Foto: Metrotv

Foto: Metrotv

Jakarta, LiputanIslam.com  — Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Muradi, mengatakan tiga hari menjelang Pilpres pada 9 Juli, permasalahan yang mengancam terselenggaranyanya Pilpres yang bersih dan jujur adalah keraguan akan netralitas institusi keamananan.

Meski berulangkali pimpinan TNI, Polri, maupun BIN menegaskan bahwa ketiga institusi tersebut netral, namun dalam praktiknya, menurut Muradi, ketiga institusi tersebut tidak dalam posisi yang benar-benar netral.

“Manuver oknum dari tiga institusi keamanan tersebut di lapangan ditemukan berbagai indikasi ketidaknetralan yang berujung pada tercorengnya penyelenggara pilpres. Pengkondisian dan pengarahan dukungan untuk salah satu calon secara masif telah mencederai hakikat pelaksanaan pemilu itu sendiri,” kata Muradi, Minggu, 6 Juli 2014 seperti dilansir Beritasatu.

Langkah ini dimata Muradi, mengancam dua hal substansi, yakni, pertama, hasil pemilu tidak akan legitimate dan mengikat seluruh komponen bangsa. Sehingga potensi terjadinya penolakan atas hasil pemilu akan mengarah konflik yang merugikan seluruh komponen bangsa.

Kedua, tercederainya esensi institusi keamanan yang profesional, sehingga besar kemungkinan akan kembali di bawah kontrol rezim yang berkuasa untuk kepentingan penguasa.

Terkait dengan hal tersebut, institusi keamanan harus secara efektif memastikan bahwa personil dan anggotanya tetap berlaku netral dan menjaga jarak dari praktik politik saat ini.

Menanggapi masa tenang yang “tidak tenang”, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara. Ia menghimbau kepada kubu capres-cawapres agar tidak saling tuding dan tidak melakukan kecurangan dalam Pilpres.

“Jadi marilah kita dudukkah persoalan pada tempat yang benar, jangan terlalu mudah menuduh pihak A, pihak B melakukan kecurangan dan tidak netral,” tegas SBY dalam wawancara dengan Caosa Indriyani yang ditayangkan di http://www.youtube.com/watch?v=G8fvEN1TMYQ, seperti dikutip dari Metrotvnews.

Menurut SBY, masing-masing kandidat dan pendukungnya harus bersikap kesatria. Sebagaimana saat dia gagal mendapat posisi sebagai calon wakil presiden dari Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001. Dia pun berlapang dada menyampaikan selamat kepada Hamzah Haz yang mendapat suara terbanyak untuk mendampingi Mega. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL