Bashar al-Assad

Bashar al-Assad

LiputanIslam.com — Jika kerapkali kita disuguhi informasi tentang konflik Suriah dari sudut pandang pihak anti-Assad, maka melalui artikel ini, Liputan Islam akan mengetengahkan konflik Suriah dari sudut pandang Assad.

Assad sebagai sosok yang dituding biang kerok dari konflik Suriah, siapakah ia sebenarnya, dan bagaimana posisinya dalam memandang kekacauan yang terjadi di negaranya? Berikut ini adalah wawancara ekslusif yang berhasil dihimpun Paris Match, bagian pertama bisa dibaca di sini, dan bagian kedua bisa dibaca di sini.

Paris Match: Pada 14 Juli 2008, Anda berdiri di podium presiden Champs Elysees di sela-sela KTT Mediterania. Namun saat ini, pemerintah Perancis menganggap Anda sebagai orang buangan. Bagaimana perasaan Anda tentang hal itu?

Bashar al-Assad: Hubungan yang baik yang terjalin selama kurun waktu 2008-2011 tidak didasarkan pada inisiatif Perancis. Ada dua hal yang harus dicermati, yaitu; pertama, ada upaya Amerika untuk membuat pemerintah Perancis mempengaruhi Suriah, terutama yang berkaitan dengan Iran. Yang kedua, Qatar mendesak Perancis untuk memperbaiki hubungan dengan Suriah. Jadi, hubungan baik antara Suriah dengan Perancis merupakan gagasan dari Amerika dan Qatar, bukan karena kehendaknya sendiri. Saat ini, tidak ada perbedaan karena kedua era pemerintahan Perancis, maksud saya, baik Sarkozy maupun Hollande, keduanya tidaklah independen.

Paris Match: Francois Hollande masih menganggap Anda sebagai lawan. Apakah Anda percaya bahwa Anda bisa membina hubungan dengannya di masa mendatang?

Bashar al-Assad: Tidak ada masalah yang berkaitan dengan hubungan pribadi, karenanya saya tidak tahu harus bagaimana memulai hubungan dengannya. Tetapi dalam konteks hubungan antar-negara atau antar lembaga negara, maka hubungan ini didasarkan pada kepentingan kedua negara.

Ketika ada pejabat atau pemerintah Perancis memiliki kepentingan bersama, maka kami akan berhubungan dengannya. Tapi masalahnya adalah, pemerintahan Perancis telah memerangi kepentingan rakyat kami, sekaligus melawan kehendak rakyat Perancis.

Lalu saya disebut sebagai musuh Hollande, ini tak masuk akal. Saya tidak bersaing dengannya dalam urusan apapun. Justru pesaing Hollande di Perancis sekarang adalah ISIS, karena ia dikenal memiliki kedekatan dengan ISIS.

Paris Match: Apakah ada senjata kimia di Suriah hari ini, ya atau tidak?

Bashar al-Assad: Tidak. Ketika kami mengumumkan hal ini, maka semuanya telah jelas. Ketika kami memutuskan untuk tidak menggunakan senjata kimia, maka keputusan kami sudah final.

Paris Match: Tapi Menteri Luar Negeri AS John Kerry menuduh Anda melanggar perjanjian karena Anda menggunakan klorin. Apakah itu benar?

Bashar al-Assad: Anda bisa menemukan klorin dalam setiap rumah di Suriah. Semua orang dapat menggunakannya. Tapi kami belum menggunakan klorin karena kami memiliki senjata yang lebih efektif daripada klorin. Kami memerangi teroris, dan kami menggunakan senjata tradisional tanpa sembunyi-sembunyi ataupun merasa malu. Jadi, kami tidak butuh klorin. Tapi tuduhan Kerry tidak mengejutkan kami. Memangnya sejak kapan Amerika Serikat berkata benar tentang konflik Suriah?

Paris Match: Apakah Anda pernah menggunakan senjata kimia?

Bashar al-Assad: Kami belum pernah menggunakan senjata semacam ini. Jika kami menggunakan senjata ini maka bukan puluhan atau ratusan, melainkan ribuan nyawa akan melayang. Tidak mungkin senjata-senjata ini hanya membunuh – seperti diklaim tahun lalu, hanya seratus atau dua ratus orang yang tewas, apalagi jika melihat tuduhan lokasi (senjata kimia digunakan-red), dihuni oleh ratusan ribu sampai jutaan rakyat Suriah.

Paris Match: Dalam kunjungan terbaru Anda ke Paris pada bulan November 2010, saya melakukan wawancara dengan istri Anda, Mrs. Asmaa al-Assad. Apakah kini Anda kehilangan kesempatan untuk melakukan traveling?

Bashar al-Assad: Traveling bukan salah satu hobi saya; dan kunjungan saya juga bukan untuk berwisata, tetapi untuk bekerja.

Saya benar-benar kehilangan Suriah yang dulu. Dan tentu saja kita juga telah kehilangan eksistensi dari ‘dunia’. Dunia yang masuk akal dan bermoral. Pada saat itu (sebelum konflik Suriah-red), kami memiliki harapan yang besar untuk mengembangkan wilayah kami, menjadi lebih terbuka dan intelek. Kami berusaha percaya bahwa Perancis, dengan warisan budayanya, adalah negara yang paling mampu memainkan peran ini bersama Suriah di Timur Tengah.

Paris Match: Istri Anda menganggap dirinya seorang duta modernitas. Bagaimana dia masih bertahan tinggal di Suriah, dan bagaimana perasaannya?

Bashar al-Assad: Seperti halnya seluruh rakyat Suriah, dia merasakan sakit. Kami berdua merasa sakit atas kehancuran dan pertumpahan darah yang kami lihat. Kami sakit melihat Suriah menjadi negara yang mundur puluhan tahun kebelakang. Menyakitkan, melihat negara kami yang dulunya merupakan salah satu dari lima negara yang paling aman di dunia, kini justru menjadi tempat yang nyaman bagi teroris.

Hal yang lebih menyakitkan saya dan istri adalah kami pernah meyakini bahwa Barat akan membantu Suriah menjadi negara berkembang dan maju. Tapi ternyata, mereka melakukan hal yang berlawanan. Dan yang lebih buruk lagi, menyaksikan negara-negara Barat kemudian bersekutu dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan Qatar, yang merupakan model negara pada abad pertengahan. [Abad pertengahan identik dengan zaman kegelapan, prinsip-prinsip moralitas diabaikan dan penguasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas-red]

Paris Match: Masyarakat menggambarkan Anda sebagai orang yang sangat dekat dengan anak-anak Anda. Bagaimana Anda menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi ke negara Anda ketika Anda kembali ke rumah di malam hari?

Bashar al-Assad: Tentu saja, diskusi ini terjadi di setiap rumah di Suriah. Dan hal yang paling sulit dalam diskusi ini adalah ketika Anda berurusan dengan anak-anak yang kesadaran sosialnya telah berkembang selama krisis. Ada dua pertanyaan dasar yang ditanyakan bukan saja oleh anak-anak di keluarga kami, melainkan oleh banyak keluarga lainnya.

Pertanyaan pertama,”Bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa mereka membela Allah dan Islam, tapi mereka melakukan pembunuhan?” Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab ataupun dijelaskan. Anak-anak lantas bertanya lagi, “Apakah orang-orang itu menyadari bahwa mereka salah?”

Dan jawaban kami, ”Ada yang mengetahui kesalahan itu, tetapi mereka memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi. Ada juga yang tidak mengetahui agama dengan baik, dan menganggap bahwa agama memang mengajarkan membunuh orang (sebagai bentuk jihad-red).

Sedangkan pertanyaan kedua, “Mengapa Barat melakukan agresi kepada kita? Mengapa mereka mendukung teroris dan penghancuran?”

Tentu saja, mereka tidak menyatakan ‘Barat’ secara umum, anak-anak itu menyebutkan negara-negara tertentu, seperti Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris.

Mereka bertanya mengapa negara-negara tersebut mendukung terorisme di Suriah? Apakah kami pernah melakukan sesuatu yang menyakiti mereka? Kami pun menjelaskan bahwa hubungan antar manusia dan hubungan antar-negara adalah dua hal yang berbeda. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*