Arab saudi obamaLiputanIslam.com — Setelah lebih dari 190.000 korban jiwa jatuh di Suriah, setelah negara yang indah itu hancur lebur, setelah wanita-wanita menjadi janda, setelah anak-anak Suriah menjadi yatim, setelah mereka hidup merana di pengungsian yang disebabkan oleh badai terorisme, kini datanglah juru selamat palsu, yang mengajarkan kepada kita, bagaimana caranya membentengi diri dari paham dan ideologi ekstrim. Lucu !

Perhatikan cuplikan artikel berikut ini:

Kiat Membentengi Masyarakat Dari Ideologi Ekstrim

Terorisme bersumber dari ideologi Islam garis keras, yang menganggap bahwa mengangkat senjata adalah solusi dari permasalahan. Untuk itu, seorang anggota Komite Rehabilitasi Korban Terorisme Kerajaan Arab Saudi, Mus’id Al-Husaini, memberikan delapan kiat bagi pemerintah Indonesia untuk mencegah penyebaran ideologi ekstrem seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). (Baca: Lima Teori Munculnya Terorisme)

Mus’id diundang Perhimpunan Al-Irsyad untuk membagi pengalamannya menangani korban paham terorisme pada dialog ‘Antisipasi Nasional Terhadap Pengaruh Gerakan ISIS’ di Hotel Royal Kuningan Jakarta, Senin, 18 Agustus 2014. (Baca: Warga Arab Saudi Bertempur di Suriah)

Kiat mencegah terorisme, antara lain; segenap pihak menyosialisasikan dengan intensif bahaya pemikiran ekstrem ini. Hal ini sudah dilakukan di Arab Saudi, melalui Departemen Dalam Negeri. (Baca:Jaringan Teror Bandar Bin Sultan, Pangeran Arab Saudi)

“Pengalaman kami, pemuda yang terekrut setelah mendapatkan pengarahan dan penanggulan, mereka mengatakan ‘kok baru sekarang kami mendapatkan penjelasan ini, mengapa tidak dari dulu’,” ucapnya. (Baca: Arab Saudi Biang Teroris)

Ia juga menyarankan agar memasukkan paham Islam sebagai agama yang moderat dan mengedepankan akhlak yang baik ke dalam kurikulum pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Selanjutnya, masyarakat aktif mendorong pemerintah untuk mengontrol dan mengawasi media sosial dan media massa yang kerap menjadi media penyebaran pemikiran ini. (Baca: Arab Saudi Dukung Terorisme di Timur Tengah)

“Ini kewajaban negara memerangi pornografi dan kemaksiatan. Ada aksi dan reaski. Reaksi atas kemaksiatan itu lepas kontrol,” tambahnya, seperti dilansir Tribunnews.

Kiat selanjutnya, menurut doktor bidang ilmu tafsir Universitas Islam Madinah ini, negara-negara Islam harus menunjukkan partisipasi maksimal mereka dalam menolak tindakan sewenang-wenang Israel. (Baca: Ulama Arab Saudi Larang Pelaknatan Kepada Israel)

Pemerintah Indonesia, lanjut Mus’id, harus membuat program yang dapat membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Karena kesejahteraan dan kesibukan akan mengurangi kesempatan mereka berinteraksi dengan kelompok ekstremis. (Baca: Mufti Agung Saudi Larang Unjuk Rasa Peduli Gaza)

Selain itu, Indonesia harus mengefektifkan studi banding dengan negara-negara yang berhasil memerangi dan memulihkan korban ideologi terorisme. Dan terakhir, pemerintah harus berani mengadakan diskusi terbuka antara ulama dan tokoh penyebar pemikiran ekstrem. (Baca: Pejuang Palestina Kecam Ulama Arab Saudi )

Tentunya kita masih ingat, bagaimana Mr Moallem ketika menjadi wakil Suriah dalam perundingan Jenewa 2, mengecam keras negara-negara pendukung terorisme, seperi Arab Saudi, Turki, dan negara-negara Barat, yang menurutnya, telah menghancurkan tatanan kehidupan Suriah yang damai dalam kemajemukan. (Baca: Mr Moallem: Mari Bersatu Perangi Terorisme)

Tentunya kita juga masih ingat, bagaimana jaringan teror Bandar Bin Sultan, menggurita dan menyebarkan racun berbisanya di berbagai wilayah, baik di Suriah, Irak, Lebanon, maupun Yaman. (Baca: Mari Selamatkan Suriah yang Majemuk)

Sudah banyak sekali artikel yang dipublikasi oleh Liputan Islam (LI), terkait keterlibatan Arab Saudi dalam mendanai dan mendukung kelompok-kelompok terorisme. Namun sayang, mereka menderita kekalahan di Suriah, dan sebagaimana prediksi Bashar al- Assad dan Sayyid Hasan Nasrallah, kelompok teror ini akan menjadi bumerang saat kembali ke negara asalnya. (Baca: Prediksi Assad Terbukti Benar)

Sedangkan di sisi lain, kelompok-kelompok teror ini pun mulai menunjukkan kekejaman yang tiada tara, yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Mereka tak segan-segan untuk saling bantai, bahkan kepada kelompoknya sendiri. Mereka, telah sulit untuk dikendalikan, bahkan pucuk pimpinan Al-Qaeda, Ayman Zawahiri pun tidak mampu untuk mendamaikan ISIS dan Al-Nusra. (Baca: Teroris ISIS Bak Binatang Buas)

Maka, apa lagi yang harus dilakukan Arab Saudi, selain menyelamatkan diri, dan menyelamatkan muka? Kini ia pun hadir bak pahlawan, mengajarkan tentang Islam yang toleran, mengajarkan bahaya pemikiran ekstremis, dan bahkan, ia mengajarkan kita untuk melawan Israel. (Baca: Arab Saudi, Bersahabat Mesra dengan Israel)

Padahal disaat yang sama kita melihat, rakyat Palestina, segenap front muqawwama (perlawanan) justru mengecam diamnya Arab Saudi atas penderitaan mereka.  Sebaliknya, mereka selalu berterima kasih pada Iran, yang mendukung mereka tanpa batas. (Baca: Iran Suplay Hamas Dengan Roket Sijjil)

Sayyidina Ali pernah berwasiat, hendaknya kita bersikap adil, bersedia menerima nasehat tanpa melihat siapa yang mengucapkannya. “Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan,” begitu nasehat dari menantu Rasulullah ini.

Tentu saja, LI mengakui bahwa nasehat Mus’id Al-Husaini diatas, memang benar adanya. Namun tentu saja, hal itu tidak berarti LI mengabaikan jejak panjang Rezim Arab Saudi menumpahkan darah kaum Muslimin. Dengarlah Arab Saudi, sampai hari ini, LI masih bisa melihat dengan jelas, tangan Anda yang berlumuran darah itu. (ba)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL