Foto: Detikcom

Foto: Detikcom

Jakarta, LiputanIslam.com — Ginandjar Kartasasmita, tokoh senior Partai Golkar menyatakan dukungannya kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Mengapa?

“Di dalam kombinasi Jokowi-JK itu kombinasinya pasangan yang baik. Jokowi ini kan mantan walikota dan gubernur jadi untuk daerah luar biasa memahami. Pak JK tokoh nasional. Jadi Menkokesra, wapres. Beliau menyelesaikan masalah di Ambon, Poso dan Aceh padahal bukan bidangnya. Tokoh nasional dikombinasikan tokoh daerah, apalagi coba?” ujar Ginandjar, Senin (16/6/2014).

Ginandjar mengungkapkan alasan lain mendukung Jokowi. Menurutnya, Jokowi merupakan tokoh sederhana yang rendah hati dan jujur. Ke depan, Indonesia harus dipimpin oleh orang memiliki sifat seperti yang dimiliki Jokowi.

Lalu, bagaimana tanggapan Partai Golkar?

“Kalau ada senior-senior yang tak mengikuti sikap resmi Golkar, maka perlu dipertanyakan. Saya jamin itu bukan kepentingan objektif. Nggak tahu apa kepentingannya,” ujar Sekjen Golkar Idrus Marham.

Kepentingan objektif yang dimaksud Idrus yakni kepentingan partai demi kemajuan bangsa. Sedangkan kepentingan tidak objektif yakni kepentingan pribadi.

“Kepentingan objektif itu untuk kepentingan partai dan bangsa, bukan kepentingan pribadi,” kata Idrus.

Lebih lanjut, Idrus menyayangkan sikap Ginandjar selaku senior partai pohon beringin. Seharusnya, para senior bisa memberi contoh kepada kader yang lebih muda.

“Senior seharusnya memberi contoh kepada kami-kami ini, bagaimana seharusnya berpartai dan berorganisasi. Seperti Bang Akbar Tandjung (Ketua Wantim Golkar-red), begitu diambil keputusan dia taat, meski tadinya dia usulkan Golkar ke PDIP saja,” tutur Idrus.

Sejumlah kader Golkar, senior hingga junior, mengambil sikap mendukung Jokowi. Bermain di dua kaki, demikian tudingan berbagai pihak pada Golkar. Benarkah demikian? Apa kata Golkar?

Politisi Partai Golkar Tantowi Yahya berujar, partainya membuka peluang untuk meninggalkan koalisi yang dibangun dengan oleh Partai Gerindra jika pasangan yang mereka usung, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, kalah dalam Pemilu Presiden 9 Juli 2014.

Partai Golkar bisa saja masuk dalam pemerintahan dengan masuk ke koalisi yang dipimpin PDI Perjuangan dan mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla di parlemen. (ba/Detik.com/Tribunnews.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL