nafs1Ulama-ulama Muslim menetapkan bahwa ruh, meskipun ia tersembunyi, adalah inti eksistensi manusia dan citra ilahi. Sebagai refleksi kehadiran Ilahi dalam manusia, ruh ini berhubungan dengan raga membentuk sebuah daerah perbatasan yang menghubungkan aspek fisik manusia dengan diri spiritualnya, yang disebut dengan nafs atau psike.

Nafs (jiwa) atau psike, adalah kehadiran ruh pada tataran manifestasi lembut, dan seperti dijelaskan Mulla Shadra, ia berfungsi pada materi melalui bentuk-bentuk atau kemampuan yang lebih rendah. Sedangkanmenurut Al-Ghazali, nafs atau jiwa mempunyai dua dimensi. Dimensi vertikal yang menghubungkannya dengan ruh, dan dimensi horizontal oleh fakultas-fakultas indra yang menghubungkannya dengan raga. Proses mental dan fakultas manusia, seperti kehendak, imajinasi, perasaan, sensasi, dan pikiran berkaitan dengan salah satu dari dua aspek ini.

Banyak pemikir Muslim tidak membedakan antara nafs dan ruh serta menetapkan keduanya sebagai jiwa, paling banter mereka membagi jiwa ke dalam kategori materi, nabati, hewani, dan insani atau rasional. Kategori-kategori ini disebutkan dalam filsafat Islam dan Yunani. Dilihat dalam konteks yang lebih luas, ia menjadi bagian alam nonmateri, sampai alam al-malakut dan secara eksistensi mempunyai bentuk, individual, dan natural. Pada manusia, ia sama dengan pikiran dan indra, juga dengan ruh atau jiwa binatang yang menjadi sumber gerakan dalam raga. Mereka merumuskan tahap-tahap perkembangan nafs sebagai berikut :

  1. Material nafs (nafs al-maddah), yaitu jiwa material atau kebendaan yang berfungsi sebagai pengatur pergerakan atom-atom pada setiap benda.
  2. Vegetative nafs (nafs an-nabati), yaitu jiwa tumbuhan yang terdiri dari fugsi nutrisi (nutrition), pertumbuhan (growth) dan reproduksi (reproduction).
  3. Animal nafs (nafs al-hayawan), yaitu jiwa kebinatangan yang memiliki dua fungsi. Pertama, fungsi penggerak (al-quwwah al-muharrikah; driving forces) yang terdiri dari kekuatan seksual/syahwat (al-quwwah al-syahwati)dan kekuatan marah (al-quwwah al-ghadabiyah). Kedua, fungsi persepsi (al-quwwah al-mudrikah; perceptual forces) yang mengandung kekuatan igatan, pemahaman, dan pemikiran, melalui dua tahapan yaitu persepsi indrawi (terdiri dari penglihatan, pendengaran, penciuman, pegecap, dan perasa) dan persepsi batin (seperti imajinasi, asosiasi, memori, ilusi dan inspirasi).
  4. Human nafs (nafs al-insani), yaitu jiwa rasional atau kemanusiaan yang memiliki fungsi utamanya adalah aktivitas itelektual seperti berpikir, abstraksi, generalisasi, dan berdalil (istidlal).

Dalam tradisi psikologi dan sufisme, nafs sering diterjemahkan sebagai personality, self, or level of personality development. Namun, Titus Burckhardt (1983) mendefinisikan makna-makna nafs yang berbeda sebagai berikut:

  1. An-nafs al-kulliyyah, yaituJiwa Universal yang mencakup seluruh jiwa individual. Ini sesuai dengan catatan amal yang terjaga dan menjadi pelengkap ar-ruh atau akal pertama dan analog bagi psikenya Filsafat Plotinus.
  2. An-nafs, yaitu jiwa, psike, realitas lembut seseorang, ‘diri’,yang tersusun dari beberapa jenis kecenderungan yakni :
  3. An-nafs al-hayawaniyyah: jiwa hewani, jiwa yang tunduk secara pasif pada dorongan-dorongan alam.
  4. An-nafs al-ammarah bi as-su’, yaitujiwa atau nafsu yang selalu mengajak manusia untuk berbuat kejahatan, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan. (QS. Yusuf 12: 53).
  5. An-nafs al-lawwamah, yaitu jiwa yang selalu mencela danmenyalahkan ketika kita berbuat kemungkaran. Misalnya, jika kita melakukan kejahatan kemudian di dalam diri kita ada yang menyalahkan dan meyesalinya, itulah nafsu lawwamah, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali”. (QS. Al-Qiyamah 75:2).
  6. An-nafs al-muthma’innah, yaitu jiwa yang selalu tenang dan damai yang merindukan kedekatan dengan ilahi,Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai…”. (QS. Al-Fajr 89: 27).

Para ahli seperti Suhrawardi dan Imam al-Ghazali juga menjelaskan kecenderungan-kecenderungan nafs dan menyamakannya dengan penyakit-penyakit spiritual, seperti : nifaq (kemunafikan), sombong, egois, serakah, gelisah, riya, dan lainnya.

Alquran juga menyebutkan bahwa pada hari kiamat manusia akan bersaksi atas nafs-nya sendiri (QS. Al-Qiyamah: 14). Ini menunjukkan, terdapat unsur atau entitas sentral pada manusia yang berada diatas hasrat-hasrat dan nafsu-nafsu, yang akan tetap hidup setelah kematian raga, dan akan eksis sebagai ruh individual sehingga dapat ditanyai tentang kehidupan duniawinya. Sesungguhnya, kita semua akan mengalami, dari waktu ke waktu, konflik antara kehendak dan nafsu.

Martin Lings (1988) telah menulis bahwa kekuatan kehendak merupakan milik ruh, sebab ia mentransendenkan nafs dan dapat mendorong manusia untuk bertindak bertentangan dengan nafsu dan kesenangan-kesenanganya.Karena kemampuan inilah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukannya. Karena itu, manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menjaga keseimbangan kecenderungan-kecenderungan yang ada pada dirinya dengan dikontrol oleh kekuatan akal pikiran dan kekuatan kehendak. Ketika akal dan kehendak menjadi raja untuk menjaga keseimbangan di antara kecenderungan, maka manusia akan menjadi tenang dengan dirinya, tetapi jika kecenderungan-kecenderungan ini dibiarkan menguasainya, maka ia menjadi lemah dan terasing. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL