kompasJakarta, LiputanIslam.com–Isu sektarian sangat sensitif di Indonesia akhir-akhir ini. Dengan mudah sebagian kalangan menimpakan tuduhan sesat dan kafir kepada pihak lainnya. Bila hanya sekedar tuduhan atau kekerasan verbal, mungkin tak berbahaya. Namun seringkali tuduhan sesat dan kafir itu diikuti dengan seruan pembunuhan atau ‘halal darahnya’.

Oleh karena itu, media massa berperan penting dalam meredakan situasi ini dengan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat.

Sayangnya, harian terkemuka di Indonesia, Kompas, sempat melakukan kesalahan fatal penerjemahan yang bisa berakibat fatal. Situs IslamIndonesia.id telah membuat tanggapan, dan kemudian Kompas juga sudah mengubah isi beritanya di media online (entah bagaimana dengan versi media cetaknya?).

Berita yang dimaksud adalah berita berjudul “Ritual Melukai Diri Warnai Peringatan Hari Asyura di Lebanon“. Sumber berita yang diambil Kompas adalah The Independent (Inggris). Selain menyusun lead yang tendensius, Kompas juga menulis beberapa kalimat yang entah sengaja, entah tidak, hasil terjemahan yang sangat keliru.

Di berita versi asli, Kompas menulis lead (awal berita): Darah menetes di jalan-jalan di kota Nabatieh, Lebanon ketika warga Muslim Syiah memperingati hari suci Asyura, yang mencerminkan akar keyakinan mereka.

Lead itu membingkai foto yang sudah vulgar dan menyesatkan sebelumnya. Seolah-olah, darah yang menetes di jalan-jalan Nabatieh itu begitu dahsyat seperti dalam foto yang, sekali lagi, menyesatkan itu dan semua itu adalah ‘bagian dari keyakinan Muslim Syiah di Lebanon’.

Foto ‘yang menyesatkan’ yang dimaksud adalah foto yang semula dipakai Kompas, yaitu dua laki-laki berdarah-darah yang berasal dari Irak, padahal, beritanya tentang Lebanon. Kompas memberi caption: “Laki-laki Muslim Syiah di Irak menggoreskan kepala mereka hingga berdarah pada peringatan hari kesepuluh masa berkabung Muharram, yang menandai hari Asyura. Ritual menyiksa diri hingga berdarah-darah juga terjadi di Lebanon.”

Lalu, di paragraf 5, Kompas menulis: Banyak organisasi, termasuk Hezbollah Lebanon, mendorong warga merayakan Asyura bukan dengan mendonorkan darah ke bank darah, tetapi menetesi jalan-jalan di Nabatieh, Rabu.

screen shot berita Kompas versi lama

screen shot berita Kompas versi lama

Padahal kalimat aslinya, di The Independent, adalah sebagai berikut:

Many organisations, including Lebanon’s Hezbollah, encourage people wishing to observe Ashura to donate to blood banks instead, but in Nabatiyeh, a town in the south of the country, the streets were awash with blood on Wednesday. Many mourners were observed cutting their foreheads and beating themselves, blood covering their white clothes.

Kompas menulis bahwa Hizbullah mendorong warga untuk melukai diri, padahal The Independent justru jelas-jelas menulis sebaliknya: bahwa Hizbullah mendorong warga yang ikut prosesi Asyura untuk mendonasikan darah ke bank darah ketimbang mengucurkan darah dalam tradisi tatbir. Dari berita itu juga bisa disimpulkan bahwa tatbir bukanlah tradisi Lebanon, melainkan kawasan tertentu saja, yaitu Nabatieh. Sebagaimana di Indonesia di beberapa daerah juga punya tradisi berdarah-darah, misalnya, debus, tentu kita tidak bisa menyebutnya ‘budaya seluruh rakyat Indonesia’.

Juga, ada kalimat di the Independent yang diabaikan Kompas: Ritual ini telah dilarang dan sangat tidak dianjurkan oleh banyak pemerintahan dan ulama Syiah beberapa tahun belakangan akibat berbagai risiko kesehatan yang terkait dengannya.

Dalam kesalahan ini, Kompas seperti telah bergabung dengan media sektarian Wahabi yang selama lima tahun terakhir sejak Perang Suriah selalu menyebarluaskan berita-berita yang memicu sektarianisme di Indonesia, dengan menjadikan kaum Syiah sebagai musuh yang halal darahnya.

Namun syukurlah Kompas sudah mengubah isi beritanya dan mengganti foto yang digunakan. Semoga Kompas dan kita semua meresapi tagline Kompas yang indah ini “rayakan perbedaan”. Mari hidup damai di Indonesia tanpa saling mengkafirkan; apalagi dengan berbasis berita-berita fitnah. (fa)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL