al-islam_1

Klik untuk memperbesar

LiputanIslam.com — “Sebagai pelaksanaan Pakta Obama, pertemuan itu dilaksanakan di Jeddah. Pertemuan diatur oleh Kerry, yang kemudian diikuti oleh Saudi, Mesir, Lebanon, Turki, dan enam negara Teluk. Adapan Iran hadir in absentia dalam pertemuan tersebut. Adapaun Iran adalah bandul timbangan dalam tragedi di Irak, Suriah, bahkan Lebanon. Namun koordinasi antara Iran dan Amerika sejak pendudukan Irak dan Afghanistan sampai saat ini terus berlangsung. Kadang dilakukan di belakang layar, kadang tanpa layar…”

Itulah sekelumit pernyataan yang terdapat di dalam buletin Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang dirilis pada 19 September 2014.

Lebih lanjut, pada halaman berikutnya, (HTI) juga menyatakan bahwa Bashar al-Assad dan ayahnya adalah boneka Amerika, yang melakukan kekejaman kepada rakyatnya – sebagaimana propaganda HTI yang selama ini masif didengungkan. Benarkah demikian adanya?

Pertama, kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu posisi Hizbut Tahrir dalam konflik yang terjadi di Suriah (yang akhirnya semakin meluas ke negara-negara tetangga). Sebagai ormas yang mendukung khilafah, HTI sejak awal konflik di Suriah mengambil sikap mendukung pasukan pemberontak Suriah, yaitu faksi Jahbah Al-Nusra. HTI juga gencar menyuarakan jihad di Suriah, dan melakukan berbagai penggalangan dana sebagai wujud solidaritas. Tak hanya itu, HTI juga aktif menyebarkan foto-foto palsu yang direkayasa untuk mengaburkan fakta yang terjadi di Suriah dengan mengobarkan isu sekterian, dan contoh manipulasi HTI bisa dibaca di sini, di sini.

Namun kemudian, tatkala kekejaman pemberontak menuai kecaman internasional, dan terjadi pertikaian antar faksi jihadis (FSA vs Al-Nusra vs ISIS), maka HTI pun cuci tangan dan menyatakan bahwa jika ada anggota HTI yang bertempur di Suriah, maka itu semata-mata adalah kehendak pribadi, bukan mewakili ormas (padahal seluruh dunia mengetahui peran HTI dalam menyerukan jihad di Syam yang dianggap sebagai tonggak penegakan khilafah).

Terkait false flag AS terkait video pemenggalan James Foley oleh ISIS, HTI juga tampil bak pahlawan dengan turut mengungkap video palsu tersebut. Namun tentunya, publik juga tidak akan bisa melupakan begitu saja – bahwa HTI pun kerap kali melakukan penyesatan informasi dan penyebaran foto-foto palsu.

Kedua, Liputan Islam telah berkali-kali mengulas kehidupan di Suriah sebelum konflik pada tahun 2011. Suriah adalah negara yang damai, tentram, rakyatnya dari berbagai etnis dan agama hidup berdampingan. LI telah mewawancarai seorang mahasiswa Nahdlatul Ulama yang telah berada di Suriah selama 10 tahun. Kesaksiannya bisa dibaca di sini.

Lalu, Bashar al-Assad dan ayahnya juga bukan boneka AS sebagaimana yang dituduhkan. Justru, Suriah disebut sebagai negara “Poros Setan” oleh Bush. Dan perang Suriah sendiri memang dirancang untuk mengamankan eksistensi Israel, mengingat hingga saat ini Suriah dan Israel masih berstatus gencatan senjata saja, tidak ada perdamaian apalagi hubungan diplomatik. Di sisi lain, Suriah menjadi negara yang paling gigih mendukung kelompok perlawanan seperti Hamas, Jihad Islam dan Hizbullah.

Ketiga, Iran juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS. Justru, Iran telah diembargo  sejak revolusi Islam tahun 1979, jadi sudah 35 tahun lamanya. Setiap argumen, tentunya dibutuhkan data yang valid, bukan hanya sekedar asumsi “kerjasama dibalik layar atau tanpa layar” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, Iran juga mendapat predikat “State Sponsor of Terorism”.

al-islam_2“State Sponsors of Terrorism” atau dalam bahasa kita “Negara Sponsor Terorisme” adalah predikat yang diberikan oleh Deplu AS bagi negara-negara yang telah “berulang kali memberikan dukungan untuk aksi terorisme internasional.”  Masuknya suatu negara ke dalam daftar ini memiliki konsekuensi negara tersebut akan mendapatkan berbagai sanksi yang ketat.

Daftar negara-negara yang tergolong ke dalam “Negara Sponsor Terorisme” ini pertama diberlakukan pada  tanggal 29 Desember 1979, dengan Libya menduduki daftar pertama, lalu disusul Irak, kemudian Yaman Selatan, dan Suriah. Kuba telah ditambahkan ke dalam daftar pada tanggal 1 Maret 1982; dan Iran ditambahkan pada tanggal 19 Januari 1984.

Terkait dengan koalisi yang digalang Obama dalam operasi ‘memerangi ISIS’, silahkan disimak bagaimana pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan oleh petinggi Iran, di sini, di sini, dan di sini. Intinya, Iran justru mengecam upaya yang ditempuh Obama.

Deputi Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran Brigjen Massoud Jazayeri menyebut koalisi anti ISIS yang digalang Amerika Serikat (AS) sebagai koalisi teroris melawan teroris.

“Kita sekarang menyaksikan terbentuknya sebuah koalisi bohong dan dagelan dalam sejarah di tengah situasi yang sedang melanda bagian barat Asia… Koalisi ini adalah koalisi teroris melawan teroris. Koalisi ini merupakan lelucon sejarah, dan banyak bukti, petunjuk dan argumen tentang ini,” kata Jazayeri dalam wawancara eksklusif dengan Alalam,Senin (22/9).

Dia menilai AS tidak memiliki legitimasi apapun dalam upayanya memerangi terorisme, apalagi AS sendiri merupakan negara yang mensponsori para teroris. Menurutnya, koalisi anti ISIS yang digalang AS hanyalah bagian dari strategi AS untuk tetap eksis di kawasan Timur Tengah.

Sah-sah saja jika HTI merilis tabloid dengan artikel hasil imajinasi/ khayalan, namun Insya Allah, Liputan Islam akan turut hadir memberikan data-data yang faktual, valid dan bisa diverifikasi. Pada akhirnya, pembaca yang cerdas akan mengetahui, mana yang layak dipercaya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL