debat capres-1Jakarta, LiputanIslam.com–Rakyat Indonesia tadi malam memusatkan perhatian pada dua pasang peserta Pemilu Presiden 2014, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang melakukan debat dengan topik “Pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum”. Acara yang disiarkan secara langsung dari Balai Sarbini Jakarta ini memunculkan beragam tanggapan.

Menurut Burhanudin Muhtadi, tanggapan atas penampilan kedua pasangan sangat dipengaruhi oleh konteks yang mewarnai debat ini. Selama ini, Prabowo dicitrakan sebagai orator yang bagus, sementara Jokowi sebaliknya. Dalam dua penampilan Jokowi sebelumnya, yaitu dalam pengambilan nomor urut capres dan deklarasi damai, Jokowi memang kurang memuaskan. Akibatnya, muncul over-ekspektasi atau harapan yang berlebihan terhadap Prabowo dan sebaliknya, underestimate (merendahkan) kemampuan Jokowi.

Dalam dialog yang disiarkan live di Metro TV pagi ini (10/6), Burhanudin mengatakan, “Jokowi berhasil melampaui taget minimal pendukungnya. Mungkin karena dia sadar tidak punya kemampuan artikulasi, bukan orator, dia melakukan banyak persiapan. Sebaliknya, Prabowo terlihat  kurang persiapan. Hal ini  sebelumnya juga dinyatakan oleh Mahfud MD bahwa Prabowo memang tidak melakukan persiapan apapun karena sudah terbiasa berdebat.”

Burhanudin mengkritisi pernyataan-pernyataan Jokowi yang dinilainya kurang memberikan gagasan atau visi besar. Sebaliknya, Prabowo juga terlalu banyak bicara tentang visi besar, tetapi normatif, bukan hal-hal konkrit.

“Jika Jokowi selalu terjebak pada contoh-contoh yang terlalu mikro, yang tampil adalah dia seperti manajer, bukan leader. Publik ingin tahu bagaimana visi besar Jokowi.”

Selain itu, menurutnya, format debat kurang bisa menggali dan mengkontraskan pemikiran kedua kubu, sehingga, seolah-olah cerdas-cermat.

“Jokowi sebenarnya memiliki amunisi yang banyak, misalnya terkait koalisi gemuk kubu lawan. Bagaimana menciptakan pemerintahan yang bersih dengan koalisi yang begitu besar? Tapi tidak dimaksimalkan karena kekurangan kemampuan artikulasi. Tapi ya itulah Jokowi, publik tidak bisa berharap banyak,” ujar Muhtadi.

Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia ini menyarankan agar untuk debat berikutnya Prabowo lebih banyak melakukan persiapan.

“Penguasaan statistik yang selama ini sangat dikuasai Prabowo semalam nggak keluar. Itu bisa jadi kekuatannya saat berdebat,” kata Burhanuddin.(dw/metrotv live)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL