kaahil.wordpress.com

kaahil.wordpress.com

Jakarta, LiputanIslam.com — Kekisruhan di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akhirnya berakhir setelah dua kubu, yakni Ketum Suryadharma Ali (SDA) dan Sekjen Romahurmuziy (Romi) mencapai kata islah. Kesepakatan damai (islah) PPP dinilai tidak saja berdampak secara internal, tapi juga mempengaruhi optimisme parpol Islam lainnya untuk melanjutkan rencana koalisi.

“Jadi benar, islah PPP ini menjadi momentum bersejarah yang berefek kolektif. Bukan hanya kepada PPP tapi juga kepada partai Islam lainnya. Tadinya kalau mereka tetap pecah, kesatuan (koalisi parpol Islam) tetap pecah. Dengan islah ini, efeknya menimbulkan optimsime dari partai-partai Islam lainnya. Ini pelajaran berharga,” ujar pengamat politik Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fachry Ali saat berbincang dengan detikcom, Kamis (24/4/2014) malam.

Menurut Fachry, konflik yang terjadi di tubuh PPP bukan hanya terkait satu partai tapi juga berkaitan atau berpengaruh terhadap partai-partai Islam lain. Alasannya, jumlah suara 5 parpol Islam atau berbasis massa Islam berdasarkan hitung cepat sangat mengejutkan hingga mencapai 32 persen. Artinya, jika kelima parpol Islam ini bersatu dalam satu koalisi akan menentukan peta koalisi jelang Pilpres.

Fachry mengatakan, perpecahan di tubuh PPP juga tidak hanya disebabkan tindakan Suryadharma Ali yang ingin bergabung dengan capres Gerindra Prabowo Subianto, namun juga karena kuatnya kelompok di internal partai berlambang Ka’bah itu untuk lebih mengedepankan membentuk poros Islam.

Tindakan SDA, lanjut dia, harus dilihat dalam konteks kesejarahan pemilu 2009. Di mana pada waktu itu, menjadi titik anjak partai-partai Islam kurang menyadari untuk membagi pandangan yang sama, budaya yang sama di antara parpol Islam. Pengalaman ini yang menurut Fachry membimbing SDA memutuskan berkolaborasi dengan Prabowo sebelum Pileg. Namun ternyata hasil Pileg sementara menunjukkan hal mengejutkan, parpol-parpol Islam mengalami kenaikan suara, termasuk PPP. Di sisi lain, tidak ada satu

parpol pun, terutama parpol nasionalis yang memiliki suara paling dominan.

“Nah, faksi non-SDA ini dengan melihat besarnya suara itu melihat ada kemungkinan-kemungkinan lain yang harus dilakukan dengan tidak lagi melakukan pola kebimbangan di 2009. Kalau kita lihat arah mereka ingin membentuk kekuatan tersendiri di partai-partai Islam,” tuturnya.

Alasan koalisi parpol Islam, menurut Fachry, didasarkan pada pertanggungjawaban etik. Parpol Islam merasa berutang terhadap konstituen umat Islam yang telah menyalurkan suara politiknya kepada mereka. Konstituen parpol Islam adalah konstituen yang terorganisir atau organisasional, terdiri dari banyak ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Ini berbeda dengan konstituen parpol nasionalis yang lebih cair dan tidak terorganisir.

“Karena utangnya ke umat Islam, maka mereka ‘harus izin’ dulu kepada pemilik suara. Itulah mereka lebih cenderung membentuk koalisi alternatif dulu,” jelas pengamat dari LIPI ini.

“Jadi opsi mereka itu yang pertama bukan bicara capres dulu, tapi apakah mungkin membentuk koalisi sendiri, koalisi alternatif, memperkuat bergaining position, karena merekalah kunci koalisi,” pungkas Fachry. (ba/detik.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*