ABC-assad davutogluLiputanIslam.com — Satu persatu, tokoh-tokoh penting yang memusuhi, memerangi, dan menghendaki Presiden Bashar al-Assad jatuh dari kekuasaan, ternyata menghadapi kejatuhannya terlebih dahulu.

Mulai dari jatuhnya Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, yang dikudeta puteranya sendiri Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, pada Juni 2013. LaLu jatuhnya Presiden Mesir Mohammad Morsi yang dikudeta oleh militer di tahun yang sama. Hillary Clinton tak lagi menjadi Menteri Luar Negeri AS, digantikan oleh John Kerry. Dan daftar tersebut bertambah, dengan mundurnya Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu.

Sedangkan Assad, masih bertahan sebagai Presiden Suriah hingga detik ini.

Davutoglu mengunjungi Assad, mengaku bahwa ia membawa pesan dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Ada enam perintah yang harus dilakukan oleh Assad jika ingin tetap aman, yaitu:

  1. Putuskan hubungan dengan Iran.
  2. Berhenti mendukung kelompok perlawanan Hizbullah Lebanon.
  3. Lakukan kesepakatan damai dengan Israel.
  4. Lepaskan Dataran Tinggi Golan sepenuhnya untuk Israel.
  5. Ubah konstitusi, berikan pengampunan kepada Ikhwnul Muslimin.
  6. Suriah harus membuka diri untuk perusahaan asing multinasional.

Tapi Assad menjawab dengan diplomatis,

“Saya rasa Anda adalah Menteri Luar Negeri Turki, bukan ambassador AS,” balas Assad. Saat pertemuan itu, Davutoglu masih menjabat sebagai Menlu Turki.

Karena Assad ‘bandel’, keras kepala dan tidak bisa didikte oleh AS dan sekutunya, maka meletuslah pemberontakan di Suriah pada Maret 2011. Perang telah berlangsung selama 5 tahun, rakyat dan Tentara Suriah bangkit melawan para teroris yang disponsori pihak asing. Assad yang diprediksi jatuh dalam hitungan minggu, ternyata terpilih lagi sebagai presiden dengan kemenangan mutlak.

Sebaliknya, musuh-musuh Assad berjatuhan satu per satu. Barangkali Assad memiliki kekuatan gaib untuk menumbangkan lawan? Sepertinya tidak begitu.

Atau apakah penyebab utama kejatuhan mereka adalah karena menentang Assad? Jawabannya juga tidak, dan hal itu merupakan salah satu bentuk kesesatan berpikir. Dalam kaidah logika, cara berpikir ini dinamakan post hoc, ergo propter hoc. Maksudnya, ketika seseorang “secara sembarangan” meyakini dua peristiwa yang terjadi secara berurut memiliki hubungan kausalitas. Hanya karena kejadian A terjadi setelah kejadian B, apakah berarti kedua kejadian tersebut memiliki hubungan kausalitas? Ketika setelah menonton film Ada Apa Dengan Cinta tiba-tiba kaki terasa sakit, apakah sakit tersebut karena menonton film?

Begitu juga dengan para penentang Assad yang tumbang terlebih dahulu, penyebabnya karena ada pergolakan politik di negara masing-masing. Namun fenomena ini tetap saja menarik. Manusia boleh saja melakukan segala tipu daya, namun Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL