LiputanIslam.com–Setelah Ghouta timur dibebaskan dari cengkeraman milisi-milisi ‘jihad’ yang  berafiliasi dengan Al Qaida, berbagai video tersebar, menunjukkan kenyataan sebenarnya yang dialami warga selama ini.

Sejak 2012, wilayah Ghouta timur dikuasai oleh milisi-milisi ‘jihad’, warga sipil mengalami kekurangan makanan karena bahan pangan yang ada dikuasai oleh milisi dan dijual kepada warga dengan harga tinggi. Anak-anak pun tidak bersekolah, mereka dipaksa tinggal di rumah dan dipukul kalau keluar. Hal ini antara lain disampaikan warga dalam wawancara dengan jurnalis independen, Tom Duggan, videonya dapat dilihat di sini.

Di antara hal menarik yang disampaikan Duggan adalah, dia juga mewawancarai bekas anggota White Helmets, yang mengatakan bahwa mereka selama ini hanya disuruh berpura-pura menjadi tim relawan (tim SAR), padahal sebenarnya profesi mereka bukan di bidang tersebut.

Selama masa operasi pembebasan Ghouta timur oleh tentara Suriah, propaganda media Barat sangat masif menyudutkan pemerintah Suriah. Media-media Barat bahkan menyebut Ghouta sebagai ‘neraka dunia’. Tuduhan bahwa pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia juga disebar. Sumber informasi media-media tersebut adalah White Helmets.

Salah satu video rekayasa yang dibuat oleh White Helmet yang menggambarkan korban serangan pemerintah Suriah.

Namun pada 14 Februari 2018, Staf Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, menyatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa “PBB tidak dapat mengkonfirmasi secara independen tuduhan terkait penggunakan senjata kimia di beberapa wilayah di Suriah, di antaranya di Ghouta dan Idlib.”

Yang dimaksud Mistura adalah: sumber informasi mengenai adanya serangan itu adalah dari White Helmets, untuk mengetahui benar atau tidaknya informasi itu, baik PBB atau media massa internasional harus melakukan pengamatan langsung. Namun yang dilakukan oleh media massa internasional, termasuk kementerian luar negeri AS, adalah menyebarluaskan tuduhan sepihak itu.

Siapa White Helmets Sebenarnya?

Dalam sebuah investigasi yang diterbitkan oleh Sputnik pada Senin (12/3), jurnalis independen, Vanessa Beeley mengatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan beberapa dokumen yang menunjukkan bahwa White Helmet memainkan peran aktif di Suriah sebagai pendukung kelompok teroris. Ia menambahkan bahwa dimana pun al-Qaeda dan ISIS aktif dalam suatu negara, White Helmet selalu ada di daerah itu.

Kecurigaan Beeley semakin menguat setelah dirinya menemukan bukti bahwa White Helmet pertama kali muncul bukan di Suriah, tetapi di Turki. Tak hanya itu, White Helmet ternyata tidak muncul dari masyarakat, tetapi melalui wawancara yang dilakukan oleh James Le Mesurier pada tahun 2014, seorang spesialis keamanan rahasia Inggris dan pendiri intelijen militer.

“Melalui akun pribadinya, Le Mesurier dengan cepat menggalang dana sejumlah 300.000 dolar As, yang berasal dari AS dan Inggris. Pihak lain yang turun andil memberikan dana kepada Le Mesurier hingga mencapai 100 Juta dolar adalah berbagai NGO di Barat dan beberapa negara teluk. Belanda, Jerman, Denmark, dan Japan, adalah pihak lain yang turut terlibat,” ucapnya.

Dia menegaskan bahwa White Helmet adalah pemain penting yang terus mempropagandakan perlawanan kepada pemerintah Suriah. Di antara bentuk perlawanannya adalah tuduhan penggunaan senjata kimia yang dilakukan oleh pemerintah Suriah.

Beeley juga mengatakan bahwa White Helmet berulang-ulang telah mempublikasikan foto-foto hoax lengkap dengan video-video aksi penyelamatan yang direkayasa.

Beberapa dokter asal Swedia yang tergabung dalam SWEDHR (Asosiasi Profesor dan Dokter untuk HAM) pernah melakukan penelitian soal video-video buatan WH dan menyatakan bahwa anak-anak dalam video itu sebenarnya sudah tewas atau akhirnya tewas akibat tindakan medis yang diperlihatkan dalam video-video White Helmets itu adalah tindakan membahayakan pasien.

Bisa dibaca di sini dan sini

WH, Oscar, dan Komentar Assad

Dukungan besar Barat terhadap WH sangat terlihat dalam sisi propaganda. Sebuah perusahaan AS, Netflix, telah memproduksi film dokumenter berjudul The White Helmets.  Film itu berdurasi 40 menit bahkan meraih Piala Oscar pada 26 Februari 2017 kategori film dokumenter pendek terbaik.

Setahun yang lalu, Presiden Suriah, Bashar Assad diwawancarai televisi China, Phoenix TV, dan ditanyai mengenai Oscar yang diterima WH.

Assad menjawab:

“Pertama, kita harus mengucapkan selamat kepada al-Nusra yang telah meraih Oscar pertamanya. Ini adalah sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahwa Barat telah memberikan Oscar kepada Al Qaeda. Ini sungguh luar biasa, dan ini adalah bukti lain bahwa Oscar, Nobel, dan berbagai jenis penghargaan lain sesungguhnya adalah sertifikat yang dipolitisasi. Demikianlah saya memandang hal ini. Cerita tentang White Helmets sangat sederhana; itu adalah operasi ‘ganti wajah’ dari Al-Nusra untuk mengubah wajah buruk mereka menjadi wajah yang lebih manusiawi, itu saja.

Dan Anda bisa mendapatkan banyak video di internet yang mengutuk White Helmets sebagai kelompok teroris, di mana Anda dapat melihat orang yang sama mengenakan helm putih dan merayakan kematian tentara Suriah. [anggota WH direkam sedang bersuka ria di atas jasad tentara Suriah, atau bergembira sambil mengibarkan bendera Al Qaida—red].

Jadi, Oscar telah diserahkan [Hollywood] kepada para teroris. Cerita ini [kisah diberikannya Oscar kepada WH—red] hanya untuk mencoba mencegah kemajuan tentara Suriah dalam membebasan Aleppo, agar memunculkan lebih banyak tekanan dunia terhadap pemerintah Suriah, dengan mengatakan bahwa tentara Suriah dan Rusia menyerang warga sipil dan orang tak berdosa dan para relawan kemanusiaan.”

Namun demikian, wawancara Tom Duggan dengan anggota WH yang mengaku bahwa mereka hanya berakting menunjukkan satu kebenaran: anggota WH memang pintar berakting sehingga video-video mereka mendunia dan dipercayai oleh publik dunia. Mungkin memang mereka layak diberi Oscar karena kecanggihan mereka dalam berakting. (ra)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*