republika-2LiputanIslam.com— Entah apa motifnya, namun sejak Pilpres 2014, Republika Online kerap melakukan penyesatan informasi dengan merilis berita-berita yang nyeleneh. Mengutip dari akun palsu, membuat judul-judul provokatif dan tendensius hingga sempat menuai protes dari organisasi masyarakat.

Dan untuk sekian kalinya, Republika berulah lagi.

Masyarakat menyambut gembira program ‘tol laut’ yang merupakan salah satu program pemerintah yang dipimpin Presiden Jokowi. Sederhananya, tol laut ini adalah program untuk memudahkan transportasi di wilayah Indonesia dengan menyiapkan atau membangun armada (seperti kapal laut dan pelabuhan). Jokowi sempat blusukan, dan tercengang karena harga barang-barang tidak merata. Dan penyebabnya adalah mahalnya biaya transportasi.

Akhirnya, untuk pertama kalinya setelah 70 tahun Indonesia merdeka, Indonesia punya kapal ternak untuk mengangkut sapi-sapi asal NTT.

Dari akun resmi Presiden, “Kapal ternak Camara Nusantara I yang mengangkut 352 ekor sapi asal NTT berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok. Inilah kapal ternak pertama yang merapat. Masih ada enam kapal ternak lainnya yang sedang diproduksi.”

“Tadi saya melihat kapal langsung loading dan diangkut truk milik Bulog. Biaya angkut sapi dengan kapal hanya 320.000 per ekor, lebih efisien dari biaya angkut selama ini yang mencapai Rp 1,5-1,8 Juta per ekor. Harga jual daging sapi rata-rata bisa ditekan antara 72 ribu sampai 76 ribu rupiah per kilogram, di bawah harga rata-rata harga daging di pasaran saat ini.”

“Setiap 20 hari sekali dari NTT bisa dikapalkan ke Jakarta sebanyak 500 ekor sapi. Ini akan berpengaruh terhadap harga daging sapi yang 70 persen lebih diserap di Jabodetabek.”

Kesepakatan tersebut telah diwujudkan dengan pengiriman perdana, dan peternak sapi menyambut gembira karena semua prosedur dipermudah sesuai kesepakatan. Peternak bisa menjual sapi langsung dengan harga yang masuk akal. Pemda NTT berjanji akan memenuhi kebutuhan daging sapi, dan jika semuanya lancar, niscaya kita tidak perlu lagi impor sapi yang menjadi lahan baru bagi mafia untuk melakukan korupsi.

Sementara Republika, merilis berita dengan sentimen berbeda. Menurutnya, peternak sapi NTT “menangis” karena pemerintah memaksa mereka menjual sapinya dengan harga yang murah, yaitu seharga 25.000-30.000 rupiah per killogram.

Yang menjadi narasumber adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (Sekjen PPSKI) Rochadi Tawaf, bukan peternaknya langsung.

Logikanya sangat sederhana. Pemilik sapi berkuasa penuh atas ternak yang mereka miliki. Mereka punya hak menjual ataupun tidak menjualnya. Kalau harga tidak pas, ya tidak usah dijual tho? Peternak juga berhak menjualnya ke pihak yang berani membeli dengan harga lebih tinggi.

Kalau katanya ada pemaksaan, siapa yang oknum yang melakukan pemaksaan tersebut? Dimana kejadiannya? Bagaimana detailnya? Apakah para peternak tidak melawan intimidasi tersebut? Mengapa tidak ada media lain yang melaporkan? Mengapa laporan serupa tidak ada yang berasal dari peternaknya langsung?

Ingatkah Anda peristiwa saat HMI ke Pekanbaru dan singgah di warung nasi tapi tidak membayar lunas? Apakah pemilik warung tinggal diam saja? Mereka bicara pada media, sehingga menjadi topik panas, HMI dihujat, dan akhirnya si pemilik warung mendapatkan haknya.

Please deh, jangankan peternak sapi yang jumlahnya banyak, laporan dari seorang pemilik warung pun akan direspon oleh media-media. Jika media luput, ada media sosial tempat berkeluh kesah yang dalam sekejap bisa menjadi viral.

“Logika ndablek, mana mungkin terjadi pemaksaan dalam menjual, ini strategi dari korporasi-korporasi mafia untuk bikin kisruh dengan memakai tangan asosiasi yang memang tidak ingin pemerintah mengambil alih jalur distribusi. Ini jaman keterbukakaan informasi, positifnya semua bisa bebas membuat opini publik, tetapi negatifnya kalo masyarakat belum cerdas dalam analisa informasi akan menjadi santapan para mafia dan genk koruptor untuk membuat gaduh,” kritik netizen pada Republika.

“Harga Rp 30rb per kilogram sudah tinggi di tingkat peternak, kalau berat hidup 350-400 kg (berat sapi Bali jantan), maka harganya 10,5-12 juta per ekor. Mereka harusnya senang, karena baru sekarang sapi-sapi mereka bisa dihargai diatas 10 juta, biasanya maksimal 7 juta per ekor di Indonesia Timur…”

“Sayang yang protes dan diwawancara masih persatuan pedagang sapi, bukan langsung peternaknya, jelas mereka protes soalnya belinya nggak melalui persatuan pedagang yang biasa main harga…”

Baca juga:
Dua Dosa Republika Online
Propaganda Republika dan Antaranews atas Krisis Irak
Surat Terbuka untuk Ustadz Arifin Ilham dan Kegalauan Republika (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL