Amnesty Internasional, sebuah LSM internasional yang fokus di bidang “pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia” kembali membuat laporan Hoax tentang Suriah. Dalam laporan terbarunya yang berjudul “Rumah Jagal di Suriah”, AI mengklaim bahwa sejak 2011, pemerintah Suriah telah menggantung 13.000 tahanan di penjara Saydnaya.

Seperti biasa, tanpa memverifikasi terlebih dahulu, media-media mainstream segera memberitakan laporan ini. Misalnya, kantor berita Associate Press (yang diterjemahkan bergitu saja oleh media-media lain di seluruh dunia, termasuk media di Indonesia seperti Kompas, dll) menulis berita berjudul Report: At least 13,000 hanged in Syrian prison since 2011. Berikut ini kutipan berita itula:

BEIRUT (AP) — Pemerintah Suriah telah membunuh minimalnya 13.000 orang sejak awal revolusi 2011 dengan menggantung mereka di penjara di utara Damaskus, di penjara yang dikenal dengan istilah  “rumah jagal”, demikian dilaporkan Amnesty International Selasa (7 Februari 2017).

Bagaimana AP menyebut angka “minimalnya 13.000” padahal dalam laporan yang meragukan dari AI itu disebut angka 5.000-13.000? Angka yang rentangnya sangat besar ini pun sesuatu yang amat mencurigakan.

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa laporan AI ini hoax belaka.

  1. Rekam jejak AI selama ini memang sudah berkali-kali kedapatan membuat hoax untuk memuluskan agenda perang NATO, misalnya dalam isu ‘bayi-bayi yang dibunuh tentara Irak’ dan isu kejahatan kemanusiaan di Libya. Di awal konflik Suriah pun AI sudah merilis laporan hoax, menyebut ada kejahatan kemanusiaan di Suriah dan menyerukan “intervensi kemanusiaan” alias serangan NATO.
  2. Hampir semua saksi mata yang dikutip dalam laporan AI terindentifikasi sebagai bagian dari kelompok oposisi dan “mantan pejabat” yang tidak tinggal di Suriah. Sebagiannya disebutkan diwawancara jarak jauh, namun tidak jelas apakah mereka berada di kawasan yang dikontrol pemerintah atau di kawasan yang dikuasai milisi bersenjata.

Di halaman 9 disebutkan:

Mayoritas dari wawancara dilakukan secara langsung di selatan Turki. Sisanya dilakukan melalui telephone atau fasilitas komunikasi lainnya dengan orang-orang yang berada di Suriah, atau dengan individu-individu yang berada di Lebanon, Jordan, Eropa, dan AS.

Sudah diketahui publik bahwa pemberontakan di Suriah dibiayai miliaran dollar oleh negara-negara asing. Operasi penggulingan rezim ini juga didukung oleh propaganda yang canggih. Karena itu, penggunakan saksi-saksi dari satu pihak saja jelas tidak memenuhi standar penelitian yang valid, para saksi yang digunakan jelas memiliki kepentingan untuk menggulingkan rezim Assad. AI bahkan juga mewawancarai LSM yang didanai oleh negara-negara asing yang juga membiayai operasi penggulingan pemerintah Suriah, yaitu Urnammu for Justice and Human Rights, the Syrian Network for Human Rights, and the Syrian Institute for Justice and Accountability.

  1. Angka yang disebut oleh AI sangat jauh rentangnya (5000-13.000) dan angka ini berdasarkan kata-kata dari 2 (dua) saksi mata:

Orang-orang yang bekerja di penjara di Saydnaya mengatakan kepada Amnesty International bahwa eksekusi tanpa pengadilan terjadi mulai September 2011. Sejak saat itu, frekuensi pembunuhan semakin meningkat. Selama empat bulan pertama, biasanya 7-20 orang dieksekusi setiap 10-15 hari. Untuk 11 bulan berikutnya, 20-50 orang dieksekusi sekali seminggu, biasanya pada hari Senin malam. Untuk enam bulan berikutnya, 20 -50 orang dieksekusi sekali atau dua kali seminggu, biasanya pada hari Senin dan / atau Rabu malam. Keterangan saksi mantan tahanan penjara menunjukkan bahwa jumlah eksekusi sama atau lebih tinggi hingga Desember 2015. Dengan asumsi bahwa tingkat kematian sama dengan periode sebelumnya, Amnesty International memperkirakan bahwa telah terjadi eksekusi terhadap 5.000-13.000 orang tanpa diadili, antara September 2011 dan Desember 2015.

Di catatan kaki, AI menjelaskan penghitungannya dengan menggunakan kata-kata “jika”, “diasumsikan”, “seandainya benar” (If between seven and 20 were killed every 10-15 days from September to December 2011, the total figure would be between 56 people and 240 people for that period. Dst.) Sama sekali tidak ada proses verifikasi yang dilakukan AI dalam laporannya.

  1. AI jelas-jelas mendasarkan laporannya pada “kata orang”. Misalnya, kita lihat pada halaman 25, disebutkan:

“Hamid”, mantan pejabat militer yang ditahan pada 2012, mengenang suara yang dia dengar pada malam hari saat eksekusi, “Ada suara seperti sesuatu ditarik, seperti sepotong kayu, saya tidak yakin, dan kemudian Anda akan mendengar suara mereka digantung… Jika Anda menaruh telinga ke lantai, Anda akan mendengar suara seperti gemericik. Hal ini akan berlangsung 10 menit. Kami tidur di tengah suara orang tercekik hampir mati. Akhirnya saya terbiasa mendengarnya.”

Sebuah pengadilan mungkin akan menerima kesaksian bahwa “suara yang saya tidak yakin” atau “seperti gemericik” sebagai bukti adanya keran air, bukan sebagai bukti adanya pembunuhan. Dari seluruh saksi yang diwawancarai AI, hanya dua orang (mantan petugas penjara dan mantan hakim) yang mendeskripsikan kejadian pembunuhan di penjara, itupun tidak jelas, apa mereka menyaksikan langsung atau mendeskripsikan sesuatu yang mereka dengar dari orang lain.

  1. Angka korban yang diberikan AI 5.000-13.000, namuan mereka hanya bisa memberikan 59 nama (halaman 30) itupun dengan kalimat, “Bukti yang dikumpulkan dalam laporan ini amat mengesankan (strongly suggest) bahwa mereka dibunuh tanpa diadili.”
  2. Laporan ini dilengkapi dengan foto satelit yang disebut sebagai ‘kawasan pekuburan yang diperluas’ dan disebutkan bahwa di sanalah dikuburkan para tahanan yang dieksekusi. Tapi sama sekali tidak ada bukti atas pernyataan itu. Banyak orang, di kedua pihak, yang tewas selama perang. Dan kawasan yang ditunjukkan adalah Kawasan Perkuburan Syuhada di selatan Damaskus. Apa mungkin para tahanan yang anti-pemerintah diberi penghargaan sebagai syuhada?
  3. Laporan ini berkali-kali menyebut ‘dieksekusi tanpa diadili’, namun di bagian lain juga disebut bahwa eksekusi dilakukan atas persetujuan Mufti Agung Suriah. Tapi lagi-lagi, tidak ada bukti atas hal ini. Suriah adalah negara sekuler. Mufti sama sekali tidak punya peran dalam hukum Suriah. Seperti ditulis di sebuah disertasi di Swiss tahun 2010 yang dikutip di sini: di Suriah, seorang mufti adalah pakar hukum agama yang memiliki kekuasaan untuk memberikan rekomendasi yang tidak mengikat (legally non-binding recommendations) terkait hukum Islam (fatwa).

Sama sekali tidak ada hukum atau UU di Syria yeng menyebutkan bahwa Mufti Agung punya peran dalam proses pengadilan sipil dan militer. UU Suriah memang mengizinkan hukuman mati untuk kejahatan yang sangat berat, tetapi sebelum 2011 sangat jarang ada orang yang dihukum mati di Suriah. Mengingat “musuh” yang dihadapi pemerintah Suriah dalam perang sejak 2011 adalah AL Qaida, ISIS, dan kelompok-kelompok ekstrim lainnya, sangat mungkin pemerintah memberlakukan hukuman mati kepada mereka yang melakukan kejahatan berat. Tetapi pemerintah juga memberikan amnesti kepada ‘pemberontak’ yang menyerah dan meletakkan senjata.

Dari segala penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa laporan AI sama sekali tidak memenuhi standar sains ataupun legal. Laporan ini tak lebih dari hoax yang digunakan untuk propaganda agar dunia internasional menyetujui serangan NATO ke Suriah.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL