foto: kompas.com

foto: kompas.com

Jakara, LiputanIslam.com— Setelah islah, PPP langsung melakukan akrobat politik. Dari Gerindra, PPP menyeberang ke PDIP. Mukernas, yang menjadi ajang islah PPP, memang menetapkan koalisi kembali ke titik nol. Deklarasi dukungan Ketum PPP Suryadharma Ali ke capres Gerindra Prabowo Subianto dianulir.

Tim penentu arah koalisi dibentuk. Tim ini bertugas melakukan penjajakan koalisi PPP dengan semua partai, termasuk dengan PDIP dan Gerindra. Tim ini langsung bergerak, Dewan Pembina PPP Hamzah Haz, bersama tim penjajakan koalisi, Waketum Suharso Monoarfa, Senin (28/4) bertandang ke kediaman Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Usai pertemuan, sinyal-sinyal koalisi terpancar deras. “Ada peluang untuk itu (koalisi-red). Berdasarkan Mukernas di Bandung, partai yang pertama kali mengusulkan Jokowi menjadi capres itu PPP,” ujar Suharso usai pertemuan.

Ketua Bappilu PDIP Puan Maharani yang ikut dalam pertemuan itu juga memancarkan sinyal koalisi PDIP-PPP. “Bukan tidak mungkin PDIP membuka pintu komunikasi politik dengan PPP. Ini bukan pertemuan pertama tapi akan jadi pengikat pintu kerja sama ke depannya nanti,” ujar Puan.

Manuver Suharso dan Hamzah Haz ditanggapi dingin oleh Gerindra. Sekjen Gerindra Ahmad Muzani tetap tenang karena Suryadharma masih menjalin komunikasi dengan partainya. “Baik komunikasinya, sudah ketemu lagi sama Pak Prabowo. Formal lah baik sejauh ini,” kata Muzani di Founding Fathers House, Jalan Prapanca Raya, Kebayoran Baru, Senin (28/4/2014).

Namun tentu saja manuver PPP merapat ke PDIP ini membawa kenangan kisah pilu koalisi Gerindra-PPP. Kisah itu bergulir sekitar lima tahun silam, tepatnya menjelang Pilpres 2009. Kala itu, Suryadharma pernah bicara kuatnya dukungan internal PPP ke Prabowo. Dia juga kerap sowan ke Prabowo untuk membahas pencapresan. Jika menggunakan istilah ABG, saat itu Suryadharma dan Prabowo hampir ‘jadian’.

Namun ternyata mereka tak pernah ‘jadian’, Suryadharma memalingkan muka ke SBY. Jadilah saat itu Prabowo maju ke Pilpres 2009 bersama Megawati tanpa dukungan PPP. PPP memang belum tentu kembali ‘mengkhianati’ Gerindra. Hasil Mukernas menyepakati koalisi PPP dimulai dari nol. Koalisi dengan Gerindra bisa kembali dibangun. Namun melihat manuver terang-terangan PPP, bisa jadi ‘pengkhianatan’ itu kembali terulang. Akankah Prabowo dua kali dikhianati PPP? (fa/detik.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL