Fallujah

LiputanIslam.com — Memasuki tahun 2014, kota di Irak bagian barat di rebut oleh kelompok ISIS (yang saat itu disebut berafiliasi dengan Al-Qaeda), dan  lantas mereka mendeklarasikan berdirinya Negara Islam. Selama beberapa waktu terakhir, Fallujah menjadi medan tempur tiga kelompok yang berbeda dan membingungkan. Militer Irak, suku-suku lokal, dan militan yang berafiliasi dengan Al-Qaeda saling memerangi satu sama lain.

Bendera- bendera Irak diturunkan dan diganti dengan bendera khas Al-Qaeda dan aliansinya, mereka mengumumkan kepada warga Fallujah; berdirinya sebuah Emirat Islam yang akan mengayomi Fallujah dan yang akan membantu warga untuk melawan Perdana Menteri Irak al-Maliki.

Kehadiran ISIS sendiri ditentang suku-suku lokal, dan pemerintah Irak yang merasa wilayahnya ‘dicuri’ pun tidak tinggal diam. Tembakan demi tembakan terjadi hingga mau tak mau, rakyat Fallujah mendekam di dalam rumah untuk menghindari peluru nyasar. Sekolah-sekolah telah ditutup sejak krisis dimulai, anak-anak meninggalkan kota. Rumah sakit tidak memiliki obat. Listrik terputus. Anak-anak yang masih tinggal tidak bisa bermain-main di luar. Café juga ditutup, dan kini Fallujah telah menjadi kota mati yang kental aroma mesiu.

Rasanya jauh sekali dari impian sebuah Negara Islam – di lain kesempatan disebut khilafah yang akan  memberikan rahmat dan kesejahteraan di atas bumi. Kesejahteraan seperti apa yang bisa dibayangkan dari sebuah kota mati, yang dikepung oleh militer dari pemerintah yang tiap saat bisa menembakkan bogem mentah sementara di dalamnya dikuasai oleh militan yang terkenal kekejamannya terhadap orang yang tidak sepaham dengan mereka?

Inikah khilafah yang diimpikan oleh para pejuang khilafah?

Fallujah merupakan wilayah yang nyaris tidak pernah sepi dari konflik. Lokasinya berdekatan dengan Suriah dan Yordania, dan ditempati oleh muslim Sunni, sementara perdana menteri Irak adalah seorang muslim Syiah. Lantas, perbedaan mazhab inilah seperti yang terlihat dipermukaan merupakan pemicu konflik hadirnya kelompok-kelompok Sunni Iraq yang kemudian menentang al-Maliki. Orang-orang dari Fallujah sudah mengalami cukup pembantaian, penghancuran bangunan kuno kota dan masjid, dan senjata kimia mematikan dari pengepungan AS pada tahun 2004.

Di Amerika, Senator Mc Cain menyalahkan Obama atas kebijakannya menarik pasukan Amerika Serikat pada tahun 2011. Menurutnya, penarikan pasukan itulah yang mempermudah ‘musuh AS’ mengontrol Fallujah hari ini. Senator Lindsey Graham juga mengatakan hal yang serupa.

Yang jarang disorot adalah, ada pihak yang sangat cemas melihat perkembangan baru di Fallujah. Kecemasan mereka bukan karena prihatin dengan banyaknya warga sipil yang menjadi korban atas kekerasan yang terjadi, bukan karena konflik sekterian  Sunni – Syiah yang efeknya terasa di seluruh dunia Islam, mereka bukan mencemaskan kesulitan warga mendapatkan makanan dan obat-obatan ataupun karena rumah mereka yang menjadi sasaran tembak-menembak. Tidak sama sekali. Mereka hanya khawatir dengan minyak mereka ! Oh minyak…

“The worst scenario is for the Kurds to say, ‘OK, enough of you guys. We don’t want anything to do with you. All non-Kurds out.’ They can do that. They have the resources. They have a lot oil.” (Farouk El-Baz, research professor, Boston University)

Seorang Profesor dari Boston University mengungkapkan; “Skenario yang paling buruk terjadi adalah apabila orang Kurdi berkata;  OK, cukup. Kami tidak ingin berhubungan dengan Anda. Semua orang yang bukan etnis Kurdi harus menyingkir’ . Mereka bisa melakukan itu. Mereka memiliki banyak sumber daya alam, dan mereka memiliki minyak yang melimpah. “

Di lain pihak saat dalam situasi mencekam seperti ini, Kurdistan Regional Government (wilayah semi otonomi  di daerah Irak bagian utara) terlibat konfrontasi dengan pemerintah Maliki lantaran pejabat KRG mengumumkan langkah sepihak untuk mulai menjual minyak mentah diekstrak dari wilayahnya , dan akan dikirimkan melalui pipa ke pelabuhan di Turki, yaitu Ceyhan . Kementerian KRG mengatakan bahwa 2 juta barel minyak bumi akan dijual pada akhir bulan Januari, dengan ekspor terus meningkat dengan 12 juta barel pada akhir tahun. Sementara pemerintah pusat telah mengecam setiap transaksi sepihak tersebut.

Apakah konflik di Irak murni antara Sunni dan Syiah? Inikah khilafah yang diimpikan oleh para pejuang khilafah? Gegap gemita takbir oleh mereka yang disebut mujahidin, berakhir dengan perang mematikan yang belum diketahui kapan akan berakhir. (LiputanIslam.com/washingtonpost/ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL