Buku Memoar Sadeq Tabatabai

LiputanIslam.com–Sebuah situs takfiri memuat artikel berjudul “Buku “Revolusi Iran” Ungkap Penculikan Petinggi Syiah Lebanon oleh Khomeini”. Tulisan itu sebenarnya sudah dimuat sejak tahun 2016 namun penulis baru membacanya. Karena isinya banyak penyesatan informasi penulis merasa perlu memberikan tabayun.

Dalam artikel itu dibahas buku karya penulis Amerika bernama Andrew Scott Cooper yang berjudul “The Fall ofe Heaven: The Pahlavis and the Final Days of Imperial Iran“. Menurut artikel itu:

Dijelaskan bahwa Mohammad Reza Pahlevi Presiden Iran saat itu, telah menjalin kontak rahasia dengan Musa As-Sadr. Selain itu, dikabarkan juga bahwa Musa As-Sadr ingin bertolak ke Iran untuk menggagalkan upaya kudeta yang akan dilancarkan oleh Khomeini saat itu. Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum lengsernya rezim Reza Pahlevi pada tahun 1978.

Di dalam buku yang berjudul “The Fall Of Heaven The Pahlevis And The Final Days Of Iran, Imperial Iran”, dijelaskan bahwa Khomeini merasa bahwa As-Sadr akan mengancam ambisinya di Iran. Hal itu menjadi gambaran bahwa Khomeini telah menyingkirkan As-Sadr. Dengan kata lain, keberhasilan Khomeini dalam usahanya menyingkirkan As-Sadr menjadi salah satu pilar keberhasilannya dalam menggerakkan revolusi Syiah dan mengulingkan Reza Pahlevi dari jabatan.

Ini jelas pernyataan yang ahistoris.

Banyak fakta yang membuktikan bahwa justru Ayatullah Musa Sadr adalah pendukung setia Imam Khomeini. Di antara mereka juga terjalin ikatan kekerabatan. Menantu Imam Khomeini adalah keponakan kesayangan Ayatullah Musa Sadr, yaitu Fathimah Tabatabai (istri dari Ahmad Khomeini, putra Imam, wafat 1995).

Kakak kandung Fathimah, yaitu Dr. Sadeq Tabatabai (wafat tahun 2015) adalah tangan kanan dan orang paling dekat serta paling dipercaya oleh Imam Khomeini. Sadeg-lah yang mengurusi Imam Khomeini selama beliau diasingkan oleh rezim Pahlevi, mulai dari Najaf (Irak), lalu pindah ke Paris. Selama di Paris, Sadeq yang mendampingi Imam, begitu pula setelah Imam kembali ke Iran, hingga meninggal dunia.

Selain itu, anak kandung lelaki Ayatullah Musa Sadr menikah dengan cucu Imam Khomeini.

Selain hubungan kekerabatan, Ayatullah Musa Sadr juga sangat dekat dalam urusan akademik. Beliau adalah murid Imam Khomeini di hauzah ilmiah (pusat studi ilmu-ilmu agama) di kota Qom.

Dari sisi kronologi waktu, tuduhan bahwa Imam Khomeini menyingkirkan Ayatullah Musa Sadr juga sangat salah kaprah. Ayatullah Musa Sadr menghilang pada Agustus 1978. Waktu itu Imam Khomeini masih dalam masa pembuangan di Najaf (Irak) dan posisi beliau sedang sangat lemah karena intimidasi Presiden Irak, Saddam Huseein. Pada Oktober 1978 Imam diusir oleh Saddam. Awalnya, Imam akan pindah ke Kuwait, namun pemerintah Kuwait tidak mau menerima Imam.

Lalu, Sadeq Tabatabai mengusahakan agar Imam mendapatkan visa ke Jerman (karena Sadeq Tabatabai pernah lama tinggal di Jerman) , tapi juga ditolak. Akhirnya Sadeq mengupayakan visa masuk ke beberapa negara Eropa dan Perancis yang paling cepat memberikan persetujuan.

Imam dengan ditemani Sadeq dan Ahmad Khomeini pun terbang dari Baghdad langsung ke Paris. Mulai November 1978, Imam pun tinggal di Perancis dengan menggunakan visa turis. Pada Januari 1979, setelah Shah lari dari Iran karena demonstrasi rakyat menolak Shah semakin hebat, Imam Khomeini pun pulang ke Iran.

Ayatullah Musa Sadr menghilang pada Agustus 1978. Pihak Iran hanya tahu bahwa beliau terbang ke Libya, dan tidak pernah keluar lagi dari sana. Sehingga sampai saat ini, pihak Iran menyatakan Qaddafi-lah yang telah menculik Ayatullah Musa Sadr dan terus meminta kejelasan dimana beliau sekarang; bila sudah meninggal, Iran meminta dikembalikan jasadnya. Namun pihak Libya menyatakan bahwa Ayatullah Musa sudah keluar dari Libya untuk pergi ke Italia, padahal tak pernah ada data bahwa Ayatullah Musa masuk ke Italia.

Pada Agustus 1978 itu, Imam Khomeini sama sekali belum ada rencana apapun mengenai masa depan politik Iran. Seperti diceritakan, beliau bahkan sedang terlunta-lunta, diintimidasi Saddam Husein dan agen-agen SAVAK (intel rezim Shah), diusir dari Irak, lalu sedang mencari-cari negara lain yang mau menerimanya). Bahkan setahun sebelumnya, Oktober 1977, putranya Mustafa Khomeini dibunuh oleh intel SAVAK bekerja sama dengan intel Irak.

Di saat itu pula, rezim Shah Pahlevi sedang merasa berjaya, sampai membuat acara pesta besar-besaran mengundang kepala negara dari berbagai negara; untuk memperingati 3000 tahun kejayaan monarkhi Iran.

Sementara, Imam “hanyalah” seorang ulama, yang melawan rezim dengan khutbah-khutbahnya. Dalam buku memoar yang ditulis oleh Sadeq Tabatabai dan buku memoar yang ditulis oleh Ahmad Khomeini, keduanya menyatakan bahwa periode itu adalah periode yang paling suram bagi Imam dan para sahabatnya. Mereka bahkan sudah bersiap menjadi ‘nomad’ atau pengungsi yang berpindah-pindah dari satu airport di satu negara ke airport lain di negara lain jika tak ada negara yang bersedia memberi visa. Dalam keadaan seperti itu, sungguh sangat mengada-ada bila disebutkan bahwa Imam berkonspirasi tingkat tinggi di level internasional untuk menyingkirkan sahabatnya sendiri.

Banyak pengamat yang menulis bahwa kemenangan Revolusi Islam Iran memang sangat tak diduga. Pihak AS pun sangat ‘kecolongan’. Tak ada staf kedubes AS di Teheran yang memprediksi terjadinya perubahan politik yang sangat cepat itu. Demonstrasi massa sudah tak terbendung lagi, lalu militer berbalik mendukung rakyat. Pada 16 Januari 1979, Shah pun cepat-cepat meninggalkan Iran dengan alasan berobat, namun tak pernah kembali lagi sampai meninggal dunia di Mesir tahun 1980.

Imam Khomeini kemudian kembali ke Iran pada 1 Februari 1979 setelah 15 tahun hidup di pengasingan. Pada 1 April 1979 diadakan referendum nasional yang hasilnya, mayoritas rakyat sepakat untuk mendirikan Republik Islam Iran.

Imam Khomeini mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa rezim Qaddafi adalah pihak yang bertanggung jawab atas nasib Ayatullah Musa Sadr. Pemerintah Iran sangat serius mengupayakan pengusutan kasus ini, bahkan dibuat komite khusus di Parlemen yang bertugas melacak jejak Ayatullah Musa Sadr.

Kabar terakhir, putri Ayatullah Musa Sadr pada Februari 2018, menyatakan bahwa ia yakin ayahnya masih hidup dalam penjara Libya. (Aura Illya)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*