LiputanIslam.com — Sheikh Abdulaziz Al-Sheikh, Grand Mufti Arab Saudi menyebut bahwa kelompok teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) adalah bagian dari rezim Zionis.

“Sebenarnya ISIS adalah bagian dari tentara Israel,” jelas Al-Sheikh, seperti dilansir Alalam (31/12/2015).

Tentu saja, pernyataan Al-Sheikh sangat beralasan. Sejak awal, tanda-tanda terlibatnya Israel dalam perkembangan ISIS telah terlihat.

Misalnya, ketika pada Shotussalam, media pendukung ISIS, dengan bangga mengunggah foto-foto aktivitas ISIS di wilayah Homs, Suriah. Di kamp militer, ISIS tengah berlatih menggunakan mortir kaliber kecil dan ringan.

Senjata yang digunakan ISIS untuk berlatih dihiasi dengan cetakan huruf Hebrew, yang semakin menguatkan bukti bahwa memang benar – Israel ada dibalik kubu anti-Assad, dan satu hal yang harus dicatat, informasi ini disampaikan langsung oleh Kantor Media Daulah Islam Iraq dan Syam, yang kemudian dikutip Shotussalam.

Baca juga: Tangguhnya ISIS, “Berjihad” Dengan Senjata Israel

Pernyataan Al-Sheikh ini cukup mengejutkan, mengingat keluarga kerajaan Arab Saudi adalah pihak yang disebut-sebut sebagai pendukung ISIS nomor satu, baik berupa dukungan finansial ataupun persamaan basis ideologi. Dari berbagai bukti yang dilaporkan media-media internasional, Arab Saudi bahkan disebut sebagai “ISIS’s father”.

Pangeran Al Waleed bin Talal, milyarder Arab Saudi yang juga merupakan keponakan dari Raja Salman, juga mengakui bahwa kerajaan Arab Saudi pernah memberikan dukungan kepada ISIS.

Dikutip oleh Presstv, Talal berkata, “Sayangnya, beberapa ekstremis di Arab Saudi memang pernah mendanai teroris di Suriah,” katanya.

***

Pernyataan Grand Mufti Arab Saudi ini dikeluarkan tak lama setelah dibentuknya koalisi militer negara-negara Islam untuk memerangi terorisme. Seperti diketahui, koalisi anti-teror tersebut menuai banyak kritikan.

Pengamat Mesir misalnya, menyebut “Koalisi Islam Anti-Teror” sebagai koalisi abal-abal yang tidak akan menghasilkan perubahan apapun.

Baca juga: Pengamat Mesir: “Koalisi Islam Anti-Teror”, Koalisi Abal-Abal

Mujtahid Bin Hareth Bin Hammaam, narablog terkemuka Arab Saudi menilai, “Koalisi Islam Anti-Teror” sesungguhnya hanya omong kosong belaka.

Bahkan sebelum membentuk “Koalisi Islam Anti-Teror”, terlebih dahulu Arab Saudi menjamu faksi-faksi pemberontak di Suriah di negaranya untuk mencari titik temu. Bukankah kita tahu, bahwa pemberontak di Suriah – entah disebut “pejuang moderat”, “pejuang pembebasan”, ataupun yang disebut “kelompok ekstremis” sesungguhnya memiliki akar ideologi yang sama, dan melakukan kekejaman yang sama?

Tidak dapat ditampik, pamor Arab Saudi di mata internasional memang telah terpuruk. Track record-nya sebagai negara pendukung terorisme telah dikenal luas. Apalagi tahun ini, Arab Saudi juga menggempur rakyat Yaman, tetangganya yang miskin. Arab Saudi pun mendapat label “negara agresor”.

Melihat negara-negara di seluruh dunia kini aktif menyerukan perang melawan terorisme, atau perang melawan ISIS pada khususnya, maka, Arab Saudi pun bertindak seolah-olah berada di garis depan dalam perang melawan terorisme. Bisa jadi, pembentukan “Koalisi Islam Anti-Teror” ataupun fatwa dari Grand Mufti Arab Saudi tentang ISIS adalah upaya Arab Saudi untuk membersihkan citranya yang tercoreng. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL