imam istiqlalLiputanIslam.com – Ajakan untuk mengeratkan ukhuwah diantara umat Nabi Muhammad, tak selamanya berbuah manis. Setidaknya, itulah yang menimpa Ayatullah Ali Akbar Rasyad, seorang ulama Iran yang baru-baru ini mengunjungi Indonesia.

Di hadapan jamaah Masjid Istiqlal seusai shalat Jum’at, selaku tamu negara, ia mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan pidato singkat. Namun siapa sangka, jika pidatonya tersebut kemudian dipermasalahkan oleh media takfiri seperti hidayatullah.com. Media itu menuduh, bahwa Ayatullah Ali mengemukakan sesuatu yang meresahkan Ahlussunah, dan mengancam keberadaan NKRI.

Benarkah demikian adanya? Dan, seperti apa sesungguhnya isi pidatonya tersebut? Berikut ini adalah keterangan dari Muhammad Shodiq, dari STFI Sadra, yang saat itu menemani Ayatullah Ali dan menjadi penerjemah;

Sebagai penterjemah saya memahami apa yang disampaikan Ayatullah Ali. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Tinggi Penelitian dan Kebudayaan Republik Islam Iran. Dalam lawatan pertama kalinya di Indonesia, ia mendapat kesempatan pidato singkat setelah shalat Jumat di Istiqlal, 21 November 2014.

Ayatullah Ali menyampaikan kebanggaannya melihat secara langsung potensi besar Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim  terbesar dunia, bangsa yang berhasil berdiri diatas kemajmukan dengan toleransi yang kuat dalam beragama dan berkeyakinan hidup ramah dan saling menghormati.

Menurut Ayatullah Ali, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim merupakan bagian dari dunia  Islam yang tak terpisahkan sebagai bagian dari kekuatan Islam secara kualitas dan kuantitas yang terdiri dari dari 1 milyar lebih penduduk dunia.

Ayatullah Ali menekankan pentingnya negara-negara Islam tampil maju di berbagai bidang politik, ekonomi , pendidikan, budaya , teknologi dan peradaban di tengah persaingannya dengan negara-negara lainnya. Dan dalam dunia global, Islam harus mampu bersaing dengan negara-negara adidaya dan berhadapan melawan hegemoninya.

Tak hanya itu, Ayatullah Ali juga menyampaikan dua poin penting bahwa umat Islam besar, kuat dan mandiri dalam persatuan; terbangun dengan nilai cinta, akhlak mulia dan kemanusiaan.

Ayatullah Ali menyesalkan berbagai isu yang terjadi ditengah umat Islam yang mengancam eksistensi dan kehormatan Islam beserta umatnya yang justru dilakukan oleh mereka dengan mengatasnamakan Islam. Bagaimana mungkin kelompok ini bisa disebut Islam jika mereka aktif memecah belah umat dengan isu mazhab dan golongan? Bagaimana mungkin mengklaim diri sebagai representasi Islam dengan tampil kejam, bengis dan tidak berprikemanusiaan?

Karenanya, Ayatullah All mengajak kepada ummat Islam untuk tetap menjaga persatuannya, menampilkan ajaran kenabian berakhlakul karimah, kelembutan dan cinta; melarang kekerasan dan tindakan brutal yang akan menghinakan dan menghitamkan citra Islam.

Menyinggung ISIS, Ayatullah mempertanyakan keabsahan kelompok teroris yang sedemikian brutal dan bengis memerangi pemerintah berdaulat yang terpilih secara langsung lewat pemilu oleh rakyat seperti di Suriah dan Irak. Benarkah tindakan mereka yang jika ditinjau dari hukum internasional maupun syariat?

Ayatullah juga menyinggung bahwasanya perkembangan Republik Islam Iran diberbagai bidang yang sedemikian pesat, bukanlah semata-mata milik Iran, melainkan hal ini adalah kemajuan Islam secara keseluruhan, termasuk oleh umat Islam di Indonesia. Apalagi, Republik Islam Iran kini tampil dengan kekuatan besar bersatu sebagai pelopor dunia Islam melawan hegemoni negara-negara adidaya dunia dan zionis.

Disaat dunia muslim Arab tidak mampu dan kalah menghadapi kolonialisme Israel, ia menyatakan bahwa Iran tampil dengan mendukung sepenuhnya gerakan muqawamah (perlawanan) Palestina di Gaza (seperti Hamas dan Jihad Islam) dan Hizbullah di Lebanon, guna melawan penjajah Israel.

Di akhir pidatonya Ayatullah Ali berharap semoga umat Islam di Indonesia, Iran dan negara-negara Islam lainnya tetap menjaga persatuan dan tampil dengan akhlak mulianya sehingga kelak dapat menjadi kekuatan mayoritas yang dapat memimpin dunia.

Terkait pernyataan Imam Besar Masjid Istiqlal – yang menurut hidayatullah.com — bahwa pidato Ayatullah Ali meresahkan, Muhammad Shodiq menyatakan hal yang berbeda. Menurut dia, Dr. Ali Musthofa Ya’qub tidak turut serta mendengarkan pidato tersebut.

“Pada kesempatan ini Dr. Ali Musthofa Ya’qub seusai shalat tak berkenan tetap duduk mendengarkan pidato tamu dan meninggalkan tempat. Entah bagian mana yang  dikategorikan melahirkan keresahan Ahlussunnah, dan ucapan mana yang termasuk dalam kategori membahayakan NKRI?” (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL