LiputanIslam.com–Konflik Suriah sudah berjalan 7 tahun. Berbagai daerah yang selama bertahun-tahun dikuasai oleh “mujahidin” alias pemberontak (pemerintah Suriah menyebutnya teroris, sedangkan PBB secara resmi sudah menyebut beberapa kelompok sebagai teroris, antara lain  ISIS dan Jabhah al Nusra) akhirnya satu demi satu dibebaskan oleh SAA (Tentara Arab Suriah).

Namun anehnya, setiap kali ada daerah penting yang dikuasai pemberontak hampir direbut oleh SAA, di Indonesia ada teriakan “Save” (misalnya, Save Aleppo dan Save Ghouta) dan disertai penggalangan dana yang dilakukan secara masif.

Sebuah media online, Indopress.id, baru-baru ini menayangkan laporan investigatifnya, yaitu mewawancarai ACT, MER-C, dan alumni Suriah.

Berikut ini kami kutip sebagian hasil wawancara  dengan ACT (sumber: Indopress.id)

“Hingga Senin pekan lalu, donasi yang terkumpul untuk Ghouta mencapai 11,6 miliar rupiah,” kata juru bicara ACT, Lukman Aziz Kurniawan, ketika menerima INDOPRESS.ID di kantornya, Jakarta, Kamis 15 Maret. Lukman bilang, baliho ‘Selamatkan Ghouta’ telah terpajang di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Papua.

Untuk menyalurkan bantuan fulus itu, ACT menerjunkan tim dari Indonesia menuju Turki. Di Istanbul, ACT memiliki kantor cabang dan bermitra dengan organisasi kemanusiaan Turki, Insani Yardim Vakfi atau yang tenar dengan singkatan IHH. Dengan jaringan seperti itu, Lukman bilang, mereka yakin bantuan mampu menembus masuk ke Ghouta Timur.

Sebagai catatan, jarak Ghouta Timur dari perbatasan Turki mencapai 450-an kilometer atau setara dengan jarak Jakarta-Semarang. Wilayah ini berbeda dengan Aleppo yang hanya 90-an kilometer dari perbatasan Turki, sehingga bantuan yang dikirim saat ramainya #SaveAleppo memiliki peluang lebih besar sampai ke tangan yang berhak ketimbang Ghouta Timur. Terlebih, jalur menuju Ghouta Timur dari Turki kini telah diambil alih oleh militer Suriah.

Lukman sendiri enggan menjelaskan, bagaimana bantuan itu bisa tiba di Ghouta dan tidak jatuh ke tangan yang salah. “Sangat dirahasiakan polanya,” katanya. Dia memastikan bahwa relawan lokal ACT mampu menembus Ghouta tanpa izin Damaskus meskipun wilayah itu telah lama dikepung militer Suriah.

“Bagaimana mungkin kami melapor ke Pemerintah Suriah ketika mereka sendiri mengebom warganya,” ujar Lukman. “Mereka tentu tidak akan memberi izin.”

Di Ghouta, Lukman mengatakan, sebagian donasi fulus itu kemudian dibelanjakan kebutuhan pokok warga. Sebagian lainnya diputar untuk menggerakkan ekonomi setempat.

Kepada INDOPRESS.ID, dia menunjukkan foto dan video yang memperlihatkan relawan ACT sibuk mempersiapkan makanan di suatu ruangan dan membagikannya kepada anak-anak dan orang tua. Di dinding ruangan, tampak poster bertuliskan “Dapur Umum untuk Masyarakat Ghouta, Februari-Maret 2018” dalam bahasa Indonesia.

Tak ada relawan ACT dari Indonesia yang tampak dalam foto dan video itu. “Jangan berpikir, kami mengirim relawan dari Jakarta (ke Ghouta),” katanya. Relawan ACT itu disebut Lukman sebagai warga lokal Suriah. Mereka digandeng ACT sejak 2011 ketika pemberontakan bersenjata meletus di negeri itu.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah, Muhammad Arief Rahman, meragukan bantuan ACT bisa masuk ke Ghouta. Apalagi, dia bilang, ACT masuk ke Suriah secara ilegal alias tanpa izin pemerintahan Presiden Bashar Assad.

“Delapan puluh persen wilayah Ghouta sudah berhasil dikuasai kembali oleh tentara Pemerintah,” kata Arief lewat pesan elektronik kepada INDOPRESS.ID, Ahad 18 Maret. “Sedangkan saluran bantuan resmi yang dilindungi Pemerintah hanya dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bulan Sabit Merah Suriah atau SARC.”

(silahkan baca selengkapnya di Kabut Bantuan ‘Selamatkan Ghouta’)

Pernyataan ACT tentang pemerintah Suriah (“Bagaimana mungkin kami melapor ke Pemerintah Suriah ketika mereka sendiri mengebom warganya”) menunjukkan bahwa jelas ACT sebagai lembaga donasi telah berpihak kepada pemberontak (dan memandang bahwa pemerintah Suriah melakukan kejahatan kepada warganya sendiri). Apalagi, seperti terlihat dalam dua foto di atas, ACT menggunakan bendera pemberontak Suriah (hijau-putih-hitam dengan 3 bintang) dalam aksi penggalangan dananya.

Beberapa waktu yang lalu, LI juga pernah melakukan pelacakan jejak digital 10 lembaga dana yang menggalang donasi untuk Suriah, semuanya ter-link atau terindikasi memiliki link dengan pihak pemberontak alias teroris. (Baca: Melacak Aliran Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia).

Salah satu diantaranya yang dilacak LI adalah Daarut Tauhid (DT), milik Ustadz Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Pada bulan Januari 2016, DPU DT menyerahkan bantuan masyarakat sebesar 40 juta kepada Misi Medis Suriah (MMS), sebagaimana diberitakan dalam website DT. Siapa itu MMS? Melacak sepak terjang MMS tidak sulit karena aktivisnya sangat aktif bermedsos. Mereka secara terang-terangan menunjukkan keberpihakan kepada faksi Free Syrian Army. Foto-foto aktivis MMS yang berpose bersama pasukan pemberontak dengan mudah ditemukan. Antara lain ini:

Menariknya, jika diikuti akun instagram DT masih ada seruan Save Ghouta. Berikut screenshotnya:

Anehnya, meski menggunakan tagar SaveGhouta, DT menyatakan: DT Peduli terus berikhtiar menyalurkan langsung bantuan rakyat Indonesia kepada warga Suriah yang kini sedang mengungsi di Yordania.

Di deskgramnya, juga tercantum Save Ghouta

Seruan ini juga diupload oleh link-link afiliasi DT, misalnya akun DPU DT Banten

Sunnguh aneh, tagar Save Ghouta dipakai, tapi sumbangan disalurkan ke Yordania? Lebih aneh lagi, sebenarnya warga Ghouta justtru sedang bergembira karena dibebaskan dari cengkeraman teroris. Sudah lima tahun mereka hidaup dalam ketakutan dan kelaparan karena wilayah mereka dijajah oleh ‘pemberontak’. Simak video kegembiraan warga Ghouta tersebut di sini.

Demikian pelacakan LI. Selanjutnya? Terserah Anda.(ra/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL