prabowo titikJakarta, LiputanIslam.com —  Berbekal slogan ‘Isih Penak Zamanku To?’ Siti Herdianto Soeharto atau Mbak Titiek, berhasil lolos ke Senanyan. Konon, senyum Sang Jendral membuat masyarakat Yogyakarta rindu, hingga mereka pun mengamanatkan suara kepada putrinya, yang merupakan Caleg dari Partai Golkar nomor urut 1.

Pengamat politik dari LIPI, Indria Samego berpendapat bahwa lolosnya Mbak Titiek lantaran ‘penyakit rindu Pak Harto’. “Ada pemilih tradisional Golkar yang masih hidup dan rindu akan kepemimpinan Soeharto dan keluarganya. Sebagai orang Jawa, bibit, bobot, itu penting. Para pemilih tradisional yang hidup di pedesaan merasakan betul manfaat-manfaat atau karya pemerintahan di era tersebut. Bukan saja di Jawa, hal-hal seperti ini pun masih dirasakan cukup kuat di luar Jawa, seperti di Indonesia Timur,” katanya saat berbincang dengan detikcom, Senin (21/4/2014).

Menurut Titiek, keberadaannya di DPR akan  ia manfaatkan untuk  menghidupkan kembali program yang pernah jaya di era Pak Harto. Resep lama itu ia perkirakan akan kembali efektif. “Saya ingin ke pertanian, prihatin dengan segala impor-impor. Kita subur tapi kok kurang dapat perhatian. Bapak saya dulu juga memperhatikan itu. Kok sekarang kurang dapat perhatian,” kata Mbak Titiek di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakbar, Selasa (6/5/2014).

Bukan hanya sekedar lolos, Jubir Golkar Tantowi Yahya juga  menyebutkan bahwa Titiek berpotensi untuk menjadi Pimpinan DPR. “Kalau dibilang berpotensi sih memang betul, tapi di kita ada mekanisme penilaian yang nantinya menentukan apakah layak dijadikan Ketua atau Wakil Ketua DPR,” ujar Tantowi saat berbincang dengan detikcom, Senin (21/4/2014).

Tentunya, Mbak Titiek memang memiliki peluang menjadi Ketua DPR, sebagaimana Prabowo Subianto berpeluang menjadi Presiden Indonesia. Nah imbas dari kedua peluang ini, maka Indonesia juga berpeluang untuk pertama kalinya akan dipimpin oleh Presiden single dan Ketua DPR yang juga single.

Dengan demikian, peluang keduanya untuk bisa ‘rujuk’ juga terbuka. Tentu saja, rujuk yang dimaksudkan di sini adalah bukanlah rujuk sebagai pasangan suami istri, melainkan peluang rujuk sebagai pasangan pimpinan lembaga negara. Yang satu memimpin lembaga eksekutif, yang satunya lagi memimpin lembaga legislatif. (fa/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL