perang duniaLiputanIslam.com — Kedatangan imigran pencari suaka asal Afghanistan di berbagai daerah ramai diberitakan oleh beberapa media. Misalnya, antaranews.com, yang menyatakan bahwa para imigran ini tengah transit di Indonesia, sambil menunggu suaka dari Australia dikeluarkan secara resmi.

Namun berita ini lantas diekspos masif dengan angle yang berbeda, oleh situs-situs seperti fimadani.com, panjimas.com, arrahmah.com, hidayatullah.com, bahwa para imigran ini adalah orang-orang Syiah, yang patut dipertanyakan apa misi mereka datang ke Indonesia?

Lalu pegiat anti-Syiah pun beramai-ramai menyebarkan berita ini di media sosial, hingga broadcast di BBM/ grup Whatsapp.

Siapa dan apa misi imigran ini di Indonesia? Barangkali, kesaksian dari Iqbal Aji Daryono, seorang WNI yang kini tengah bekerja di Australia cukup membantu. Berikut kisahnya;

Teman-teman, ini foto saya bersama sahabat saya di dock armada truk Foxline, Bassendean, Western Australia. Dia sopir jurusan Maddington. Tahun lalu saya pernah cerita tentang dia, tapi pasti banyak yang belum baca.

Namanya Abdul Wahid Rahimi, di Fesbuk cuma pakai nama Wahied Rahimi. Adul, dia minta dipanggil begitu. Umurnya 27 tahun, asli dari Afghanistan.

Lima tahun silam, Adul mecah tabungannya dan menjual kios onderdil mobilnya di Kabul. Dapat duit 8000 dolar dari situ, Adul pun bisa bergabung dengan 43 pemuda Afghan lain, untuk berangkat ke Islamabad, Pakistan.

Tiba di Pakistan, Adul dan kawan-kawan mendatangi kedutaan besar Malaysia. Di sana mereka apply visa kerja. Dapat. Maka terbanglah ke-44 pemuda pemberani itu ke Malaysia.

Sesampainya di Malaysia, bukan pekerjaan yang mereka cari, melainkan perahu kecil dan pemandu jalan laut. Dengannya mereka menembus batas laut, dan masuk ke Indonesia.

Jangan ge-er dulu. Mereka bukan mau tinggal di Indonesia, sebab Australia tujuan mereka sebenarnya. Jika berhasil sampai ke Australia dan diberi suaka sebagai pengungsi, mereka bisa hidup di sini dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada di tanah kelahirannya.

Iqbal dan Adul

Iqbal dan Adul

Adul pada akhirnya sukses berlabuh di Darwin, dan diterima oleh rezim Kevin Rudd pada waktu itu. Kevin memang nyah-nyoh sama pengungsi dari berbagai belahan dunia. “Kevin Rudd is perfect!!” kata kawan saya lainnya sesama Afghanistan, Aryan Malekzadeh, sembari mengumpati Toni Abbot yang berkebalikan dengan pendahulunya.

Tapi perjalanan Adul bukan lantas mulus-mulus saja. Dia sempat tertahan lama di Indonesia, karena perahunya tertangkap polisi Indonesia di perairan Kupang. Maka, selama sekitar enam bulan Adul cs. ngurus ini-itu, ketemu orang UNHCR, ketemu para agen gelap penyelundup pengungsi, yang membawa Adul berkelana dari Kupang ke Jakarta, ke Medan, dan entah ke kota mana lagi. Denan uang damai sebesar 3.000 dollar per orang kepada aparat tersebut, akhirnya mereka lepas dari Indonesia, dan menuju Australia.

***

Ada ribuan orang seperti Adul yang lari dari Afghanistan untuk merengkuh tanah impian, Australia. Banyak yang bernasib baik seperti Adul dan Aryan. Tapi tak sedikit juga yang apes. Mereka yang apes itu tertahan di banyak kota di Indonesia. Tidak hanya di Balikpapan dan Pekanbaru.

Musabab mereka tertahan itu bermacam-macam. Ada yang ditipu agen penyelundup, ada yang kehabisan uang sehingga tidak bisa memberikan ‘uang damai’ ke pemegang otoritas perbatasan, dan lain-lain.

Yang jelas, nyaris tidak ada yang dideportasi ke Afghanistan. Sebab mereka semua sudah pintar, dengan memusnahkan paspor masing-masing begitu meninggalkan Malaysia.

Asal tahu saja, tertahan di Indonesia dalam kondisi nggak jelas bisa jadi jauh lebih baik buat orang-orang itu. Sebab, kembali ke Afghanistan nyaris sama artinya dengan setor nyawa.

Ya, Afghanistan dikuasai etnis Pashtun, yakni etnisnya Taliban penganut Wahhabi itu, sementara para pengungsi berasal dari etnis minoritas Hazara yang Syiah. Puluhan tahun sudah, orang-orang Hazara dinista orang Pashtun karena dua hal: perbedaan karakter fisik (orang Hazara agak-agak Mongoloid), dan perbedaan mazhab keyakinan. Orang Hazara memang sudah berabad-abad menganut mazhab Syiah.

***

Adul kini sudah sukses. Meski kami sesama sopir, tapi truk yang dia kemudikan sudah milik dia sendiri. Dia membelinya dari Nelson, pemilik truk itu sebelumnya, dengan harga 43.000 dolar. Tentu Adul membayarnya secara kredit, pakai uang muka hasil dia bekerja sebagai pemetik anggur di Margareth River.

Meski kredit ke bank, hasil kerja Adul cukup. Per bulan sekarang dia bisa dapat hasil bersih 5000 dolar.

Minggu lalu, wajah Adul begitu riang. Dia bercerita bahwa mungkin pekan depan seremoni peresmian dirinya sebagai warga negara Australia akan dilaksanakan. Selama ini statusnya adalah pemegang visa permanen, belum citizen.

Menjadi warga negara Australia bagi Adul sangatlah penting. Berbekal status itu, dia bisa mengundang istri dan anaknya yang sampai sekarang masih menunggu di Kabul. Dengan undangan dari seorang warga negara, anak dan istri Adul bisa masuk ke Australia secara legal.

Itulah kenapa para manusia perahu adalah pemuda-pemuda usia produktif. Mereka bertugas “membuka jalan”, sehingga pada saatnya nanti keluarga mereka bisa ditarik ke Australia secara legal, nyaman, murah, dan tak perlu pakai acara bakar-bakar paspor segala. [akhir kutipan]

Rilis Berita antarasulsel.com

Rilis Berita antarasulsel.com

Jika berbagai situs anti-Syiah tersebut mempertanyakan apa misi imigran asal Afghanistan tersebut, maka jawabannya jelas, sebagaimana diungkapkan Kepala Seksi Pengawasan Penindakan Imigrasi (Wasdakim) Kantor Imigrasi Makassar, R Harry Dwilaksono, “Sebelum mendapatkan suaka dari negara Australia, imigran ini transit di Indonesia untuk menunggu pengurusan suaka tersebut di kantor UNHCR yang berada di Jakarta,” jelasnya.

Apakah imigran ini memiliki misi lain, seperti menyebarkan ajaran Syiah, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh situs-situs anti-Syiah di atas?

Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mereka bisa menyebarkan ajaran Syiah, sementara imigran itu sendiri berada di tempat penampungan? Apakah mereka menyebarkan ajaran Syiah kepada pegawai kantor imigrasi? Atau mereka memasuki masjid, berkhotbah di mimbar-mimbar dan universitas? Ataukah warga Balikpapan dan Pekanbaru yang datang ke kantor imigrasi untuk mendengarkan ceramah tentang ajaran Syiah dari imigran?

Sementara itu, laporan deutschewelle.de pada tahun 2013 menyebutkan, ribuan orang pencari suaka dari berbagai negara terdampar di Indonesia. Apa penyebabnya?

“Para pengungsi ini adalah korban pelanggaran HAM. Ada yang melarikan diri dikejar-kejar pemerintah negara mereka karena dituduh terlibat gerakan separatis, ada yang menjadi korban persekusi akibat konflik agama. Tapi ada pula yang menjadi korban sindikat penyelundupan manusia internasional,” kata Ridha Saleh, mantan Komisioner Komnas HAM, 29 Januari 2013.

Johnny Hutauruk, Wakil Kepala Desk Penanganan Penyelundupan Manusia, Pengungsi, dan Pencari Suaka di Kantor Menkopolkam mengatakan, “Dengan tarif ribuan dollar Amerika, mereka mengatur pelarian para pengungsi. Para penyelundup ini membangun bisnis ilegal dengan memanfaatkan situasi konflik,” jelasnya.

“Mereka ditipu oleh agen yang menawarkan ke Australia. Para pengungsi ini adalah korban kejahatan lintas negara”, kata Renny Winata, Kepala Pusat Kajian Australia di Universitas Indonesia.

kondisi imigran, foto: fimadani

kondisi imigran, foto: fimadani

Gus Dur, sang guru bangsa yang telah berpulang kehadirat-Nya, terkenal dengan perjuangannya sikapnya yang melindungi Ahmadiyah, Syiah, dan Tionghoa. Mengapa ia melakukan itu? Alisa Wahid, putrinya, menjelaskan bahwa Gus Dur membela kaum minoritas tersebut, adalah semata-mata demi kemanusiaan. Gus Dur memberikan contoh, bahwa kemanusiaan adalah hal yang fundamental dalam hidup. Gus Dur mengajari kita untuk memanusiakan manusia.

Lantas, apa tindakan apakah yang paling tepat untuk memanusiakan manusia, sebagaimana yang diajarkan Gus Dur, selain memberi tempat berlindung pada imigran yang teraniaya di tanah kelahirannya?

Di saat yang sama, situs-situs ini selalu mengecam pemerintah Myanmar atas perlakuannya terhadap kaum Muslimin Rohingya, dan menyerukan kepada dunia untuk turut berperan aktif membantu saudara-saudara kita yang terusir dan dizalimi

Lalu mengapa, ketika ada para imigran dari Afghanistan pencari suaka – yang untuk sementara berlindung di Indonesia, harus dicurigai habis-habisan?

Bersikap adillah, wahai akhi wa ukhti ! (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL