Peringatan Asyura di Jakarta 2016 (foto: Mahdi News)

Peringatan Asyura di Jakarta 2016 (foto: Mahdi News)

Jakarta, LiputanIslam.com–Peringatan Asyura (10 Muharam) di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir selalu menuai kontroversi. Ormas-ormas takfiri tak henti-hentinya menyebar propaganda menyebut peringatan Asyura sebagai hal yang ‘sesat’ karena itu harus dilarang di Indonesia.

Peringatan Asyura merupakan tradisi kaum Syiah, mengenang kematian Husain (cucu Rasulullah SAW) di Padang Karbala (Irak). Namun banyak juga tradisi di Indonesia yang terkait dengan Asyura, misalnya di upacara Hoyak Tabuik di Sumatera Barat atau tradisi tirakat di awal bulan Suro dalam budaya Jawa.

Pemerintah hingga kini belum mengambil sika tegas terkait provokasi kelompok takfiri. Yang terjadi bahkan ada pemerintah yang tunduk di bawah tekanan ormas takfiri. Misalnya, Walikota Bogor, Bima Arya, pada Oktober 2015 lalu menerbitkan Surat Edaran No 300/321-Kesbangpol yang isinya melarang peringatan Asyura di Kota Bogor. Adapun alasan Bima Arya mengeluarkan Surat Edaran tersebut adalah untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta mencegah konflik sosial.

Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendy Yusuf menilai larangan perayaan Asyura bagi penganut Syiah di Kota Bogor yang dikeluarkan oleh Walikota Bogor, Bima Arya sebagai tindakan yang sangat berlebihan. Pemerintah daerah tidak seharusnya bereaksi hingga mengeluarkan pelarangan terkait kegiatan keagamaan tersebut.

“Orang bisa saja tidak setuju terhadap syiah, namun melarang kegiatan agama seperti Asyura oleh institusi negara adalah berlebihan,” kata Slamet Effendy Yusuf, seperti dikutip Tempo, 24 Oktober 2015.

abu-jibrilTahun 2016 ini peringatan Asyura juga di-‘serang’ kaum takfiri secara verbal (melauli media sosial). Ada juga yang terjun langsung mendatangi  lokasi peringatan. Misalnya, di Jakarta, Abu Jibril dan ‘pasukan’-nya mendatangi gedung Panti Prajurit Balai Sudirman menuntut pembubaran acara peringatan Asyura (Oktober 2016), tapi tentu saja tidak dihiraukan oleh polisi yang mengawal acara.

Hal menarik dari fenomena ini adalah: ternyata peringatan Asyura juga dilakukan di Turki dan Arab Saudi, dua negara yang menjadi ‘patron’ alias idola ormas-ormas takfiri. Mereka bahkan sering menulis di medsos berharap Erdogan bisa dipinjam untuk menjadi Presiden Indonesia.

Berikut ini foto-foto peringatan Asyura di Turki, Oktober 2016. (sumber: ABNA)

Peringatan Asyura di Turki

Peringatan Asyura di Turki

asyuro1asyuro5asyuro4asyuro3

Dan ini beberapa foto peringatan Asyura di Arab Saudi, Oktober 2016. (Sumber: ABNA)

asyuro-di-saudiasyuro-di-saudi-2asyuro-di-saudi-3asyuro6

Pertanyaannya kemudian: di Saudi dan Turki boleh, mengapa di Indonesia dilarang? (dw)

DISKUSI:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL