Mustafa Sobhi dan Istri, foto: AP

Mustafa Sobhi dan Istri, foto: AP

LiputanIslam.com — Meninggalkan Damaskus, menuju Tartus, Anda akan menjumpai Mustafa Sobhi, seorang pendakwah asal Aleppo yang mengungsi di daerah pesisir Suriah tersebut. Bersama istrinya, Faten Shaar, ia memilih untuk tetap bertahan di sana, bersama kurang lebih 350.000 pengungsi lainnya, yang kebanyakan, merupakan penganut mazhab Sunni.

“Mejad, anak kami, telah gugur. Ia adalah seorang tentara. Kami terpaksa melarikan diri dari Allepo,” kata Mustafa, seperti dilansir Associated Press, 2 Novemer 2014. Di tembok belakang tempat ia duduk, terdapat sebuah foto pemuda berwajah rupawan dengan seragam militer yang lazim digunakan oleh Syrian Arab Army.

Namun ia masih punya seorang anak lagi, yang kini berjualan sandwich di depan sebuah universitas lokal. Perang telah menghancurkan segalanya, tapi setidaknya, ia dan keluarganya merasa aman di Tartus.

Masih di kota yang sama, Anda akan menjumpai pengungsi lainnya, Mohammed Jallad. Ia adalah seorang pembuat oven, yang juga berasal dari Allepo. Rumah dan bisnisnya telah hancur berkeping-keping, ia pun melarikan diri bersama keluarganya. Lalu dengan modal pinjaman yang ia dapat, pria berusia 32 tahun tersebut kembali merintis usaha di Tartus.

“Saya tidak akan ke luar Suriah untuk bergabung dengan tiga juta pengungsi lainnya (di negara tetangga). Saya ingin bekerja di sini,” kata Mohammed.

Mengungsi di negeri sendiri, jelas bukan impian bagi Mustafa maupun Mohammed. Walau demikian, mereka tetap memilih untuk tinggal di Tartus.

Assad untuk Selamanya

Tartus, adalah sebuah kota yang penduduknya adalah mayoritas penganut sekte Alawite, sebagaimana yang dianut oleh Bashar al-Assad, Presiden Suriah. Di kota ini, banyak tembok-tembok dicat merah dan hitam selayaknya bendera Suriah, foto Assad bertebaran dimana-mana, baik yang menggambarkan Assad sebagai seorang panglima tinggi tentara, seorang pengusaha, hingga seorang ayah yang hangat.

Di sudut jalan, ada sebuah grafiti yang berbunyi, ‘Assad untuk selamanya’. Di tempat lainnya, ada grafiti yang berbunyi, ‘Aku mencintaimu, Lulu.’

Singkatnya, kota ini adalah basis kuat rakyat Suriah yang mendukung Assad, dan di tempat ini pula, Rusia menempatkan kapal-kapal perangnya di pelabuhan, guna memperkuat pertahanan maritim Suriah yang tengah diguncang proxy war.

Keberadaan Mustafa  dan Mohammad di Tartus, adalah sebuah realita yang tidak bisa dibantah. Selama perang Suriah yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun, yang oleh media-media berlabel Islam di Indonesia disebut perang “Sunni vs Syiah” atau perang “Islam vs Thagut”, bisa dipastikan hal-hal serupa ini tidak akan ada dalam pemberitaan yang mereka rilis. Selama ini, masyarakat Indonesia dibawa kepada sebuah pemahaman bahwa di Suriah telah terjadi konflik sekterian.

Masihkah bisa disebut konflik sekterian, jika ada 350.000 pengungsi Sunni yang kemudian menetap, bekerja, dan merasa aman di daerah yang dihuni oleh mayoritas Alawite?

Memang benar, Presiden Suriah adalah seorang Alawite. Tetapi istrinya, Asma Al-Assad adalah seorang Sunni.  Perdana Menteri dan banyak menteri dalam kabinetnya adalah penganut mazhab Sunni, dan Mufti Agung Suriah, juga seorang Sunni. (Baca juga: Menteri dan Mufti di Suriah, Adalah Muslim Sunni)

Di Suriah, rakyat bersatu dalam perbedaan, mereka saling mencintai dalam kegetiran. Sedangkan di sini, media-media berlabel Islam tersebut, berlomba mengobarkan kebencian. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL