Foto: Tribun

Foto: Tribun

Jakarta, LiputanIslam.com — Pemimpin Redaksi Obor Rakyat, Setiyardi Budiono mengungkapkan alasannya mengenakan kemeja kotak-kotak yang identik dengan calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo. Mengapa?

“Kenapa saya pakai baju ini? Saya kebetulan adalah pemangku kepentingan di Jakarta. Saya milih dan miliki Gubernur yang sekarang maju capres,” ujar Setiyardi.

Setiyardi mengatakan, mengenakan kemeja kotak-kotak yang dulu dipopulerkan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama saat Pemilihan Gubernur 2012 lalu juga sebagai bentuk kekecewaannya terhadap pria yang akrab disapa Jokowi itu.

“Pak Jokowi tidak amanah dan ingkar kepada rakyat Jakarta,” kata Setiyardi

Terkait tulisannya yang dianggap mengandung unsur kampanye hitam, Setiyardi mengaku kecewa. Menurutnya, apa yang ditulis di dalam tabloid itu sebagian besar fakta dan fakta itu harus disampaikan ke masyarakat sehingga tidak salah pilih.

“Kita bukan pilih Lurah, Bupati. kita berupaya pilih Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan yang membawahi 240 juta rakyat. Kita harus dapatkan calon yang terbaik. Kita harus menguliti track record (rekam jejak) calon itu. Kalau enggak mau dikritisi, jangan mau jadi capres atau cawapres,” kata Setiyardi.

Lalu, mengapa Setiyardi Budiono mengirimkan tabloid tersebut ke pesantren-pesantren?

“Saya dengan rekan saya berpikir kami harus lakukan distribusi informasi. Tidak semua rakyat Indonesia beruntung, tidak semua orang punya akses internet.”

Setiyardi mengatakan, dengan keterbatasan jaringan internet itu, banyak masyarakat di daerah belum bisa mendapatkan informasi yang berkembang melalui situs-situs maupun jejaring sosial terkait suasana politik jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang.

“Ada banyak informasi yang berkembang di dunia internet itu tidak sampai kepada rakyat. Sebagian isi berita ini memang saya ambil dari internet,” kata Setiyardi.

Mengenai penyebaran, Setiyardi mengungkapkan dirinya telah mencetak sebanyak 100 ribu eksemplar yang sudah disebar di berbagai daerah di Indonesia. Soal biaya, ia enggan menjelaskan secara detail. Namun, seluruh produksi dan distrbusi menggunakan uang pribadinya sendiri.

“Jangan kira ini suatu yang sulit dan mahal. Alhamdulillah buat saya mampu. Saya berbisnis, punya beberapa bisnis lah. Saya komisaris di PTPN 13. Intinya, ini full rizki yang saya terima,” kata Setiyardi. (ba/tribunnews.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL