang menelan korban sipil yang tidak berdosa.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menegaskan bahwa Islam mengajarkan perdamaian. Islam mengajarkan toleransi. Tindakan teror tersebut tidak ada kaitannya dengan agama, bangsa dan ras apapun.

Ketua,
Saya hadir disini untuk memberikan dukungan politik kuat terhadap suksesnya COP 21.

Sebagai salah satu negara pemilik hutan terbesar yang menjadi paru paru dunia, Indonesia telah memilih untuk menjadi bagian dari solusi.

Pemerintah yang saya pimpin, akan membangun Indonesia dengan memperhatikan lingkungan.

Yang Mulia,
Indonesia memiliki kondisi geografis yang rentan terhadap perubahan iklim. Dua pertiga wilayah terdiri dari laut, memiliki 17 ribu pulau, banyak diantaranya pulau-pulau kecil.

Sebanyak 60% penduduk tinggal di pesisir dan 80% bencana selalu terkait dengan perubahan iklim. Baru-baru ini, Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan gambut .

El Nino yang panas dan kering telah menyebabkan upaya penanggulangan menjadi sangat sulit, namun telah dapat diselesaikan. Penegakan hukum secara tegas dilakukan. Langkah prevensi telah disiapkan dan sebagian mulai implementasikan. Salah satunya dengan restorasi gambut dengan pembentukan Badan Restorasi Gambut.

Kerentanan dan tantangan perubahan iklim tersebut tidak menghentikan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam aksi global menurunkan emisi.

Untuk itu, Indonesia berkomitmen: menurunkan emisi sebesar 29% dibawah business as usual pada tahun 2030, atau 41% dengan bantuan internasional.

Penurunan emisi dilakukan dengan mengambil langkah:
1. Bidang energi:
Pengalihan subsidi BBM ke sektor produktif. Peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23% dari konsumsi energi nasional tahun 2025. Selain itu, pengolahan sampah menjadi sumber energi.

2. Bidang tata kelola hutan dan sektor lahan:
Penerapan one map policy dan enetapkan moratorium serta review ijin pemanfaatan lahan gambut, pengelolaan lahan dan hutan produksi lestari.

3.Di bidang maritim:
Mengatasi perikanan ilegal dan perlindungan dan keanekaragaman hayati laut.

Yang Mulia,
Kesepakatan Paris harus:

Mencerminkan keseimbangan, keadilan serta sesuai prioritas dan kemampuan nasional. Pula nengikat, jangka panjang, ambisius, namun tidak menghambat pembangunan negara berkembang.

Untuk mencapai kesepakatan Paris, semua pihak, saya ulangi, semua pihak harus berkontribusi lebih dalam aksi mitigasi dan adaptasi, terutama negara maju. Yakni, dengan cara memobilisasi pendanaan USD 100 Milyar hingga 2020, dan ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya. Yang diikuti dengan transfer teknologi ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas.

Hadirin yang terhormat,

Mencapai kesepakatan di Paris adalah suatu keharusan.

Saya mengharapkan kita semua menjadi bagian dari solusi, menjadikan bumi ini menjadi tempat yang nyaman bagi anak cucu kita, menjadikan bumi menjadi tempat yang sejahtera bagi kehidupan mereka.

Terima kasih.

Berikut ini adalah video ketika Presiden Jokowi berpidato. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL