Foto: socioecohistory.wordpress.com

Foto: socioecohistory.wordpress.com

LiputanIslam.com — Pertama kalinya dalam sejarah, kedutaan Israel ditutup di seluruh dunia pada Maret lalu. Menurut informasi yang beredar, pada umumnya meyakini hal tersebut terjadi lantaran para karyawan Kementerian Luar Negeri Israel tidak puas dengan gaji dan kesejahteraan mereka. Kabarnya, masalah itu sudah berlangsung hampir dua tahun terakhir dan setelah tujuh bulan bernegosiasi—terakhir pada 4 Maret 2014, para karyawan tersebut menolak proposal yang ditawarkan Departemen Keuangan Israel. Akibatnya, Kedubes Israel di seluruh dunia tidak beroperasi.

Apakah Israel merupakan negara “gagal” yang tidak mampu memenuhi kesejahteraan pegawainya? Mungkin saja, tapi mengapa harus pegawai di kedutaan? Mengapa bukan para pegawai yang berlokasi di Israel? Apakah Israel melakukan diskriminasi terhadap pegawainya?

False Flag di USS Liberty, Teror 9/11, Tsunami di Jepang

Pada tahun 1967 silam, Pengganti Kennedy setelah kematiannya yang tragis adalah Wapres Lyndon B Johnson, yang dilantik menjadi presiden pada hari yang sama dengan tanggal pembunuhan Presiden Kennedy, dan di bawah Lyndon Amerika berubah menjadi “anjing penjaga yang baik” bagi Israel.

Dalam Perang 6 Hari melawan Arab tahun 1967, Johnson membiarkan kapal USS Liberty diserang habis-habisan oleh Israel di perairan internasional di lepas pantai Gaza sebagai bagian dari operasi bendera palsu. Operasi bendera palsu adalah operasi intelijen yang bertujuan menimpakan kesalahan kepada musuh untuk mendapatkan keuntungan strategis berupa conditioning operasi intelijen yang lebih besar dan juga operasi militer.

Saat itu Israel menyusun skenario, yaitu melakukan serangan terhadap kapal USS Liberty  yang akan dituduhkan kepada Mesir sehingga hal tersebut akan dijadikan alasan oleh Amerika untuk membantu Israel dengan menyerang dan menduduki wilayah Mesir. Malang bagi Israel, operasi tersebut gagal.

Lanjut ke Amerika Serikat, ketika terjadi peristiwa 9/11 di AS, dilaporkan bahwa sekitar 4.000 karyawan Yahudi secara serentak tidak masuk kerja. Sehingga mereka semua selamat dan tidak ada korban Yahudi dalam peristiwa tersebut. Apakah hal ini sebuah kebetulan?

Begitu pula halnya dengan kejadian tsunami di Jepang pada tahun 2011 silam. Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 menghantam timur laut Jepang, dan menyebabkan banyak korban, kebakaran, dan tsunami sekitar 4 meter di sepanjang pantai.

Lalu setelahnya, gempa susulan kembali terjadi dan memicu gelombang tsunami setinggi 10 meter. Akibatnya, ribuan warga tewas dan lebih dari duapuluh ribu lebihbangunan rusak.

Namun anehnya, beberapa saat sebelum bencana, semua pekerja Magna BSP yang bekerja di Fukushima pulang ke Israel. Magna BSP adalah perusahaan “Sistem Keamanan”, yang berurusan dengan pengembangan, manufaktur dan pemasaran sistem radar elektro-optik pasif yang unik.

Israeli Rotem Industries Ltd mengungkapkan, Magna BSP Ltd merupakan co-proyek dari pengusaha Haim Sibony dan berada dibawah naungan Teknologi Inkubator Dimona, sebagian dibiayai oleh Kantor Kepala Ilmuwan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Israel (OCS). (beforeitnews, 23 Maret 2014)

Pada ketiga kasus diatas, Israel melakukan operasi bendera palsu –terlepas dari gagal atau berhasil. Dan khusus pada serangan 9/11 dan bencana tsunami di Jepang, ada peristiwa yang sama: orang Yahudi dan pekerja Israel selamat, saat kejadian tidak berada ditempat. Kebetulan?

Gordon Duff, seorang veteran perang Vietnam, yang kini menjadi editor di media Veteran Today, kepada Press TV mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, sejarawan Israel Martin van Creveld, menyatakan bahwa Israel siap untuk menggunakan senjata nuklir terhadap ibukota negara di seluruh dunia jika “Negara Yahudi” terancam.

Memang telah lama beredar rumor bahwa Israel menyimpan senjata nuklir di semua kedutaannya, kendati banyak pihak tidak percaya. SNM (Special Nuclear Material) atau Bahan Nuklir Khusus merupakan senjata nuklir yang mengeluarkan foton energi tinggi. Dan kini, keberadaan SNM bisa terdeteksi oleh sensor berbasis satelit kendati tersimpan dalam wadah terlindung.

Sebuah sumber menunjukkan bahwa SNM telah terdeteksi di kedutaan Israel dan fasilitas konsuler. Sehingga, pengamat menyimpulkan bahwa pada kenyataannya, memang ada rencana perang yang mencakup serangan simultan di kedutaan / fasilitas konsuler di seluruh dunia untuk target TBD (To Be Determined) atau negara yang akan ditentukan dalam “keadaan khusus”. (ba/LiputanIslam.com)

Bersambung ke bagian kedua

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL