buku-rohingyaLiputanIslam.com–Rohingya, menurut PBB, adalah kelompok minoritas yang paling banyak disiksa di seluruh dunia – termasuk antara lain: tidak diakuinya secara resmi mereka sebagai etnis minoritas di Myanmar dan bahkan tidak adanya pengakuan kewarganegaraan – meskipun mereka lahir di Myanmar. 

Awalnya, mereka mendapat perlakukan diskriminatif dari tetangga-tetangga mereka dari kelompok Budhis di Negara Bagian Rakhine, namun kemudian berdasarkan catatan dan investigasi lembaga-lembaga pemantau Hak Asasi Manusia, salah satunya Human Rights Watch Group (HRWG) menduga bahwa Rezim yang berkuasa di Myanmar saat ini juga berkomplot dalam kampanye penghilangan etnis atau genosida terhadap warga Muslim Rohingya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan yang semakin menjadi-jadi terhadap mereka, mulai dari penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, penyiksaan dan semakin parah terutama sejak tahun 2012 telah memaksa mereka mengungsi besar-besaran, tidak dapat bekerja, tidak bisa mengenyam pendidikan, tidak dapat dengan mudah untuk menikah, tidak memiliki hak untuk memilih, akses layanan kesehatan, berpergian di dalam negeri Myanmar dan terlebih lagi memiliki paspor. Banyak dari mereka yang kemudian terpaksa menyelamatkan diri, menjadi pelarian tanpa kewarganegaraan (stateless refugees); sementara beberapa di antaranya terpaksa menjadi budak-budak di beberapa kapal penangkapan ikan di perairan Asia Tenggara.

Demikian ditulis dalam buku “The Rohingyas” karya Azeem Ibrahim, PhD dari University of Cambridge., sebagaimana ditulis Mahmoud Syaltout dalam status facebooknya. Myanmar alias Burma alias Birmanie adalah negeri yang mengenal 135 etnis minoritas, namun pemerintahnya memperlakukan minoritas itu sangat buruk. Dari semua itu, perlakuan terburuk dari yang terburuk diberlakukan terhadap sekitar 1,3 juta orang-orang Rohingya.

Ibrahim dalam buku ini dapat menunjukkan bukti-bukti dan argumen yang valid, bahwa leluhur orang-orang Rohingya telah tinggal di Negara Bagian Rakhine (sebelumnya dikenal dengan sebutan Negara Bagian Arakan) jauh sebelum penaklukan Myanmar oleh Inggris pada tahun 1826.

Menurut penulis buku ini, permasalahan utama dari krisis kemanusiaan ini terjadi gara-gara upaya dari Pemerintah Myanmar saat ini untuk menarik dukungan dengan menemukan atau mencari “musuh internal” – yang dijadikan tumbal bersama. Selama transisi demokratik akhir-akhir ini, Partai Politik yang diasosiasikan dengan Junta Militer dekat dengan fundamentalis Budhis, sedangkan Partai Politik Pro-Demokrasi – yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, tampak malu-malu(in) menjauh dari isu ini – sebagai “jalan tengah”.

Etnis Rohingya memang layak dibantu. Namun, sayangnya, dukungan kaum Muslim Indonesia kepada kaum Rohingya memunculkan blunder. Banyak pihak yang menyebarkan foto-foto hoax bertajuk “penindasan orang Budha kepada Muslim”, sehingga membangkitkan kebencian sebagian orang kepada kaum Budha. Padahal, dalam Islam juga ada ISIS yang sangat sadis, dan umumnya umat Islam menolak disamakan dengan ISIS. Ekstrimisme ada di golongan manapun.

Menyebar foto-foto hoax dan membangkitkan kebencian kepada kaum Budha, justru membuat situasi jadi runyam. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Burma Human Rights Network (BHRN),  Kyaw WinKyaw Win, menyebarkan ajakan membenci orang Buddha (seperti foto hoax), malah jadi alasan bagi tentara di sana untuk semakin menyiksa orang Rohingya (Jakarta Post).
Banyak sekali foto-foto hoax sadis disebarkan terkait Rohingya, misalnya korban kebakaran di Kongo (mayat-mayat hangus) disebut sebagai orang Rohingya dibakar oleh orang Budha, atau bayi-bayi yang mati akibat badai topan, disebut dibunuh oleh orang Budha. Namun karena foto-foto tersebut cukup sadis, redaksi tidak memuatnya di sini.
Berikut ini beberapa di antara foto hoax soal Rohingya.
1. Penghinaan kepada Biksu, disebut “sudah ditangkap koalisi Turki”turki-rohingya
Ternyata, tidak ada kejadian seperti itu. Foto tersebut adalah foto para Biksu di Tibet yang ditangkap oleh tentara China. Justru di kejadian aslinya, para Biksu itu yang ditindas pemerintah Tibet. Berikut ini foto dan berita aslinya:
sumber: http://www.asianews.it/news-en/Pictures-emerge-showing-Chinese-repression-in-Tibet-23362.html

sumber: http://www.asianews.it/news-en/Pictures-emerge-showing-Chinese-repression-in-Tibet-23362.html

2. Foto anak Rohingya yang disiksa “karena mereka Muslim”.
hoax-myanmar1
LI tidak berhasil menemukan sumber pertama foto ini. Namun dari foto bisa dilihat kejanggalan, bila yang menyiksa adalah non-Muslim (Budha), mengapa wajah orang yang naik motor sama dengan anak-anak itu (wajah khas India)? Selain itu, foto ini sudah viral di medsos sejak 2008, misalnya di kaskus   dan disebut sebagai “guru yang menghukum murid-muridnya”.
3. Sering terjadi, isu Rohingya dimanfaatkan untuk mendiskreditkan pemerintah Indonesia. Misalnya, foto Foto Istri Erdogan datang ke Myanmar, disebut “datang ke Aceh” dan si penyebar hoax mempertanyakan “kemana ibu negara?” Foto disebar ratusan kali, dan komentar berisi caci-maki kepada pemerintah.
hoax-myanmar3
Padahal, seperti ditulis doktor Hubungan Internasional, Dina Sulaeman, di blognya, Indonesia selama 10 tahun masa pemerintahan SBY tidak berhasil menekan Myanmar agar mau mengakui hak-hak asasi orang Rohingya. Diplomasi pemerintah Indonesia sudah habis-habisan (“sudah extramile”) untuk membantu Rohingya. Namun pemerintah Myanmar memang sangat keras kepala. Untuk mau datang ke perundingan saja, pemerintah Myanmar harus didatangi dulu oleh Wakil Menlu AS. Karena itu, ironis sekali bila rakyat Indonesia sibuk menyalah-nyalahkan pemerintahnya sendiri atas perilaku arogan negara lain, tegas Dina. (fa)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL