ulama-ulama suriahLiputanIslam.com — Tiga setengah tahun perang di Suriah, sebanyak 200.000 orang telah gugur, dan negara Suriah hancur. Dan tak dapat dipungkiri, dalam konflik ini, keberadaan ulama memiliki pengaruh yang besar terhadap jalannya pertempuran. Ulama yang seharusnya menjadi penuntun umat menuju cahaya, namun dalam kasus ini, justru ada ulama yang turut berperan dalam pembunuhan dan kekerasan mematikan di Suriah.

Mengingat Kembali Fatwa Horor Syeikh Yusuf Qaradhawi

Syeikh Yusuf Qaradhawi (SYQ), ulama kontemporer tersohor yang mendukung gerakan pemberontakan Suriah, mengeluarkan fatwa horor, yaitu halal untuk membunuh siapapun yang mendukung pemerintahan Bashar al Assad, baik itu tentara, ulama, tenaga kesehatan hingga rakyat sipil. SYQ juga mengutuk Hizbullah dan Iran, dan menyebut Hizbullah dengan Hizbuzyaiton.

Akibatnya, Syeikh Ramadhan  Al-Buthi, seorang ulama Ahlussunah moderat  yang begitu disegani di seluruh dunia pun menjadi korban atas fatwa tersebut. Beliau dibunuh di sebuah masjid ketika mengajarkan ilmu agama Islam yang dimilikinya. Nasib serupa menimpa  Syeikh Hassan Saifuddin seorang ulama yang menentang pemberontakan di Suriah, secara brutal dipenggal kepalanya di bagian utara Kota Aleppo. Tubuhnya diseret ke jalanan dan kepalanya ditancapkan di menara masjid yang biasa digunakannya untuk berkhotbah.

SYQ berkhianat pada Amman Message yang pernah ditandatanganinya. Ulama yang terbunuh, adalah muslim Sunni. Tentara Suriah dan rakyat Suriah yan tewas juga mayoritas muslim Sunni. Mereka, adalah umat Islam yang seharusnya dilindungi darah dan kehormatannya.  Yang menjadi pertanyaan adalah, demi apakah SYQ tega mengeluarkan fatwa yang telah merengut ratusan ribu nyawa di Suriah?

Syeikh Adnan Al-Arour:  Kaum Alawi Akan Dicincang dan Diberikan ke Anjing

SNC dan FSA, faksi pemberontak Suriah dibentuk di Turki. Di dalam FSA bernaung sebagian besar milisi (sebagian pihak menyebutnya ‘mujahidin’). Mereka menjadikan Syeikh Adnan Al-Arour yang tinggal di Arab Saudi sebagai pemimpin spiritual. Dalam salah satu pidatonya yang bisa dilihat di You Tube, Al Arour menjanjikan bahwa bila pasukan mujahidin menang, kaum Alawi akan ‘dicincang lalu dberikan ke anjing’. Selain itu, Syeikh Adnan Al-Arour juga berterus terang akan memohon bantuan kepada Israel.

Gayung bersambut. Israel dengan cepat merespon permohonan Arour dengan menampung para pemberontak Suriah yang terluka dan merawatnya. Pada bulan Februari silam, dilaporkan bahwa lebih dari 700 pemberontak Suriah dirawat di rumah sakit yang didirikan Israel di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan. Bukan hanya sekedar merawat pemberontak yang terluka, bahkan Netanyahu — Perdana Menteri Israel juga meluangkan waktunya untuk membezuk mereka.

Bagi rakyat Suriah, Israel merupakan musuh terbesar mereka. Merekalah bangsa Arab yang paling gigih memerangi Israel, dari awal berdirinya negara itu tahun 1948, hingga sekarang, ketika sebagian besar negara-negara Arab dan Islam sudah “berbaikan” dengan Israel.

Namun bagi para pemimpin pemberontak Suriah, Israel justru menjadi sahabat mereka. Muhammad Badie, tokoh oposisi Suriah tersebut mengatakan, bahwa oposisi Suriah berterima kasih kepada Netanyahu atas kunjungannya pada 18 Februari 2014 ke sebuah rumah sakit darurat di wilayah Golan, tempat dimana para pemberontak Suriah yang terluka dirawat. Hal tersebut disampaikan Badie kepada Israel Radio.

Israel, dengan program menolong para pemberontak Suriah — merupakan sebuah paradoks yang sulit dimengerti. Betapa tidak, untuk urusan yang satu ini tiba-tiba mereka ingat kepada ajaran lama para nabi yang mengajarkan bahwa “menyelamatkan nyawa seorang manusia sama dengan menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia”. Namun pada saat yang sama mereka tidak pernah peduli dengan ribuan nyawa rakyat Palestina yang mereka bunuh, hingga saat ini, setiap hari.

Seruan Ulama Untuk Berjihad ke Suriah

Setahun silam, pada 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013  diadakan konferensi oleh lebih dari 500 tokoh agama dari  50 negara yang menyerukan wajibnya jihad ke Suriah.

Syeikh Al-Amin El Hajj, Ketua Ikatan Ulama Muslimin, berkata “Konflik Suriah  adalah persoalan kaum Muslimin karena para mujahid yang berperang  melawan rezim Bashar di sana hakikatnya demi kepentingan Islam. Jihad di Suriah hukumnya wajib bagi seluruh umat!”

Syeikh Al-Arifi, ulama Arab Saudi berkata, “Jika kalian sudah kehilangan harga diri dan kehormatan untuk membela saudara-saudara kita di Suriah, maka minimal kalian bebaskan rakyat Arab untuk bertindak membantu saudara-saudaranya di Suriah, dan kalian akan disiksa di kubur jika tidak membantu perjuangan rakyat Suriah saat ini,” tegas Al-’Arifi. Dan seruan ini disebarluaskan oleh media-media Islam mainstream di tanah air.

Bijak Mengikuti Fatwa Ulama

Satu pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya dari konflik ini adalah bersikap kritis dalam menerima fatwa ulama. Mereka, dengan segala keluasan ilmunya tetaplah manusia biasa, bukan nabi, tidak pula mereka itu maksum dan terbebas dari kesalahan. Mereka bisa salah, bisa pula benar, sehingga tidak fanatik terhadap satu ulama, walau ulama dari kelompoknya sendiri sekalipun, adalah pilihan yang bijak. Hal ini harus dilakukan karena saat ini, kendati suasana politik di Indonesia telah mendingin, namun masih ada pihak yang mengatasnamakan agama dan Tuhan, konsisten dalam menyebarkan kebencian dan permusuhan pada sesama anak bangsa. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL