pengungsi suriahLiputanIslam.com — Turki pernah mengklaim, dan bukan tanpa alasan — bahwa pihaknya telah melakukan segala upaya dalam menerima kedatangan pengungsi Suriah selama lima tahun terakhir, yang membuat negaranya menjadi negara paling berbahaya di dunia.

Dalam sebuah brosur, untuk menunjukan bahwa Turki memiliki kapabilitas untuk mengatur para pengungsi, Presiden Recep Tayyip Erdogan dan istrinya mencium seorang bocah Suriah yang menggunakan kertas koran sebagai mahkota – dan ini menjadi headline di media massa dengan judul “Smilling Faces of Syrians”.

Namun kenyataannya, tidaklah semanis yang dipublikasi media-media. Awal bulan ini terungkap, bahwa perjanjian antara Uni Eropa dan Turki mengenai krisis pengungsi ternyata tidak berjalan dengan lancar. Salah satu efeknya adalah deportasi pengungsi oleh Uni Eropa. Praktis, hal ini menyebabkan pengungsi semakin menumpuk di Turki.

Baca: Sebuah Nasehat untuk Pak Tua

Hitamnya Realitas Kehidupan Pengungsi Suriah di Turki

Middle East Eye (MEE), dalam sebuah laporannya menyatakan bahwa kisah kehidupan pengungsi Suriah di Turki sangat berbeda dengan klaim pemerintah Turki yang “menerima dengan tangan terbuka”.

“Para politisi perlu untuk mengurangi rapat, dan seharusnya bicara dengan rakyat – dan bukan hanya sekedar berbicara di antara mereka sendiri maupun bicara pada media. Mereka membuka beberapa pusat penampungan untuk keluarga, namun bagaimana dengan anak-anak yang menjual tisu di jalanan?” ungkap seorang mahasiswa Gaziantep, kepada MEE (29/4/2016).

Mantan seorang residen di Aleppo mengaku menyadari kesulitan yang dihadapi oleh Turki, namun ia tak menampik adanya diskriminasi dan stereotip tentang pengungsi Suriah.

“Orang-orang Suriah yang bekerja di pabrik-pabrik ini dibayar dibawah upah minimum, dan perlu ada monitoring dan evaluasi terhadap hal itu,” papar dia.

Para pengungsi Suriah, ditempatkan di pinggiran provinsi yang merupakan daerah miskin, jauh dari pusat-pusat pengembangan infrastruktur, pariwisata maupun bisnis. Di kamp-kamp pengungsi, mereka mendapatkan akomodasi, makanan, pelayanan medis dan kesehatan. Namun ada pula pengungsi yang memilih menetap di perumahan penduduk Turki dengan menyewa tempat. Status pengungsi tak lantas membuat mereka mendapatkan keringanan, justru sebaliknya. Karena sangat butuh tempat tinggal, sewa rumah dua kali lipat harga normal. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL