Antrian panjang di TPS Hongkong (foto:Detik)

Antrian panjang di TPS Hongkong (foto:Detik)

Jakarta,LiputanIslam.com–Pilpres di H0ngkong sempat ricuh. Sekitar 500 WNI yang bermukim di Hongkong tidak bisa menggunakan hak pilihnya, lalu berdemo, dan bahkan meringsek pagar pembatas. Di jejaring sosial kemudian beredar berita bahwa kericuhan muncul akibat ada petugas KPU yang menyatakan akan membuka pagar bila WNI itu mau memilih pasangan capres tertentu.

Konsuler Jenderal (Konjen) untuk Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong, Chalief Akbar saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (6/7/2014) menyatakan bahwa ke-500 WNI itu tidak bisa menggunakan hak pilih karena tidak ada waktu lagi. Dalam surat undangan pemilu di Hongkong, tercantum waktu pencoblosan dari pukul 9.00-17.00.

“Ada tiga jalur. Antreannya panjang karena jumlahnya besar mencapai 25.137 WNI. Waktu kita tutup sudah tidak ada antrean,” ungkap Chalief.Mengenai informasi yang beredar di media sosial tentang penyeleksian calon pemilih yang akan mencoblos pasangan salah satu capres, Chalief tegas membantahnya.”Tidak ada, tidak mungkin itu. Di sana juga ada saksi, tidak benar. Kami mewanti-wanti untuk bersikap netral,” ucap Chalief.

Sementara itu, akun Cahaya Senja di Facebook, yang mengaku buruh migran di Hongkong, melimpahkan kesalahan pada para buruh migran yang tidak mau datang tepat waktu. Menurutnya, mereka tidak bisa memilih karena datang terlalu sore.

Seorang buruh migran lainnya, Fera Nuraini, dalam web pribadinya, www.feranuraini.com memberikan kesaksian berbeda. Fera datang sejak pukul 8.30 dan antrian sudah memanjang. Saat itu hanya satu antrian, sehingga WNI yang sudah mendapatkan undangan dan sudah jelas dalam undangan itu tertera nomor TPS serta jam berapa bisa nyoblos, bercampur dengan mereka yang belum terdata.

Hingga jam 10 pagi antrian bertambah banyak dan tak ada panitia yang memberi pengarahan, bahwa seharusnya WNI yang suda terdata bisa langsung masuk TPS tanpa perlu antri. Semakin siang antrian semakin memanjang. Padahal suasana sangat panas, mencapai 33 derajat dan sebagian WNI menjalani puasa. Akibatnya, ada 7 orang buruh migran yang pingsan dan dibawa ke tenda medis.

Menjelang sore, barulah jalur antrian ditambah. Namun membludaknya WNI yang ingin mencoblos (25.137 orang), padahal pada pileg yang lalu hanya 6000-an orang, membuat proses pencoblosan berjalan lama. Tepat pukul 17.00 pencoblosan ditutup, meskipun masih banyak yang belum mendapat kesempatan memberikan suaranya.

Menurut Fera, para buruh migran yang tidak bisa masuk TPS pun marah-marah, dan bahkan ada yang menangis. Sampai akhirnya mereka mendobrak pagar pembatas. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL