Klik Untuk Memperbesar

Klik Untuk Memperbesar

LiputanIslam.com — Dalam dua berita terakhir yang diturunkan Republika, sudah tidak ada lagi narasi seperti “kelompok militan Sunni ISIS” seperti yang sudah-sudah. Kali ini, Republika memberikan predikat yang lebih keren untuk ISIS yaitu “oposisi”.

Misalnya dalam berita yang berjudul “Oposisi Irak di Tikrit Pukul Mundur Militer Irak”, Republika menulis sebagai berikut:

“Tikrit telah dikuasai oleh oposisi ISIL pada 11 Juni lalu. Mereka juga telah menguasai sejumlah wilayah di Irak utara. Pertempuran hebat pun terjadi pada Sabtu antara pasukan keamanan Irak dan sekelompok pria bersenjata dari faksi yang berbeda yang mengendalikan Tikrit.

Oposisi ISIL pun dilaporkan telah menembak jatuh sebuah helikopter dan menahan sang pilot. Para saksi mengatakan pasukan Irak kesulitan merebut kota tersebut. Pasalnya, banyak bahan peledak yang diletakkan di dekat kota.”

Apakah ISIS adalah kelompok oposisi dari pemerintah al-Maliki? Mari kita simak  penjelasan dari Habib Mundzir bin Fuad Al Musawa Rahimahullah terkait pemberontakan, negara Islam, dan wajibnya taat pada pemimpin, yang disarikan oleh Muslimedianews.com.

Daulah Islamiyah sesungguhnya tak pernah dikenal dalam Islam, dan hanya suatu istilah yang diada-adakan saja. Islam tidak mengenal “Negara Islam”, dan yang pernah ada adalah Khilafah Islamiyah. Islam adalah untuk dunia, bukan untuk Indonesia saja, bukan untuk Malaysia saja, dst.

Rasulullah Saw saat  berkuasa di Madinah, namun pemimpin Madinah tetap Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin munafik dan musuh Islam). Mengapa Rasul SAW tak merebut kekuasaan darinya?  Rasullullah membiarkan Ibn Ubay tetap memimpin Madinah, dan Abu Sofyan (sebelum masuk Islamnya) tetap memimpin Makkah.

Rasulullah tak pernah merebut kekuasaan, dan memang tidak cinta jabatan, dan Indonesia merupakan negara dengan umat Islam terbesar di dunia.

Presiden Indonesia beragama Islam, menterinya mayoritas dari kaum Muslimin, begitu juga dengan pejabat, konglomerat, buruh, pengusaha dan rakyatnya. Jadi yang diperlukan bukanlah mendirikan negara Islam, melainkan membenahi akhlak/ prilaku rakyatnya.

Haruskah Kita Taat Kepada Pemimpin?

Sabda Rasulullah Saw : “Barangsiapa yang ditindas oleh penguasanya maka hendaknya ia bersabar, sungguh barangsiapa yang keluar dari perintah sultan (penguasa) sejengkal saja maka ia mati dalam kematian jahiliyah.” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Sabda Rasulullah Saw : “Barangsiapa yang melihat kesalahan pada penguasanya yang tidak disukainya maka hendaknya ia bersabar, sungguh barangsiapa yang memisahkan diri dari kelompoknya lalu ia wafat maka ia wafat dengan kematian jahiliyah.” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Berkata Zubair bin Adiy ra : “Kami mendatangi Anas bin Malik mengadukan kekejian Hajjaj dan kejahatannya pada kami, maka berkata Anas ra : “Bersabarlah kalian, karena tiadalah datang masa kecuali yg sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian akan menemui Tuhan kalian, kudengar ini dari Nabi kalian (Muhammad saw).” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Sabda Rasulullah Saw : “Barangsiapa yang mengangkat senjata diantara kita (memerangi sesama) maka bukan dari golongan kita.” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Sabda Rasulullah Saw : “Janganlah kalian kembali pada kekufuran setelah aku wafat dengan saling bunuh satu sama lain.” (Shahih Bukhari Bab Fitnah)

Sabda Rasulullah Saw : “Barangsiapa yang melihat pada penguasanya sesuatu yang tak ia sukai dari kemungkaran hendaknya ia bersabar, sungguh tiadalah seseorang memisahkan diri dari jamaah muslimin lalu ia wafat maka ia wafat dengan kematian jahilyah.” (Shahih Bukhari Bab Ahkam)

Sabda Rasulullah Saw : “Dengar dan patuhlah bagi seorang muslim selama ia tak diperintah berbuat maksiat, bila ia diperintah berbuat maksiat maka tak perlu dengar dan patuh.” (Shahih Bukhari Bab Ahkam)

Kesimpulannya adalah Rasulullah saw dan kesemua para Imam dan Muhaddits Ahlussunnah Waljamaah tidak satupun menyerukan pemberontakan dan kudeta, selama pemimpin mereka muslim maka jika diperintah maksiat mereka tidak perlu taat, bila diperintah selain dosa maka mereka taati. http://www.muslimedianews.com/2014/06/daulah-islamiyah-tak-pernah-dikenal.html#ixzz367mPYV51.

Yang kita lihat selama ini adalah, Daulah Islam Irak dan Suriah, yang kini telah mendeklarasikan Khilafah yang disebut “Daulah Islam”, mereka adalah kelompok yang mengangkat senjata untuk memerangi pemerintah yang sah, di Suriah dan juga di Irak. Apa yang mereka lakukan jauh menyimpang dari nilai-nilai Islam sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw.

Lalu, mengapa tiba-tiba ISIS disebut “Oposisi?” Selama ini kita mengenal ISIS sebagai kelompok teroris yang bertahun-tahun lamanya menebar ketakutan kepada masyarakat, melakukan tindakan-tindakan keji yang mengatasnamakan Islam, dan baik ulama-ulama Ahlussunah maupun ulama Syiah menelurkan fatwa yang sama: lawan ISIS.

Jadi  Republika, sebaiknya  Anda tidak usah ragu-ragu  untuk menyebut ISIS sebagai kelompok teroris. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL