sampah dan htiLiputanIslam.com –Para pendukung, kader, dan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia berkumpul di Stadion Gelora Bung Karno pada hari Minggu, 2 Juni 2013 untuk menghadiri Muktamar Khilafah (MK). Foto ini bersumber dari group di jejaring sosial, yang menunjukkan tampak halaman depan stadion dipenuhi sampah berserakan, padahal sudah banyak spanduk larangan membuang sampah sembarangan.

Muktamar Khilafah di Jakarta, yang konon dihadiri oleh ratusan ribu rakyat Indonesia yang rindu syariah dan khilafah mengundang wacana hangat, ada yang pro dan tentunya ada yang kontra.

Kehadiran HTI sendiri di Indonesia masih kontroversi. Di satu sisi, berkat para kadernya yang militan, HTI tumbuh menjadi organisasi yang mampu beranggotakan/ merangkul masyarakat dari berbagai lapisan, dari ibu-ibu rumah tangga hingga mahasiswa maupun aktivis sosial. Di sisi lain, HTI banyak mendapatkan pertentangan dikarenakan konsep khilafah yang diusung ala HTI dinilai tidak sesuai untuk Indonesia yang majemuk. Solusi khilafah yang sitawarkan HTI dalam menyelesaikan permasalahan umat cenderung terlihat  ‘menggantung’. Misalnya;

Listrik naik, khilafah solusinya

Bensin naik, khilafah solusinya

Korupsi, khilafah solusinya

Kemiskinan, khilafah solusinya

Banjir, khilafah solusinya dst

Sehingga, solusi ala HTI ini akan menimbulkan pertanyaan baru. Dengan khilafah, semua permasalahan langsung selesai. Apakah khilafah ini adalah sebuah sistem yang mirip sihir abrakadabra? 😀

Mungkin, kebersihan bukan dianggap sebagai hal yang vital bagi sebagian orang sehingga mereka bisa bersikap masa bodoh dengan sampah. Namun sejatinya, kebersihan ini merupakan aplikasi dari penghargaan terhadap diri. Dengan melatih diri untuk disiplin, seperti membuang sampah pada tempatnya walau terlihat sepele, niscaya memiliki manfaat  yang besar. Misalnya,  Anda dapat menyelamatkan seseorang dari bahaya terpeleset lantaran kulit pisang telah Anda buang di tempat sampah. Buang sampah bukan di tempat sampah tidak dipungkiri lagi merupakan salah satu penyebab timbulnya banjir. Sehingga, merubah diri harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melangkah dengan gegabah hendak merubah dunia. (LiputanIslam/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL