Foto: Paris Match

Foto: Paris Match

LiputanIslam.com – Situs berita online inilah.com, merilis artikel terkait pemerintah Suriah, sebagai berikut:

Presiden Suriah Bashar Assad, Minggu (4/1), menghadiri Peringatan Maulid Rasulullah di Masjid Al Afram, Damaskus.

Televisi resmi pemerintah Suriah melaporkan Assad, mengenakan stelan jas hitam, duduk di barisan depan bersama beberapa ulama. Kehadiran Assad dalam peringatan ini disiarkan secara langsung.

Sejak kisruh politik Suriah berubah menjadi perang sipil tahun 2011, Assad jarang tampil. Ia tahu jiwanya terancam, dan kekuasannya terbatas hanya di Damaskus.

Namun Assad memberanikan diri dua kali tampil di depan publik dalam sepekan terakhir. Pertama, ketika mengunjungi pasukannya di timur laut Damaskus, pada 31 Desember 2014. Kedua, menghadiri Perayaan Maulid Rasulullah.

Usai doa penutup, Assad berdiri, menyalami, dan merangkul, seluruh ulama dan pengunjung masjid. Ini memang bukan kunjungan pertamanya ke Masjid Al-Afram, tapi yang kali kesekian sejak konflik politik.

Assad bukan Muslim. Ia penganut Alawiah, atau Alawites — kelompok sempalan Shiah yang mengoplos semua agama dan menjadikan Salman al-Farisi sebagai nabi.

Penganut Alawites adalah minoritas paling agresif di Suriah, dan pendukung setia Keluarga Assad. Milisi Alawites menghalalkan semua cara untuk menghabisi lawan politik Assad pada pekan-pekan pertama aksi demo di Homs dan Aleppo.

Setelah Perang Sipil, Assad mencoba mencari dukungan dari kelompok Sunni moderat, dan dia tidak keberatan hadir di masjid, shalat, dan berdoa. Alawites adalah agama non-dogmatis, yang memungkinkan Assad melakukan semua itu tanpa dikecam komunitas Alawites garis keras pendukungnya.

Liputan Islam telah menyatakan keberatan terhadap artikel tersebut, setidaknya ada enam poin, yaitu:

1. Sejak kapan sekte Alawite menjadikan Salman Al-Farisi sebagai Nabi?

2. Apa maksudnya menyatakan sekte Alawi sebagai kaum oplosan?

3. Menyatakan Alawi sebagai bukan bagian dari Islam, menurut pendapat siapa? Di sisi lain,  kharismatik Asy Syahid Syeikh Said Ramadhan al-Buthi menjelaskan, agar jangan sekali-kali mengkafirkan ahlul kiblat. Dari kesaksian ini, Syeikh Buthi bahkan bersedia mendidik putra-putri sekte Alawi di kelasnya.

4.  Benarkah Bashar al-Assad jarang muncul ke publik? Benarkah pemerintah Suriah hanya menguasai wilayah Damaskus saja? Jika memang hanya Damaskus saja yang dikuasai, wajarkah perang Suriah berlangsung selama hampir 4 tahun? Seharusnya, jika kondisi sudah terkepung, pemerintah Suriah seharusnya telah jatuh, namun faktanya, sampai hari ini pemerintah Suriah masih tetap bertahan.

5. Jika pemerintah Suriah tidak mendapatkan dukungan penuh dari rakyatnya, mungkinkah ia memenangi pemilu 88,7 % suara?

6. Jika pendukung Assad hanya berasal dari sekte Alawite, lalu dianggap apa Syrian Arab Army, National Defence Forces, Pejuang Kurdi, yang mengangkat senjata guna memerangi teroris ala ISIS, al-Nusra dkk? Seberapa banyak penganut sekte Alawi di Suriah? Apalagi fakta berkata sebaliknya, para pengungsi dari Aleppo dan wilayah lainnya, justru banyak yang mengungsi ke Tartus, wilayah Suriah pesisir yang dihuni oleh mayoritas Alawite.

Lalu pihak inilah.com (Bapak Dharmawan Sepriyossa) telah menyatakan bahwa komplain ini akan disampaikan kepada redaktur yang bersangkutan, dan ia juga telah menyatakan permohonan maaf melalui media sosial Facebook.

Inilah Com Fitnah Presiden Bashar Al-Assad

Screenshoot Inilah.com

*****
Jika kerapkali kita disuguhi informasi tentang konflik Suriah dari sudut pandang pihak anti-Assad, maka melalui artikel ini, Liputan Islam akan mengetengahkan konflik Suriah dari sudut pandang Assad.

Assad sebagai sosok yang dituding biang kerok dari konflik Suriah, siapakah ia sebenarnya, dan bagaimana posisinya dalam memandang kekacauan di negaranya? Berikut ini adalah wawancara ekslusif yang berhasil dihimpun Paris Match, yang dipublikasikan di sini.

Paris Match: Bapak Presiden, selama tiga tahun dalam perang ini, dan mengingat telah terjadi banyak perubahan, apakah Anda menyesali hal-hal yang belum Anda lakukan untuk menangani (konflik) sejak awal meletus pada Maret 2011? Apakah Anda merasa bahwa Anda harus bertanggung jawab atas semua hal yang telah terjadi?

Bashar al-Assad: Bahkan di hari-hari pertama meletusnya konflik, telah jatuh martir dari pihak tentara dan polisi. Jadi sejak awal mula krisis ini, kami telah menghadapi terorisme. Memang benar ada demonstrasi, tetapi jumlahnya tidak besar. Dalam kasus seperti ini, tidak ada pilihan lain selain membela rakyat Anda dengan memerangi teroris. Sekali lagi, tidak ada pilihan lain.

Namun, ini tidak berarti bahwa tidak ada kesalahan yang di lapangan. Mari kita jujur, jika Qatar tidak membayar para teroris pada waktu itu, dan Turki tidak mendukung mereka dengan menyuplai kebutuhan logistik, serta negara Barat tidak turut mendukung mereka melalui jalur politik, maka situasinya akan jauh berbeda.

Jika kami di Suriah memiliki masalah sebelum adanya krisis, maka tentu hal ini adalah sesuatu yang normal. Artinya, konflik ini tidak melulu disebabkan oleh persoalan internal Suriah.

Paris Match: Tentara Anda disalahkan karena menggunakan kekuatan secara berlebihan dalam perang. Mengapa warga sipil turut dibantai?

Bashar al-Assad: Ketika teroris menyerang Anda dengan senjata, bagaimana cara Anda membela diri, juga membela rakyat Anda? Apa dengan dialog?! Tentara menggunakan senjata karena lawannya juga bersenjata. Bagi kami, mustahil rasanya menggunakan senjata dengan bertujuan menembaki rakyat sipil. Tidak ada alasan untuk itu.

Jika kami disebut membunuh warga sipil, atau dengan kata lain kami membunuhi rakyat kami, lalu disaat yang bersamaan kami juga memerangi teroris, dan melawan negara-negara pendukung teroris seperti negara Teluk, Turki, Barat, maka, bagaimana mungkin kami bisa bertahan selama empat tahun? Jika kami tidak membela rakyat, maka kami tidak akan bisa bertahan sampai detik ini. Artinya, tuduhan bahwa kami menembaki warga sipil adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Paris Match: Citra satelit dari kota-kota Homs dan Hama menunjukkan daerah-daerah tersebut telah hancur; dan PBB menyebut sekitar 190.000 orang telah tewas dalam perang ini. Apakah semua orang itu adalah teroris?

Bashar al-Assad: Pertama-tama, Anda perlu untuk memverifikasi angka yang diberikan oleh PBB. Siapa sumber angka-angka ini? Angka-angka (korban perang Suriah) yang beredar di dunia, khususnya di media, banyak yang berlebihan dan tidak akurat.

Kedua, kerusakan wilayah tidak hanya diperoleh melalui citra satelit, itu juga bisa dilihat lapangan, dan semua itu akurat. Ketika teroris masuk dan menduduki wilayah tertentu, maka Tentara Suriah harus membebaskannya, dan untuk itu akan ada pertempuran. Jadi, secara alami, ada kerusakan.

Tetapi pada kebanyakan kasus, ketika teroris masuk ke wilayah tertentu, maka warga sipil akan melarikan diri. Bahkan, jumlah terbesar korban di Suriah adalah pendukung kedaulatan negara (tentara, polisi, relawan-red), bukan sebaliknya; dan sejumlah besar dari mereka tewas dalam menghadapi serangan teroris. Tentu saja, ketika Anda tengah berperang, dan (ada serangan) terorisme, maka ada kemungkinan orang yang tidak bersalah pun turut tewas. Hal ini terjadi di mana-mana di dunia. Tapi sekali lagi, Negara (tentara) tidak pernah menargetkan warga sipil.

Paris Match: Menurut PBB juga, ada tiga juta pengungsi Suriah di negara-negara tetangga. Apakah mereka juga pendukung teroris?

Bashar al-Assad: Tidak, tidak. Mereka yang mengungsi pada umumnya orang-orang yang meninggalkan Suriah karena terorisme. Ada orang yang mendukung terorisme, dan ada orang-orang yang mendukung Negara tetapi harus tetap meninggalkan Suriah karena situasi keamanan tidak memungkinkan. Ada juga sejumlah besar pengungsi yang tidak mendukung pihak manapun.

Paris Match: Dari perspektif militer, apakah Anda memiliki sarana yang memungkinkan bagi Anda untuk memenangkan perang ini?

Bashar al-Assad: Sekarang kami berjuang memerangi ‘negara’, bukan hanya sekedar geng bersenjata. Miliaran dolar yang dihabiskan untuk teroris tersebut. Mereka menerima senjata dari berbagai negara, termasuk Turki. Jadi, ini bukan perang mudah dari perspektif militer. Namun demikian, Tentara Suriah telah menang di banyak tempat.

Di sisi lain, tidak ada yang bisa memastikan bagaimana perang ini akan berakhir. Tapi perang besar bagi mereka pada mulanya adalah bagaimana memenangkan hati rakyat Suriah; dan mereka telah kalah di sisi ini. Masyarakat yang percaya pada teroris jumlahnya telah mengecil, dan itu adalah alasan mengapa Tentara Suriah yang menang. Jadi, kita harus melihat perang ini secara militer, sosial, dan politik.

Paris Match: Tapi mereka belum kalah, karena setengah wilayah Anda berada di luar kendali Anda.

Bashar al-Assad: Tentara Suriah tidak berada di semua tempat, dan adalah hal yang mustahil bagi tentara untuk berada dimana-mana. Akibatnya, di suatu wilayah yang tidak dijaga oleh tentara, maka komplotan teroris pun memasuki kawasan tersebut. Namun setelahnya, Tentara Suriah kembali merebut wilayah itu dan berjaga-jaga.

Ini bukanlah perang antara dua tentara, lalu Anda bisa mengatakan bahwa mereka mengambil suatu bagian tertentu, dan kami mengambil bagian yang lain. Perang di Suriah tidak seperti itu. Kami sampaikan, saat ini ada berbagai kelompok teroris yang tiba-tiba menyusup ke dalam sebuah desa atau kota. Inilah sebabnya perang menjadi sangat panjang dan sulit.

Paris Match: Banyak orang mengatakan bahwa solusinya terletak pada kejatuhan Anda. Apakah Anda percaya?

Bashar al-Assad: Seluruh presiden di dunia berkuasa melalui langkah-langkah konstitusional dan meninggalkan kekuasaan juga sesuai dengan konstitusi. Tidak ada presiden yang begitu saja diangkat atau digulingkan melalui sebuah kekacauan. Bukti nyata adalah kebijakan yang diambil Perancis dengan menyerang Ghadaffi. Apa hasilnya? Kekacauan terjadi setelah kepergian Ghadaffi.

Jadi, apakah lengsernya saya dari tampuk kepemimpinan merupakan solusi? Apakah kondisi Libya jauh membaik, setelah menjadi negara demokrasi?

Negara ibarat sebuah kapal, dan ketika ada badai, maka kapten tidak akan lari dan membiarkan kapalnya tenggelam. Jika seluruh penumpang kapal memutuskan untuk pergi, maka sang kapten harus menjadi orang terakhir yang keluar dari kapal, bukan orang yang bertama. (ba)

Bersambung ke bagian kedua.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*