Foto: Tribunnews.com

Foto: Tribunnews.com

Jakarta, LiputanIslam.com —  Joko Widodo mulai “berani” berbicara setelah berminggu-minggu memilih untuk bersikap aku rapopo saat diserang lawan politiknya. Dalam sambutan pada Rakernas II Partai Nasional Demokrat hari ini, Jokowi menyindir koalisi partai politik yang dibangun Partai Gerindra dkk untuk memenangkan Pilpres. Jokowi, menyoal menteri utama yang akan diberikan oleh Prabowo Subianto untuk Ketua Aburizal Bakrie jika menang Pilpres.

“Ketemu, menterinya kurang, tambah menteri utama. Ada yang datang lagi, beri delapan kursi, dihitung-hitung ada 64 kursi. Padahal undang-undang itu ada 35 kursi,” kata Jokowi.

Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan cara bagi-bagi kekuasaan adalah tradisi lama. Menurutnya, koalisi yang dibangun PDI Perjuangan sama sekali tidak ada politik transaksional.

“Kita ketemu bukan urusan kursi menterinya berapa. Itu sudah tradisi lama, kita harus berani membangun nilai-nilai baru, tradisi-tradisi baru. Kalau enggak, kita akan seperti ini terus,” kata Jokowi disambut tepuk riuh peserta Rakernas.

Jokowi Kembali Menyindir di Markas SLANK

Bertandang ke markas SLANK, Jokowi kembali menyindir jabatan menteri utama. Kala itu, personil Slank merekomendasikan 46 nama sebagai kandidat menteri kelak Jokowi dan Kalla terpilih sebagai presiden.

“Nama-nama tersebut tidak usah saya sebutkan, karena sampai detik ini kita belum urus nama dan menteri. Karena urusan partai kita tanpa nama-nama, beda dengan yang dulu,” ungkap Jokowi saat memberikan sambutannya.

Jokowi mengaku tidak pernah memberikan garansi akan memasukan nama-nama menteri dari partai yang mengusungnya.

“Kalau ada yang datang minta menteri delapan, sudah enggak usah ke kita. Minta cawapres enggak usah. Belum-belum kenalan sudah minta menteri, apalagi menteri utama engga usah,” tegasnya seperti yang dilansir Tribunnews.com, (27/5/2014)

Jika Jokowi menang Pilpres, maka ia akan melelang posisi jabatan menteri, seperti diungkap Jawabannews, (26/5/2014).

“Tetap kita fit and proper test. Ada uji aspek leadership-nya, tes integritas, manajerial, dan lain-lain. Persis lelang lurah camat. Kalau saya kasih jatah menteri, semua partai pasti akan gabung ke kita. Tapi kan dari awal kita bilang maaf, koalisi tanpa syarat,” kata Jokowi.

Lelang jabatan mulai populer di masyarakat pasca pasangan maut Jokowi – Ahok, dengan dukungan DPRD DKI Jakarta melakukan sistem lelang jabatan untuk PNS yang akan naik jabatan, dengan harapan, kebijakan itu dapat meningkatkan profesionalisme kinerja dan mutu pelayanan birokrasi.

Semua pihak lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang memenuhi syarat yang dibutuhkan, diberi kesempatan untuk melamar pekerjaan sebagai pejabat Pemprov. Acuan lelang jabatan memang jelas, yaitu Surat Edaran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2012 yang mengatur tata cara pengisian jabatan struktural yang lowong secara terbuka di instansi pemerintah.

Jika Jokowi menang, akankah kita melihat kerumunan putra-putri bangsa yang berkompeten – melamar pekerjaan sebagai pembantu presiden? (ba/LiputanIslam.com)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL