LiputanIslam.com  —  Nyaris tidak ada kebaikan Pemerintah Suriah yang tergambarkan dari informasi yang disampaikan Kompas. Setiap kali menurunkan berita tentang Suriah, selain sangat tendensius, Kompas juga tidak berimbang dan terkesan sangat pro-pemberontak.   Berita-berita tentang Suriah yang disajikan Kompas, sejalan dengan yang disuguhkan media-media negara pendukung pemberontak semisal Al-Arabiya milik pemerintah Arab Saudi, atau situs-situs online milik kelompok ekstremis pro teroris al-Qaeda yang selalu mengetengahkan kekejaman Assad.  Isyarat apakah ini?

Misalnya pada tanggal 3 Februari 2014, Kompas menanyangkan berita yang mirip dengan BBC;

Pasukan Pemerintah Suriah dilaporkan menewaskan sedikitnya 46 warga sipil di Aleppo, kota di bagian utara negara itu. Kelompok pegiat Suriah, SOHR, mengatakan, helikopter pemerintah menjatuhkan drum-drum berisi bahan peledak ke Aleppo.

Menganlisa lebih dalam tentang bom barrel, berikut ulasannya:

Pertama adalah kesalahan mengidentifikasi pesawat. Menurut pengamatan, pesawat yang diklaim milik pemerintah Suriah untuk menjatuhkan bom barrel tersebut bukanlah pesawat type MIGs melainkan type L- 39s. Sedangkan amunisi yang dikatakan sebagai bom barrel, ternyata bukanlah bom barrel jika dilihat dari ukurannya. Yang dijatuhkan dalam video tersebut adalah OFABs atau bom kecil. Kesalahan identifikasi yang terungkap dari video ini, mirip dengan kesalahan identifikasi oleh BBC saat menggunakan foto korban pembantaian di Irak sebagai korban atas tragedi Houla.

Kedua, dari banyaknya kasus bom barrel yang terjadi di berbagai belahan dunia, belum pernah terungkap ada bom barrel yang dijatuhkan dari jet tempur. Sebabnya, belum tersedia tekhnologi tambahan yang diaplikasikan pada pesawat tempur yang memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai ‘pembawa’ bom barrel.

Dilain pihak, dalam video yang wara – wiri secara masif, yang terlihat sebagai  ledakan bom barrel justru terlihat seperti IED ( peledak manual/ rakitan)  yang sering di sebarluaskan untuk ‘mengkampanyekan’ kemampuan/ kehebatan pemberontak Suriah pada situs – situs yang berlabel jihad. IED atau Improvised Explosive Device berarti  alat peledak yang diimprovisasi seseuai keadaan, atau lebih populer dengan sebutan bom rakitan. Alat ini bisa dibuat dari berbagai macam peledak, bisa dikombinasikan dengan racun kimia, racun biologis, atau materi radiologi. Alat peledak ini juga populer dengan sebutan bom pinggir jalan karena seringkali bom rakitan tersebut oleh ‘mujahidin’ diletakkan di pinggir jalan menargetkan konvoi militer lawannya. IED merupakan alat peledak yang sederhana yang mudah dibuat namun sangat efektif. Di Irak, IED menjadi pembunuh no.1 tentara Amerika.

*****

Pada tanggal 30 Januari 2014, Kompas menulis;

HRW: Militer Suriah bakar ribuan rumah warga sipil. Organisasi HAM ini mengatakan, penghancuran rumah-rumah warga, termasuk gedung apartemen bertingkat delapan, menggunakan bahan peledak dan alat-alat berat seperti buldoser. HRW mengatakan, penghancuran rumah-rumah tersebut di bawah pengawasan militer. Kawasan yang dihancurkan pada 2012 dan 2013 ini setara dengan luas dua lapangan sepak bola.

Namun ada yang janggal dari laporan tersebut. Kompas menyatakan;

  1. Militer Suriah bakar ribuan rumah warga sipil.
  2. Area yang dibakar seluas 2 kali lapangan sepak bola.

Analisa:

Luas lapangan sepak bola Ukuran Lapangan Sepakbola Standar FIFA adalah :

– Panjang lapangan sepakbola minimum 90 meter

– Panjang lapangan sepakbola maksimum 120 meter

– Lebar lapangan sepakbola minimum 45 meter

– Lebar lapangan sepakbola maksimum 90 meter

Seandainya yang diambil adalah ukuran maksimum, maka panjang yang digunakan adalah 120 M, dan   lebarnya 90 meter.

Rumus luas persegi panjang (L) = panjang x lebar

Luas: p x l= 90 x 120 = 10.800 meter persegi

Dikalikan  dua lapangan sepakbola =  10.800x 2 = 21.600 meter persegi

Rumah sederhana standarnya Type 36, yang artinya rumah tersebut dibangun diatas tanah seluas 36 meter persegi, jika type ini diasumsikan sebagai bangunan yang berdiri di atas tanah seluas dua kali lapangan bola, maka hitungannya adalah :

21.600  : 36  = 600

Dengan kondisi  di area tersebut rumahnya berimpitan tanpa ada ruang untuk jalan masuk, maka rumah yang berhasil di bangun di area dengan luas 2 kali lapangan bola hanyalah 600 rumah tidak sampai ribuan rumah yang seperti yang disampaikan Kompas. Apakah ini adalah kecerobohan dari pihak redaksi, atau sengaja melebih-lebihkan dari kenyataan yang sebenarnya? Dan apa tujuan Tentara Suriah membakar rumah warga?

*****

Pada tanggal 29 Januari 2014, Kompas mengabarkan;

Dikepung Tentara Suriah sejak Juni tahun lalu, kini 20.000 orang penghuni kamp pengungsi Palestina Yarmuk di Damaskus terancam kelaparan.
“Banyak warga yang terpaksa makan kucing dan anjing, bahkan keledai,” kata salah seorang penghuni Yarmuk, Ali, yang sebelum konflik Suriah pecah adalah seorang mahasiswa.

yarmouk suriahYarmouk adalah sebuah kamp untuk para pengungsi Palestina di Suriah. Rakyat Palestina tinggal di kamp selama puluhan tahun dengan aman. Di dalamnya, terdapat sekolah, masjid, rumah sakit dan berbagai faslilitas umum lainnya. Seorang warga Palestina yang menetap di Suriah dan kini aktif berjuang di media pernah berkata: “Bagi warga Palestina, hidupnya  di Suriah 1000x lebih baik daripada hidup di negara penampungan lainnya”. Suriah, melayani rakyat Palestina selayaknya warga sendiri. Segala fasilitas yang diberikan untuk Suriah, juga diberikan kepada rakyat Palestina. Meski statusnya adalah pengungsi, rakyat Palestina boleh memiliki properti di Suriah.

Lalu meletuslah pemberontakan ditahun 2011, dan Suriah pun hancur. Apakah hanya rakyat Palestina yang kelaparan dan kurus kering? Tidak, rakyat Suriah pun mengalami nasib serupa.  Penyebab kelaparan mereka (sesuai dengan laporan delegasi Suriah di Jenewa)  antara lain:

1. Suriah, karena belum bisa dikalahkan meski konflik telah berlangsung tiga tahun menyebabkan AS dan sekutunya berang. Mereka mengembargo Suriah, contohnya melarang Suriah mengimpor gandum, sehingga pada akhirnya mereka kesulitan memproduksi kebutuhan pokok bagi rakyatnya.

2. Pabrik roti dan makanan dijarah oleh milisi bersenjata. Informasi seperti ini mungkin tidak akan ditemui di media mainstream, namun aktivis Suriah sangat aktif memberitakan kondisi terkini di negara mereka melalui jejaring sosial, termasuk ketika ada sebuah pabrik roti di Suriah diambil alih oleh militan yang berafiliasi dengan Al-Qaeda

3. Sulitnya distribusi makanan. Pemerintah Suriah mengizinkan semua aktivis kemanusiaan dari seluruh dunia memasuki Suriah. Namun mereka kesulitan menyalurkan bantuan karena mereka dihalangi dan diteror oleh pemberontak. Aktivis yang dilindungi oleh pemerintah menyaksikan sendiri bagaimana kondisi yang terjadi sebenarnya di Suriah.

Ketika pemberontak menjadikan Kamp Yarmouk sebagai banteng pertahanan, sejak itulah penderitaan rakyat Palestina dimulai. Rumah mereka yang puluhan tahun ditempati dengan nyaman mendadak bagaikan neraka. Mau keluarpun sulit karena dihalangi oleh pemberontak, yang seringkali menjadikan warga sipil sebagai perisai. Foto yang berhasil diabadikan  oleh Ayham Soussef baru-baru ini dari Kamp Yarmouk, terlihat jelas bagaimana rakyat Palestina  berusaha mendobrak pagar besi dan senjata yang menodong mereka agar bisa keluar dari Kamp Yarmouk untuk mendapatkan kebebasan dan menjemput bantuan yang menunggu diluar sana, setelah keluarga dan tanah mereka dirampas zionis Israel kini kamp yang menjadi rumah kedua menjelma bagai penjara Gaza kedua bagi pengungsi Palestina. Hal seperti ini, sepertinya luput dari pengamatan Kompas.

*****

Dukungan untuk Presiden Bashar al- Assad dari rakyat di provinsi Lattakia

Lattakia 2Hari Minggu (9/2) rakyat Suriah dari provinsi Lattakia turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad, Tentara Arab Suriah (SAA) dan Tentara Pertahanan Nasional (NDF). Demonstrasi seperti ini bukan pertama kali terjadi. Biasanya, saat ada kota yang dibebaskan oleh SAA dari cengkraman pemberontak,masyarakat di kota tersebut akan turun ke jalan penuh sukacita.

Apakah Kompas pernah menayangkan berita bahwa pemberontak Suriah yang disebut mujahidin di Indonesia, dan oleh Barat disebut ‘freedom fighter’ adalah militan yang amat kejam dan bengis? Yang membelah dada mayat dan memakan jantungnya, yang memenggal kepala siapa saja yang tak sepaham dengan mereka sambil bertakbir hingga menjadikan kepala tersebut sebagai mainan sepak bola? Pernahkah Kompas memberitakan militan yang berafiliasi dengan Al -Qaeda menjarah pabrik roti? Pernahkah Kompas menghadirkan demo rakyat Suriah yang meminta pemberontak asing pergi meninggalkan negeri mereka? Dan pernahkah Kompas menyampaikan fatwa Sheikh Ramadhan al -Buthy ra sebelum syahidnya? Semoga saja, Kompas tidak terlalu kuper. (LiputanIslam/ AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL