Voa PrabowoLiputanIslam.com— Pada dasarnya, perubahan adalah sesuatu yang niscaya. Tak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Pagi hari, kedelai itu masih berupa biji-bijian yang keras, namun tak menunggu waktu lama, dia akan berubah menjadi tahu yang lembut. Hari ini masih berupa singkong yang keras, dan beberapa waktu lagi akan menjadi tape yang lembut.

Tak terkecuali dengan situs Voa-Islam, sebuah situs dakwah Islam intoleran yang acapkali mengumbar kebencian. Syafi’ Alielha, pemimpin redaksi NU Online, memasukkan Voa-Islam ke dalam kelompok situs penebar kebencian. [Berita lengkapnya baca di sini ]

Masih terekam dengan jelas artikel yang dimuat pada 26 Oktober 2013 yang berjudul “Apa Bedanya Prabowo Subianto Dengan Presiden SBY?” yang mengungkap berbagai data [versi Voa-Islam] untuk menunjukkan bahwa Prabowo Subianto tak ada bedanya dengan SBY.

Dalam gambaran Voa-Islam dulu, sosok Prabowo dilukiskan sebagai berikut:

  1. Prabowo mengakui mengakui dia berkiblat ke Barat. Selanjutnya, dengan nada yang sangat jelas, Prabowo mengaku hidupnya berkiblat ke Barat. “Dari umur 6 sampai 16 tahun saya tinggal di negara Barat, di Inggris dan Amerika,” kata dia saat berkunjung ke kantor Tempo, 25/10/2013. “Saya memang masuk AKABRI. Saya lulus, sebelum dan sesudahnya saya banyak bersekolah di Barat. Saya elite Indonesia yang berkiblat ke Barat, kagum pada Barat, besar di alam itu. Jadi, saya besar dengan nilai Barat, nilai modern,” ucapnya. “Kita harus westernisasi, harus adopt (menyerap) nilai-nilai Barat jika ingin maju,” tambahnya.
  2. Pernyataan Prabowo itu lantaran memang menginginkan dukungan dari Barat, khususnya dari Amerika Serikat. Prabowo pernah memberikan klarifikasi tentang sejumlah isu, saat bertemu dengan sejumlah tokoh di Singapura, bebarapa bulan lalu, persepsi tentang masalah yang pernah terjadi,  seperti peristiwa yang terjadi Mei 1998. Di mana terjadi huru-hara, dan menghancurkan kelompok Cina.
  3. Ketika Prabowo konflik dengan Soeharto, pergi dan sementara tinggal di Jordania, atas jasa baik sahabatnya, yaitu Raja Abdullah yang menjadi sukutu  Amerika di Timur Tengah, dan memiliki hubungan dekat dengan Israel. Jordania satu-satunya negara Arab yang membuka hubungnan diplomatik dengan Israel. Prabowo  dan Abdullah sama-sama pernah sekolah di akademi militer Amerika. Apakah Prabowo akan memiliki sikap yang tegas, dan dapat  membela  kepentingan nasional Indonesia, ketika menghadapi intervensi Barat?
  4. Sementara itu, Amerika Serikat sekarang berada di ujung kebangkrutan, dan kehilangan peran strategisnya secara global. Seperti yang dikatakan oleh Senator Ron Paul dari Republik, bahwa Amerika Serikat sedang menuju kehancurannya. Masihkah Prabowo dan SBY menjadikan Amerika sebagai kiblatnya?

Lalu, apa yang terjadi pada Voa-Islam hari ini? Kita bisa saksikan perubahan drastis. Yang dulunya menyebut bahwa Prabowo berkiblat ke Barat, sekarang berbalik memuji koalisi Prabowo sebagai koalisi anti-asing. Tak ketinggalan Voa-Islam juga menyebut bahwa Prabowo menampakkan nasionalisme, dan menjanjikan kesejahteraan, serta melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan asing di Indonesia.

Dan tentu saja Voa-Islam juga berharap bahwa pemerintahan Prabowo jika terpilih akan membela umat Islam dan mencabut UU Terorisme yang banyak menjadi dalih narasi teroristainment di Indonesia dan terus menerus merugikan umat Islam.

Perubahan itu semua masih wajar-wajar saja, dari membenci menjadi memuji adalah hal yang sudah teramat lumrah dalam dunia politik. Namun yang paling mengherankan dari Voa-Islam adalah, sejak kapan mereka mendukung adanya pesta demokrasi di Indonesia? Bukankah mereka adalah pengusung ide “Negara Islam” yang berdasarkan atas syariat Islam dan mengharamkan segala bentuk demokrasi? (ba/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL