175807_124538_prabowohattarajasaJakarta, LiputanIslam.com – Kubu pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta menyatakan semakin bertekad untuk memenangi pilpres 9 Juli 2014, meskipun merasa semakin ditekan oleh kampanye hitam anti pasangan nomor urut 1 ini.

Dalam siaran pers Selasa (1/7/2014), Ketua Polonia Media Center Ariseno Ridhwan mengatakan, “Kenyataan bahwa elektabilitas Prabowo-Hatta terus meningkat semakin menguatkan serangan kampanye hitam. Banyaknya serangan yang ditujukan kepada Prabowo-Hatta justru akan semakin menguatkan kami untuk memenangkan Pilpres mendatang.”

Dia menjelaskan bahwa kmpanye hitam itu antara lain berupa isu pelanggaran HAM serta beredarnya uang berstempel Prabowo. Sedangkan yang terbaru adalah beredarnya rumor via SMS dan Blackberry Messenger bahwa Prabowo berniat membunuh Jokowi.

Ariseno memastikan bahwa kampanye hitam itu bertujuan menjatuhkan citra pasangan Prabowo-Hatta sehingga banyak kebohongan beredar terkait pasangan ini.

Dia mengaku pihaknya tidak akan tinggal diam menyaksikan intensitas kampanye hitam itu. Sebaliknya, mereka akan menempuh berbagai cara untuk melawannya, termasuk melalui jalur hukum.

“Timses Prabowo-Hatta akan melaporkan kampanye hitam ini kepada aparat berwajib untuk segera ditindaklanjuti,“ kata Ariseno.
Sementara itu, wartawan sejumlah media mengaku telah mendapat perlakuan kasar dari oknum panitia bernama Donny mereka ketika akan mengambil kartu identitas peliput kunjungan Prabowo di Yogyakarta,Selasa (1/7/2014).

“Saya bilang dari Kompas mau ambil ID. Tiba-tiba dia ngomong, ‘Kompas kan musuhnya Prabowo’,” kata fotografer Kompas, Ferganata Indra, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (1/7/2014).

Indra lantas mempertanyakan sikap tak menyenangkan tersebut, namun Donny malah menggebrak meja sambil membentak, “Kamu nantang saya?” Mendapati perlakuan demikian, Indra mengaku enggan melayaninya agar tidak berkelanjutan. Dia hanya dapat menyayangkan sikap itu dan menilainya tidak layak ditunjukkan oleh seorang panitia.

Selain Indra, wartawan Pito Agustin Rudiana dari Tempo juga mendapat perlakuan serupa. Dia mengaku ditanya apakah pro Prabowo atau tidak. “Saya ditanya sampai dua kali. Saya jawab keputusan itu ya saat di TPS,” kisah Pito.

Wartawan Metro TV mendapat perlakuan yang tak kalah kasarnya dari panitia. Dia diusir saat meliput di dalam lingkungan Kraton Yogyakarta, meski dia sudah mendapatkan tanda pengenal. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL