Prof Umar bersama ulama Iran

Silaturahmi Prof Umar dan ulama Iran, foto Ismail Amin

LiputanIslam.com — Hingga hari ini, berbagai macam seminar, deklarasi, dan mimbar-mimbar di tanah air, masih konsisten menyebarkan ajakan untuk membenci pihak lain yang tidak sepaham. Yang harus dibenci itu, adalah mereka yang divonis sesat, ahlul bid’ah, Syiah, Ahmadiyah, sekuler, liberal, hingga komunis.

Contohnya, sebagaimana deklarasi yang diselenggarakan di Bandung dan di Malang. Narasumbernya senantiasa menyerukan untuk membasmi penganut mazhab Syiah, bahkan bila perlu, dengan menggunakan kekuatan militer.

“Saya sendiri punya mantan anak buah, yang ternyata dia penganut Syiah. Artinya Syiah sudah menyusup ke jajaran militer tanah air. Namun kita tidak boleh berkecil hati. Mereka akan kita lawan dan kita bendung, kita harus memprovokasi masyarakat, bila perlu, dengan kekuatan militer,” tegas Herman Ibrahim, Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah, 23 September 2014.

Kabar baiknya, masih banyak tokoh-tokoh moderat yang lurus dan hanif. Wajah-wajah menyejukkan seperti Quraish Shihab, Alwi Shihab, Din Syamsudin ataupun Said Aqil Siradj, senantiasa menyerukan kepada umat manusia untuk saling mengasihi.

Bahkan dalam sebuah pernyataannya di media sosial, Alwi Shihab menyatakan bahwa permusuhan yang paling buruk adalah permusuhan yang mengatasnamakan agama. Menurut kiasan yang disampaikan, seharusnya para putra bangsa Indonesia bergerak bersama, menjadi orang-orang yang ‘membangun jembatan, bukan merobohkannya’.

“Filosofi jembatan: mendekatkan dua tempat yang bersebrangan,” jelas Alwi Shihab.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, wakil menteri agama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa waktu yang silam, ia berkunjung ke Qom, Republik Islam Iran, bersama sejumlah cendekiawan muslim dari berbagai negara untuk mempresentasikan makalah hasil pembacaan dan pengkajiannya atas pemikiran filosofi dan Qur’ani Allamah Thabathabai.

Tudingan miring yang seringkali dilontarkan kepada Negeri Mullah yang penduduknya mayoritas bermazhab Syiah tersebut, tidak menghalanginya untuk bersilaturahmi dengan ulama-ulama di Iran.

Prof Umar dan ulama-ulama Iran. Foto: Ismail Amin

Prof Umar dan ulama-ulama Iran. Foto: Ismail Amin

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Ismail Amin, Mahasiswa Mustafa International University, dalam kesempatan tersebut, Prof Umar juga sempat berziarah ke makam Allamah Thabathabai, penulis kitab Tafsir Al Mizan di pemakaman para ulama, Qom.

Prof Umar juga menyinggung tentang pentingnya persatuan Islam. Sebagaimana diketahui, saat ini kita dihadapkan pada kenyataan pahit. Bagaiamana tidak, dalam tubuh Islam telah muncul kelompok-kelompok yang gemar mengkafirkan, mengadu domba, dan memfitnah – yang dilakukan atas nama agama. Ironisnya lagi, di berbagai belahan dunia telah muncul kelompok teroris transnasional yang melakukan aksi-aksi biadab, dengan mengatasnamakan Islam, seperti kelompok Al-Qaeda beserta affiliasinya.

“Yang mulia, mohon do’akan umat Islam di negeri kami, agar terbuka hatinya, bahwa perbedaan tidak semestinya membuat kami berpecah belah. Kami harus banyak belajar dari Iran tentang betapa pentingnya persatuan itu,” ucap Prof Umar sambil memegang tangan Ayatullah al Uzhma Jawadi Amuli dan meletakkan di dadanya.

“Jangan begitu. Kami yang minta di do’akan. Kami yang harus lebih banyak lagi belajar pada kebesaran jiwa bangsa kalian (Indonesia),” jawab Ayatullah Jawadi, 15 November 2014.

Akhirnya, pilihan ada di tangan kita. Siapa yang lebih layak untuk diikuti, apakah ulama-ulama yang menyebarkan kebencian dan permusuhan, ataukah ulama-ulama yang menyerukan kasih sayang dan persatuan? Semoga Allah melindungi Indonesia. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL