Damaskus,LiputanIslam.com-Situs Shaam Times menurunkan laporan terkait kerusuhan yang terjadi di Prancis akhir-akhir ini. Dalam laporan tersebut, situs ini membahas cara peliputan berita kerusuhan itu di media-media berbahasa Arab.

Shaam Times membandingkan perbedaan sikap sejumlah media Arab terkait krisis Suriah dan unjuk rasa di Prancis. Di awal laporan, artikel ini membahas pentingnya pemilihan kata dan frasa yang digunakan media dalam perkembangan sebuah peristiwa.

Artikel ini menyebutkan, ada sebuah rangkaian kata dan istilah untuk memberitakan setiap peristiwa di masyarakat, termasuk perang, konflik, atau krisis (baik di bidang politik, ekonomi, sosial, atau militer) di media-media. Kata-kata yang digunakan ini memberikan makna baru kepada perisitwa tersebut. Pada hakikatnya, kata-kata yang digunakan untuk mendeskripsikan kejadian tersebut, akan berubah menjadi bagian dari versi kolektif masyarakat terkait peristiwa itu.

Artikel ini melihat dualisme nyata di sejumlah media berbahasa Arab saat memberitakan krisis Suriah dan kerusuhan di Prancis baru-baru ini. Berikut ini adalah sebagian dari dualisme tersebut:

Sejak dimulainya protes di Suriah, kita menyaksikan bahwa media-media berbahasa Arab di Teluk menggunakan kata “revolusi” untuk mendeskripsikan krisis di Suriah. Padahal, saat meliput kerusuhan penuh kekerasan yang sudah berlangsung selama dua pekan terakhir di Prancis, media-media ini menggunakan kata “unjuk rasa.” Sangat jelas bahwa dua kata ini memberikan efek yang berbeda di tataran politik, budaya, ekonomi, militer, dan psikologis terhadap nalar politik masyarakat.

Media-media Arab ini juga menggunakan kata-kata “militer Assad,” “kepala rezim Suriah,” dan “perangkat intelijen rezim Suriah” guna mendiskreditkan citra Bashar Assad (presiden Suriah) dan aparat keamanan negara tersebut. Di lain pihak, media-media yang sama memilih kata-kata “polisi Prancis,””aparat keamanan Prancis,” dan “presiden Prancis” saat meliput kerusuhan di Prancis.

Kendati terjadi banyak aksi kekerasan dalam kerusuhan Prancis dan terlukanya puluhan pengunjuk rasa akibat kekerasan polisi, media-media Arab ini berusaha mengesankan bahwa hubungan polisi dan para pengunjuk rasa Prancis “baik-baik saja.”

Padahal, polisi Prancis menggunakan berbagai sarana keras untuk menghadapi para pengunjuk rasa. Kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian Prancis tak bisa dibantah dengan adanya foto dan video yang mengungkap serangan mereka ke para pengunjuk rasa. Meski demikian, media-media Teluk ini berusaha mengesankan hal ini sebagai “kondisi yang lazim.” (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*