Al Mustaqbal menjawabLiputanIslam.com — Pada tulisan sebelumnya, diketahui bahwa media pro-ISIS, tidak terima dengan adanya anggapan bahwa ISIS merupakan rekayasa Syiah, dan untuk itu, mereka pun membuat bantahan dengan menyebutkan, bahwa telah banyak orang-orang Syiah yang mereka bantai.

Namun,  jika ISIS benar-benar memerangi Syiah, lalu mengapa ISIS tidak menyerang Iran, negara yang penduduknya mayoritas pemeluk mazhab Syiah? Dan inilah, jawaban mereka, seperti dilansirAl-Mustaqbal:

Jawabannya sebagaimana statemen reski Juru Bicara ISIS ketika itu, Syekh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami Hafizahullah, yang dikeluarkan pada bulan Rajab 1435 Hijriyyah atau bertepatan dengan bulan Mei 2014.

Beliau mengatakan :

“Dan karena itu, para pemimpin Daulah Islam menyampaikan pernyataan kepada Qo’idatul Jihad sebagaimana prajurit kepada amirnya. Dengan begitu Daulah Islam berpegang pada arahan dan nasehat syuyukh al-Qaeda. Oleh karena itu, Daulah Islam tidak menghantam rafidhah di Iran semenjak didirikan. Dan rafidhah dibiarkan aman di Iran. Dan para tentara Daulah menahan amarah yang meluap-luap, meski mereka mampu untuk mengubah Iran menjadi genangan darah. Ia menahan ini selama bertahun-tahun dan menanggung tuduhan bahwa Daulah merupakan antek Iran, musuhnya paling ia benci. Hal itu menjalankan perintah A-Qaeda dengan menjaga kepentingannya dan pelebarannya ke Iran.

Ya, tentara Daulah menahan diri dan menggigit kemarahannya selama bertahun-tahun untuk menjaga persatuan kalimat mujahidin. Maka hendaklah sejarah mencatat bahwa di leher-leher Iran ada hutang tehadap Al-Qaeda.

Hal kedua yang tak kalah ganjil, dan patut dipertanyakan dari argumen ini adalah,”Sejak kapan ISIS mematuhi perintah Al-Qaeda?”

Kita kembali harus melihat ke belakang. Pada awalnya, kita mengenal ada faksi teroris Jabhat Al-Nusra, yang beraffiliasi dengan Al-Qaeda di Suriah. Kelompok ini berada dalam komando Mohammad Golani.

Di tahun 2013, kelompok Negara Islam Irak yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi, melebarkan invasinya memasuki Suriah, yang dan karenanya, mereka disebut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Tentu, pada awalnya kedatangan ISIS adalah suntikan tenaga baru bagi kelompok anti-Assad, karena mereka memiliki sekutu baru. Tapi apa lacur, faksi jihadis ini mulai saling serang. Seperti kejadian di sini, di sini dan di sini.

Pertikaian ISIS dan Al-Nusra, yang keduanya merupakan ‘anak kandung’ Al-Qaeda, tak juga bisa dileraikan, bahkan oleh Ayman Al-Zawahiri. Saat itu Zawahiri menghimbau kepada ISIS untuk menghentikan pertikaian antar faksi jihadis, dan mempercayakan Suriah kepada front Al-Nusra.

Namun, ISIS tidak mematuhi himbauan tersebut, sehingga akhirnya, Al-Qaeda secara resmi menolak mengakui ISIS sebagai bagian dari Al-Qaeda. Perhatikan cuplikan berita ini:

“Al-Qaeda mengumumkan tidak memiliki hubungan dengan ISIL, tidak mendapat informasi tentang pembentukannya dan tidak menerima (kelahirannya),” tulis Al-Qaida sebagaimana dimuat dalam beberapa situs milik kelompok-kelompok takfiri hari Minggu, 2 Februari 2014.

“ISIL bukanlah cabang dari Al-Qaeda, tidak memiliki kaitan dengannya dan Al-Qaeda tidak bertanggungjawab atas tindakan-tindakannya,” tambah pernyataan tersebut.

Pengumuman tersebut merupakan kelanjutan dari perintah yang dikeluarkan pemimpin Al Qaada Ayman al-Zawahiri beberapa waktu sebelumnya yang memerintahkan ISIS untuk membubarkan diri dan kembali ke Irak seraya menunjuk Al-Nusra sebagai cabang resmi Al-Qaeda.

Selama berbulan-bulan kelompok-kelompok pemberontak Suriah terlibat dalam persaingan perebutan pengaruh yang berujung pada konflik bersenjata yang mematikan. Bila sebelumnya persaingan terjadi terutama antara kelompok-kelompok pemberontak yang beridiologi nasionalis-moderat-sekuler dengan kelompok-kelompok ekstremis Islam, saat ini persaingan sengit justru terjadi antara kelompok-kelompok ekstremis Islam seperti al Nusra Front dengan ISIS. (Baca: Bila Al-Qaeda Mencampakkan ISIS)

Dan ISIS semakin tidak bisa dikendalikan. Kelompok ini tetap bertahan di Suriah dan mempertontonkan kebengisannya yang tiada tara. Dan harus dicatat, ISIS bahkan tidak diakui sebagai bagian Al-Qaeda lagi.

Lalu mengapa, terkait himbauan Al-Qaeda untuk tidak menginvansi Iran – ISIS mematuhinya? Namun himbauan Al-Qaeda untuk meninggalkan Suriah – ISIS melanggarnya? Akibatnya, saat ini ISIS justru disebut sebagai rekayasa Syiah, dan sebagian yang lain, menyebut ISIS takut menyerang Iran. (ba)

.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL