Beirut, LiputanIslam.com –  Gencatan senjata yang diumumkan oleh segi tiga Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Yordania telah diterapkan di tiga provinsi di Suriah selatan, Minggu (9/7/2017), dan dengan demikian kecamuk senjata di front-front utama pertempuran mereda.

“Ketentraman mewarnai Suriah selatan bersamaan dengan penerapan kesepakatan AS, Rusia, dan Yordania Minggu siang (waktu Damaskus),”  ungkap Direktur Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) Rami Abdulrahman kepada AFP.

Dia menjelaskan, “Pertempuran dan pemboman berhenti di front-front utama di Daraa, Quneitra, dan Suwaida yang menjadi tempat pasukan pemerintah dan faksi-faksi oposisi berbagi kekuasaan sejak pagi hari ini, kecuali jatuhnya beberapa mortir secara sporadis pada tengah hari yang dilepaskan oleh pasukan pemerintah sebelum waktu ke kawasan-kawasan yang dikuasai faksi-faksi oposisi di kota Daraa.”

Menlu Rusia Sergei Lavrov di kota Hamburg, Jerman, Jumat (7/7/2017), mengumumkan kesepakatan negaranya dengan AS dan Yordania mengenai gencatan senjata di Suriah selatan.

Tiga provinsi di bagian selatan Suriah merupakan satu di antara empat kawasan yang tercatat dalam memo “kawasan de-eskalasi” yang telah diteken Rusia dan Iran selaku sekutu Suriah, dan Turki selaku pendukung kubu oposisi di Astana, ibu kota Kazakhstan, pada 5 Mei lalu.

Pada pertemuan Rabu lalu (5/7/2017) tiga negara itu menjalin perjanjian lagi mengenai rincian batasan kawasan de-eskalasi.

Sementara itu, kelompok-kelompok ekstrimis bersenjata terlibat kontak senjata satu sama lain di kawasan Ghouta Timur Damaskus hingga menjatuhkan puluhan korban tewas dan luka setelah kelompok Jabhat al-Nusra menguasai lima area pertanian di daerah al-Asy’ari.

Para aktivis menyebutkan bahwa pertempuran berlangsung sejak Jumat lalu antara Jaish al-Islam di satu pihak dan al-Failaq dan al-Nusra di pihak lain. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL