LiputanIslam.com — Memanasnya situasi di Provinsi Anbar, Irak, sejak meletus pertempuran antara kelompok bersenjata yang terkait Al-Qaida melawan tentara pemerintah Irak, mengisi rubrik Internasional majalah mingguan Tempo edisi 3-9 Pebruari. Tak ada yang salah dengan berita itu. Hanya saja, ada satu kalimat absurd dalam tulisan bertajuk “Evolusi Al-Qaidah 3.0” itu. Begini, dalam salah satu paragraf yang menjelaskan seluk-beluk pendirian kelompok Al-Qaidah di Irak, tertulis:

“Al-Qaidah di Irak bisa dibilang mulai bangkit. Kelompok yang didirikan Abu Musab al-Zarqawi, Arab keturunan Yordania, itu mulai menyiapkan strategi.”

Sepintas tak ada yang salah dengan kalimat itu, namun sesungguhnya mengandung keruwetan makna dan logika yang perot. Mari kita periksa. Kalimat “Arab keturunan Yordania” sangat sulit dipahami maksudnya. Pertama, ia tak menjelaskan kepada pembaca, warga negara manakah si Abu Musab itu? Jika Arab dalam kalimat itu dimaksudkan sebagai negara, negara Arab mana yang dimaksud? Bukankah ada 22 negara Arab di seluruh Timur Tengah, baik yang secara resmi memakai kata Arab sebagai nama negaranya (Kerajaan Arab Saudi, Republik Arab Mesir, Republik Arab Suriah, dan Uni Emirat Arab), maupun yang tidak (Yordania, Irak, Libanon, Kuwait, Yaman, Aljazair, dll). Jadi, kalimat tersebut tidak menjelaskan kewarganegaraan tokoh yang sedang diwartakan.

Kedua, jika yang dimaksud Arab adalah etnis, maka keruwetan akan semakin menjadi-jadi. Kalimat “Arab keturunan Yordania” meniscayakan diferensiasi antara “Arab” di satu sisi dan “Yordania” di sisi lain. Padahal, seperti kita tahu, Yordania merupakan negara Arab. Dengan kata lain, kalimat itu sesungguhnya bisa dibaca begini: “Kelompok yang didirikan Abu Musab al-Zarqawi, Arab keturunan Arab, itu mulai menyiapkan strategi.” Hal ini menunjukkan si wartawan tidak menguasai peta negara dan etnisitas di Timur Tengah yang sedang menjadi pokok tulisannya itu. Untuk majalah sekelas Tempo, kesalahan elementer seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi, agar Tempo tetap enak dibaca, tanpa perlu membuat pusing pembacanya. (Dikutip dari status Ben Sohib seorang novelis)

Anbar, wilayah yang kaya minyak.

love_of_oilSebuah artikel yang terbit pada tahun 2007 oleh Nytimes, tentang kondisi wilayah Anbar yang setelah dilakukan riset mendalam ditemukan ladang minyak yang melimpah. Selama ini, di Iraq sebelah utara yang kaya minyak didominasi oleh etnis Kurdi, sementara di selatan dikontrol oleh rakyat Irak yang mayoritas muslim Syiah. Sehingga, temuan ini adalah hal yang sangat mengembirakan bagi mayoritas penduduk Anbar yang mayoritas Sunni. Duh

Jelas sekali, Nytimes selayaknya BBC dan media Barat lainnya terlihat terlalu peduli dengan isu sekterian di Irak, dan juga di negara lainnya di kawasan. Apakah yang terjadi di Anbar dipicu oleh isu Sunni Syiah? Dari CS Monitor mengungkapkan hal yang berbeda. Dalam sebuah artikel oleh Dan Murphy , mungkin layak untuk dijadikan bahan perbandingan.

Kutipan artikelnya:

Q: Shiite-Sunni hatred is driving all this, right?

A: Well, no. At least not exactly.

The Sunni-Shiite divide in Iraq does drive much of national politics. But it’s far from the whole story. Intermarriage between the sects is common, most Sunnis and Shiites still list “Iraqi” as their core identity, many of the largest tribal confederations contain both – and, at any rate, the divide is drawn by power and money, not dispute over the nature of Muslim worship. Saddam Hussein’s Baath Party, the backbone of his murderous secular dictatorship, was open to Shiites as well as Sunnis, and many Shiites joined up for the economic and social advantages it conferred.

This is not to say that sectarian hatred isn’t real, or wasn’t a crucial component of the darkest days of the civil war. Sectarian death squads roamed the country in 2006 and 2007…“

Kesenjangan Sunni – Syiah di Irak memang berpengaruh dalam dunia politik nasional. Namun hal itu terlalu ‘jauh’ dari keseluruhan rangkaian cerita. Perkawinan antara kedua kelompok tersebut masih banyak terjadi dan kebanyakan muslim Sunni dan Syiah masih mengenakan identitas ‘Iraqi’ atau seorang rakyat Irak (maksudnya secara keseluruhan mereka berjiwa nasionalis dan tidak terkotak-kotak dalam perbedaan mazhab -pen), banyak suku-suku besar Iraq yang mengandung keduanya (mazhab Sunni dan Syiah). Perpecahan sesungguhnya adalah masalah kekuasaan dan uang, bukan semata-mata karena perbedaan  tata cara beribadahnya. Saddam Hussain dengan Partai Baath, dalam kediktatorannya tetap terbuka untuk Sunni dan Syiah, dan banyak muslim Syiah yang ikut menikmati keuntungan yang dihasilkan negara.   

Namun bukan berarti bahwa kebencian sekerian hanyalah ilusi semata atau bukan hal yang penting dalam hari-hari mencekam dimana perang saudara berlangsung. Namun, konflik sekterian mematikan ini mulai menjelajahi negara tersebut di tahun 2006 dan 2007…”

Mungkin maksud Murphy adalah, konflik sekterian memang baru terjadi pada beberapa tahun terakhir dan memang sengaja diciptakan oleh seseorang, demi uang, kekuasaan, dan tentu saja demi minyak. (LiputanIslam.com/csmonitor/nytimes/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL